Jan 30, 2012

#2: Untuk wanita yang tak ingin ku sebut istri



Wanita, ini adalah tahun kelima pernikahan kita. Malam itu akan selalu menjadi malam terindah dalam hidupku, kau benar-benar membuatku bergairah, mengajari aku suatu kenikmatan yang tidak pernah berani untuk aku bayangkan. Kau yang aku harap akan bersikap seperti kucing manis, ternyata bersikap seperti singa lapar.
Kau membuatku bertindak seperti lelaki tolol yang tidak tahu apa-apa tentang tubuh wanita. Apakah kau tidak tahu bahwa selama kita bersama, aku hanya bisa membayangkan dan menebak-nebak apa isi dibalik bajumu?
Padahal sudah banyak orang yang menyuruhku untuk mengajakmu ke ranjangku dan mengatakan bahwa kau bukan orang baru dalam dunia sex. 

Aku sungguh terkejut dengan pernyatan teman-temanku tentang hal ini, mereka bahkan menyebutkan nama-nama pria yang pernah menjadi kekasihmu. Namun aku memutuskan untuk tidak mempercayai hal itu. Aku rasa itu hanya isapan jempol belaka, hanya rumor yang sengaja di ungkapkan mereka karena gagal mendapatkan dirimu.

Waktu itu, lima tahun tiga bulan yang lalu, aku benar-benar telah dimabuk cinta oleh wanita yang aku temui di pom bensin. Wanita yang masih menggenakan roll rambut di atas kepalanya, keluar dari mobil dengan sendal kamar berwarna pink di sebelah kiri dan sepatu flat hitam sebelah kanan, dengan kemeja broken white, dan hot pants berwarna merah. Kau berdiri di samping mobil sedan putihmu, sambil menunggu petugas yang sedang mengisi bensin mobilmu. Kau terlihat sedang terburu-buru, berulang kali kau melirik jam tanganmu, menghentak-hentakkan kakimu ke tanah. Setelah petugas selesai kau langsung memberikan uang seratus ribu dan tanpa menunggu kembalian kau langsung masuk ke mobilmu dan pergi dengan tergesa-gesa.

Lima menit setelah itu, sopir mobilku juga menghidupkan mesin dan meninggalkan pom bensin itu. Selama perjalanan menuju kantorku yang baru, aku masi mengingat bagaimana bibir mungilmu itu berkomat-kamit seperti membaca mantra, hidungmu yang mancung, dan matamu, sepertinya aku tidak bisa melihat jelas matamu, karena jarak kita tidak terlalu dekat.

Wanita, dihari yang sama, aku yang merasa bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi, ternyata mendapatkan hadiah kecil dari langit. Sepertinya langit telah mengutus malaikat cantiknya untuk menemuiku hari ini. Kau mengenakan pakaian yang lebih rapi kini, tidak ada lagi roll rambut di kepalamu, tapi seperinya kemeja di balik blaizer mu itu adalah kemeja yang sama dengan yang tadi. tidak ada lagi sandal tidur pink atau sepatu flat hitam itu, yang ada kini adalah stiletto hijau lumut yang senada dengan blaizer kamu. Dan kini aku bisa lihat matamu dengan jelas. Mata coklat yang berbinar, seperti menggambarkan kondisi hatimu yang riang. 

Pertemuan pertama kita itu berlanjut dengan pertemuan kedua dan seterusnya, karna kita berada di kantor yang sama dan kau adalah manajer HRD di kantor itu. Aku cinta padamu, itulah kata-kata yang aku harap tidak akan pernah aku ucap di hari ulang tahunmu. Aku masih belum sanggup untuk menerima penolakan darimu. 

Sungguh, walaupun roof top kantor itu jarang ada yang mengunjunginya, tapi aku benar-benar tidak sanggup menatap matamu lebih lama lagi, sungguh aku akan melompat dari atas gedung lantai 30 ini kalau kau sampai menolakku.


Ternyata kau memilih untuk menerima aku, dan kita pun menikah. Coba saja seandainya kau menolakku dulu, apa yang akan terjadi?


Apakah aku akan sehancur ini? Hancur karena aku tidak mendapatkan istri yang sempurna dan aku hanya mendapat istri bekas laki-laki lain atau hancur karena di tolak??


Entahlah... entah apa yang akan terjadi kalau kau menolakku, tapi waktu-waktu yang kita lalui bersama itu telah membuatku bahagia. Sangat bahagia. Tidak pernah aku temui lagi bahagia seperti itu.


Kau wanita yang aku inginkan sepenuh hatiku dulu, tapi setelah kenyataaan yang aku dapat itu sungguh sangat menghancurkan hatiku.


Kini kau adalah istriku, istri yang tidak aku inginkan lagi.


Salam,


Suamimu yang tidak mau menyebutmu istri


No comments:

Post a Comment