Jul 23, 2012

Hanya Mantan Bos! (2)

Aku rasa ini sudah keseratus kalinya aku melirik jam tanganku atau jam yang ada di dinding ruang rapat ini. Jarum pendek sudah nyaris menyentuh angka empat dan jarum panjangnya ada di angka sepuluh. Aku yakin pria itu pasti sudah ada di ruangan lain bersama asistenku, semoga saja asistenku baik-baik saja. Aku sudah berjanji untuk meeting dengan Raffael jam tiga sore ini, tapi ternyata meeting ini berjalan lebih lama dari prediksiku. Info terbaru dari hasil BBM-an dengan asistenku itu, Raffael mulai mengeluarkan cakarnya. 

Aku tahu pasti sekarang pria itu sudah hampir mau meledak, pertama karena aku terlambat dan harus meminta asistenku untuk menggantikanku. Semoga saja anak buahku itu mau memaafkan tindakanku yang melemparnya ke kandang macan.
Bu, tamunya cakep.
 

Begitulah BBM Jane, asistenku, sesaat setelah Raffael sampai di kantor.Hati-hati. Dia galak. Haha.  
Kalau secakep ini, gak masalah kalau galak, Bu. Tinggal di kedipin dikit, pasti leleh. 

Kalau tidak sedang meeting dengan para BOD, aku pasti langsung tertawa terbahak-bahak. Aku tidak bisa membayangkan Raffael akan di goda oleh asistenku, yang terkenal centil itu.
Aku hanya bisa berdoa agar Jane bisa menjinakkan Raffael. Walaupun kemarin Raffael terkesan jinak, tapi ntah mengapa perasaanku mengatakan hari ini dia akan menunjukkan belangnya. Dan perasaanku terbukti ketika lima menit yang lalu, asistenku kembali mengirimkan pesan.

Ibu, dia minta rancangan designnya. Saya tidak bisa menemukan filenya dari meja ibu. Apa yang harus saya lakukan? :(

Aku harus memutar otakku beberapa menit untuk mengerti rancangan design yang dimaksudkan bawahanku itu adalah Business Requirements Document. Tentu saja dokument itu belum aku buat, meeting dengan BOD ini lah yang nantinya akan menjadi patokanku untuk membuatnya. Sial. Pria itu banyak maunya, bukankah kemarin dia meminta detail proses bisnis, mengapa sekarang dia meminta BRD?

Bilang saja, saya sedang meeting untuk membicarakan BRD tersebut. Minggu depan BRD-nya akan di email padanya.

Dia mau sekarang, Bu. Walaupun masih sedikit, dia perlu gambaran awalnya. Baru saja dua menit berlalu dan Jane sudah membalasnya, dan dia menambahakan lagi. Dia akan menunggu ibu selesai meeting.

Ya sudah, sediakan saja makanan ringan untuknya dan suruh dia menunggu di ruangan saya saja. Lima belas menit lagi MUNGKIN meeting ini akan selesai

Aku sengaja menekan kata mungkin, karena aku tahu Raffael bukan orang yang suka menunggu. Semoga kali ini ada malaikat yang bisa menyelamatkanku dari amukan pria itu.

Thanks Jesus, hanya sepuluh menit kemudian aku bisa keluar dari ruang meeting yang walaupun dingin, tapi bikin kepala panas. "Gia, pastikan BRD kamu selesai sebelum jam makan siang hari Jumat, ya. Saya akan review ulang." Pak Joshua memang paling perfeksionis, semua pekerjaanku akan di cek ulang olehnya. Walaupun selama dia melakukan cek ulang, dia tidak pernah menemukan kesalahan yang berarti, tetap saja kebisaan itu tidak bisa hilang.

Aku hanya mengangguk pada atasanku itu dan pamit ke ruanganku. Aku bergegas menuju ruanganku, berharap Raffael tidak benar-benar berubah menjadi macan. Sekarang aku berdiri sambil membuka pintu ruanganku dan melihat malaikat, ups maksudku pria itu belum berubah menjadi macan. Dia berdiri di hadapan lemari ruang kerjaku, yang disitu aku pajang foto-foto sewaktu aku kuliah di Singapore, juga fotoku dan kelargaku. 

