Pages

Sep 24, 2013

[Cerpen]Gegara Chicken Soup



Ita,sahabatku, menghadiahkan buku Chicken Soup for the Sister’s Soul sebagai hadiah ulang tahunku yang ketujuh belas. Agak menggelikan rasanya menerima buku ini. Mengingat aku hanya memiliki satu saudara perempuan dan anak itu masih berusia empat atau lima tahun. Aku tidak pernah tahu dan tidak berniat mencari tahu kapan anak itu lahir.
Ingin rasanya aku melempar buku itu ke tong sampah karena bagiku, buku itu tidak ada gunanya. Dia itu bukan saudaraku. Tapi bukan Ita namanya kalau tidak bisa memaksaku. “I am your sister too, dear.” Begitulah ultimatum Ita saat aku masih membiarkan buku itu menumpuk di rak bukuku tanpa kusentuh. Ya, bagiku Ita itu bukan hanya sahabat, tapi dia adalah saudara perempuanku.
Memiliki saudara perempuan itu bagai mempunyai sahabat yang  tak mungkin kita singkirkan. Kita tahu, apa pun yang kita lakukan mereka akan selalu mendampingi. – AMY LI
Aku memang setuju dengan kutipan di buku itu, hanya kalau saudara perempuanku itu adalah Ita. Tapi sayangnya tidak. Aku dan adikku itu memiliki satu kromosom X yang sama, sayangnya hanya satu; mungkin kalau kedua kromosom kami sama, aku pasti akan menyukainya.

***
Aku melepas masa ‘anak tunggal’-ku ketika berusia tiga belas tahun dan dengan kejam gelar itu berganti menjadi  ‘anak yang terbuang’. Semua itu terjadi ketika suatu malam, empat tahun yang lalu, Papa pulang ke rumah ditemani seorang wanita dan bayi. Dan dengan gampangnya Papa memintaku memanggil wanita itu dengan sebutan Mama Anna dan bayi itu adalah adikku.
Seperti sihir; semenjak malam itu aku pun kehilangan papaku. Tidak ada lagi papa yang kuanggap sebagai tempat sandaran hidup. Tidak ada lagi Papa yang memarahiku bila aku pulang lewat dari jam delapan malam, tidak ada lagi Papa yang menanyakan PR ku di jam makan malam. Bahkan biaya sekolah dan jajanku semuanya di atur oleh Mbak Nadia, sekretaris Papa.
I am Miss Lonely. Itulah sebutanku untuk diriku sendiri. Tidak mudah memang melalui hari-hari di rumah, tapi aku tidak mau menyerah. Berkali-kali aku berfikir untuk kabur dari rumah, tapi aku juga tahu untuk hidup di luar sana aku perlu uang. Untuk mendapatkan uang, aku perlu ijazah dan ilmu.
Akupun semakin giat belajar. Saat menjelang ujian kelulusan, aku memutuskan untuk masuk SMA yang memiliki asrama. Aku ingin keluar dari rumah yang sudah tidak menginginkanku. Aku pun memutuskan masuk ke sekolah terbaik, karena itu akan menjadi refensiku kelak untuk melanjutkan kuliah. Bukan hanya belajar; aku juga semakin rajin olah raga, karena untuk masuk asrama diperlukan ketahan fisik yang baik.
Papa tidak pernah berkomentar saat melihatku masuk ruang makan dengan baju yang sudah basah dengan keringat di Minggu pagi. Dia tetap santai menyantap makanannya dan sesekali bermain dengan anak kesanyangannya itu, Cinta Anindya Lituhayu.
***
Beberapa hari sebelum pengumuman kelulusan diumumkan, aku sudah memilki kartu hijau untuk masuk ke SMA tujuanku. Aku sudah dinyatakan lulus dari semua test untuk masuk sekolah tersebut.  Aku hanya perlu memastikan bahwa nama Karla Louisa Lituhayu ada di daftar kelulusan.
Dan aku memang lulus. Saat semua teman-teman sekolahku merayakan malam perpisahan aliasprompt night yang menurut hanya acara fashion show yang menghabiskan uang orang tua; aku malah menyusun semua barang-barangku ke dalam koper besar. Aku belum memberi tahu Papa mengenai keputusan yang sudah ku ambil ini dan aku memang tidak berencana untuk memberitahunya.
All my bags are packed I'm ready to go. I'm standing here outside your door. I hate to wake you up to say goodbye.
Keesokan harinya, aku memberanikan diri untuk pamit pada Papa. Dulu ketika aku berusia enam tahun, aku tidak perlu mengetuk pintu untuk masuk ke kamar Papa atau merasa takut pada orang yang ada di dalam sana, karena Mama dan Papa akan selalu merentangkan tangan mereka untuk menyambutku.
Sekarang dengan semua sisa keberanianku, aku pun mengetuk pintu itu. Aku menunggu hingga bebrapa menit, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya aku mengetuk pintu itu semakin keras. Langsung saja ketukanku disambut dengan suara tidak senang.
Papa yang membuka pintu itu dan ketika dia melihatku, dia langsung memasang wajah tidak senang.
“Apa mau mu? Ini masi pagi, dasar anak tidak tahu sopan satun!”
 Itulah kali pertama Papa membentakku. Ingin rasanya aku berteriak balik, tapi aku tahu tidak ada gunanya. Sambil menggigit bibir bawahku, aku menyerahkan berkas-berkas kelulusan dan sekolah baruku.
“Aku tidak bisa menghubungi sekretaris Papa, tolong sampaikan surat itu pada dia agar dia bisa mengatur pengeluaran untukku.”
Bukan kalimat ini yang ingin aku ucapkan untuknya. Awalnya aku mau bilang, Papa aku sudah lulus dan akan melanjutkan SMA, doakan aku ya. Tapi kalimat itu tidak akan pernah aku ucapkan. Aku terlalu sombong atau mungkin hatiku terlalu sakit.
***
Periode baru kehidupanku pun dimulai. Kehidupan asrama tidaklah semengerikan yang dikatakan kebanyakan orang. Walaupun sistem senioritas sering menyulitkanku, tapi aku tidak pernah memusingkannya. Hal yang paling menjengkelka itu adalah bila atas dasar kesalahan satu orang temanmu, maka kami harus dihukum bersama dia.
Hal yang paling aku syukuri di sekolah ini adalah Ita. Puspita Citra adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, kedua kakaknya adalah laki-laki. Setelah menghabiskan waktu satu bulan di kamar yang sama aku merasa nyaman dengannya.
Kami saling berbagi suka, terkadang dia juga menceritakan dukanya padaku. Hanya saja aku belum terbiasa berbagi duka dengan orang lain. Namun perlahan akupun menceritakan kondisi keluargaku padanya. Aku mengira dia akan mengasihaniku, tapi ternyata tidak. Dia memelukku dan menangis bersamaku. Diantara semua air mata yang pernah aku keluarkan, baru kali itu aku merasa lega, rasanya sebagian bebanku hilang.
Ita memintaku untuk memaafkan Papa. Permintaan yang sedikit tidak masuk akal dan aku rasa, aku tidak bisa melakukannya.
 “Kamu tidak boleh membenci Papamu hanya karena kamu merasa tidak diperhatikan. Apapun yang terjadi, dia tetap Papamu dan kalian sudah