Raffael terlihat seperti malaikat kalau dari samping, dengan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, tangannya terlihat mengangkat salah satu bingkai foto. Kemeja biru muda itu sangat cocok dengan kulit putihnya. Hari ini dia terlihat lebih rapi dari kemarin, wajahnya lebih bersih dan tidak terlihat kusut. Semoga saja suasana hatinya sudah semakin baik.
 "Maaf sudah buat kamu lama menunggu, Raf."  Aku melihatnya badannya berputar kearahku sambil meletakkan foto itu kembali ke tempatnya. Mata itu menatapku tajam,
 "Selamat sore, Bu Gianina. Seingat saya kemarin Anda berjanji akan menemui saya jam tiga bukan?" Raffael melirik jam tangannya. "Dan sekarang sudah jam empat lewat lima menit."
 "Maaf, meeting tadi memakan waktu yang lebih lama dari perkiraan saya. Apakah asisten saya belum menjelaskan proses bisnis yang kamu minta?"  Yeahh, Jane memang sudah bilang kalau pria ini tidak mau medengar penjelasan apa-apa dari dia, Raffael hanya ingin BRD.
 "Aku rasa asisten kamu itu memang pintar, dia bisa menjelaskan proses bisnis sama detail seperti yang kamu jelaskan kemarin. Tapi apa kamu lupa apa yang aku minta kemarin."
 Ya Tuhan, aku mohon jangan biarkan pria itu melangkah terlalu dekat denganku. Cukup Rafe, kau hanya boleh berada paling dekat dua langkah dariku. Terakhir kali saat kau hanya sedekat lima centimeter dari ku sambil mengajariku beberapa syntax, kau membuat aku harus lembur karena konsentrasiku buyar dan aku tidak bisa menyelesaikan tugas darimu tepat waktu.
 Alamak! Pria ini memang tidak mengerti tata krama ya? Apa dia tidak tahu, bila dia berdiri terlalu dekat dengan wanita bisa membuat wanita terkena serangan jantung, gangguan pernafasan, dan keringat dingin. Sial. Kenapa malaikat yang satu ini selain mempunyai sayap, juga punya tanduk di kepalanya.
 "Aa.. Seingat saya, kamu minta dijelaskan ulang mengenai proses bisnis secara detail, bukan?"
 "Ya, tapi aku rasa aku juga menambahkan syarat lainnya dibelakang itu." Aku merasakan angin berhembus dari belakangku akibat pintu ruanganku yang ditutup oleh Raffael. Tangan itu tetap berada di daun pintu, sementara punggungku sudah melekat dengan daun pintu itu.
 "Em.. Maaf saya rasa ti-"
 "Aku minta kamu yang menjelaskan ulang padaku!"  Aku memejamkan mataku, ketika aku merasakan nafas Raffael di wajahku. Seharusnya aku membiarkannya tetap di ruang meeting, setidaknya ruangan itu memiliki dinding kaca tidak seperti ruanganku yang terbuat dari beton murni. Kalau di ruang meeting, aku yakin dia tidak akan berani berada sedekat ini denganku.
 "Tapi aku rasa tidak ada bedanya, toh asistenku bisa menjelaskan sama jelas seperti aku, bukan?"
 "Tapi aku cuma mau ka- Arrgghhh.." Dia menarik tangannya dari daun pintu dan memunggungiku sambil mejauh. Dia terlihat sedikit stress aku rasa. Tapi setidaknya sekarang aku bisa menenangkan jantung dan perutku yang nggak karuan ini.
"Tapi kalau dengan dia aku tidak bisa berdiskusi lebih detail. Kamu sudah yang lebih mengerti kearah mana aplikasi ini akan dibangun dan kamu dulunya adalah developer. Pasti akan lebih mudah berdiskusi denganmu, apa kamu tidak mengerti itu?"
Baru saja aku bernafas lega, tapi pria ini langsung menodongku dengan pernyataan nggak penting ini.

"Rafe, aku minta maaf kalau sudah bikin kamu mengunggu lama. Tapi aku juga tidak bisa meninggakan meeting begitu saja kan?"

"Kenapa kamu tidak menghubungiku dan bilang kalau kamu akan terlambat, hah?"
Mati aku. Aku nggak mungkin bilang kalau aku sudah menghapus nomornya dari ponselku.
"Apa kamu sudah tidak menyimpan kontakku?" Sial. Kenapa juga Bapak Raffael yang terhormat ini bisa tahu?

"Bukan itu. Hanya saja selama di Singapore ponselku pernah rusak dan aku kehilangan beberapa kontak." Dalam hati aku hanya bisa berdoa, agar ponselku tidak benar-benar rusak nantinya.

Bapak Raffael ini langsung merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya. Eh, sepertinya aku kenal dengan gantungan ponsel itu. Bukankah itu hadiah yang aku bagikan kesemua rekan satu timku sebelum aku resign. Gantungan itu berbentuk boneka kelinci, hanya saja untuk Raffael aku sengaja memilihkan kelinci yang sedang bermain gitar karna aku tahu dia mencintai alat musik itu.

Aku merasa ponselku bergetar di saku blazerku, aku melihat nomor yang tertera di layarnya.
"Itu nomorku. Simpan dan jangan sampai hilang lagi!" Widih.. ini mantan bos lebih galak dari bosku yang sekarang. Aku hanya melihat ulang nomor itu, lalu memasukkannya ke sakuku lagi.

"Sudah di save?"

"Belum. Nanti saja, bagaimana kalau kita kembali membahas mengenai BRD yang ka-. Kamu ngapain sih?" Aku marah saat dia tiba-tiba memasukkan tangannya ke saku blazerku dan mengambil ponselku. Aku mencoba mengambil ponsel itu dari tangannya, tapi dia malah berlari ke balik mejaku.

"Sebentar, aku save dulu nomorku, baru kita lanjutkan pembicaraan itu."

"Kamu nggak berhak melakukan itu!" Aku berhasil meraih ponselku dari Raffael. Raffael hanya tersenyum saat aku memasukkan ponsel itu kembali ke sakuku.

"I'm done." Aku mengira done maksud pria itu adalah dia sudah selesai memasukkan nomor ponselnya di contact phone-ku, tapi dia langsung berjalan kearah pintu.

"Maksudnya?"

"Sekarang kamu bisa hubungi aku kapan aja buat kasih tahu kapan BRD-nya selesai atau kapan pun kamu mau diskusi sama aku. Selamat Sore." 

Bamm. Pintu tertutup sementara aku cuma bisa bengong kayak orang bego. "Apaan sih tuh orang? Makin gak jelas aja, sih?"

Aku mengumpat dalam hati sambil mencoba menenangkan debaran jantungku. Baru lima menit aku tenang, tiba-tiba ada BBku bergetar. Mataku sampai harus berkedip beberapa kali untuk yakin kalau yang mengirim pesan beserta PING- itu adalah pria brengsek yang baru keluar dari ruanganku. Dan ternyata bukan hanya no HP, tapi juga pin BBM aku di invite. Great!
Nice DP. I like it.  

Perkenalkan itu adalah Beno. Anjingnya Raffael. Waktu itu ada acara futsal di kantor, jadi mantan bosku itu membawa serta anjing peliharaannya. Anjing lucu ini sedang menunggu tuannya dengan manis di bangku, karna aku memang pecinta anjing, akhirnya dia berakhir jadi DP-ku.

Tidak. Ini tidak ada hubungannya dengan siapa pemiliknya, murni ini karna Husky itu lucu. Cukup.


Yeahhh, I like it too.

I think he miss you.

Yaa.. I miss him too. Ya, aku memang lagi pengen main sama anjing. Nggak salah kan?

Mau ketemu sama dia?
Emm...  Kalau sama kamu boleh?

Sabtu jogging, yuk. 

Liat ntar deh, takutnya nggak bisa bangun pagi.

Aku bangunin.

Terserah..

Ya, terserahmu Bapak Raffael terhormat. Lagian kau memang jagonya maksa orang kan.

5 comments:

  1. Makin keren... makin serrruuu daripada seri yg pertama. God job Yuyu... Lanjutkaannnn!!! Jangan lama2 ya penasaran nih *agak maksa* mwehehe :p

    ReplyDelete
  2. Makasih atas dukungannya selama ini ya gadis2 maniss.. :)

    Tolong bantu sebarin jg, biar makin banyak yg bisa kasi penilaian... hehehe

    Oya Ras, itu utk kata Good, kurng 'o' hehehe

    ReplyDelete
  3. eh iyaa maaph Yu.. Good job maksudnya,terlalu bersemangat sih ini.. hahaha

    ReplyDelete
  4. yuuu,ini lanjut apa stop sampe sini??

    ReplyDelete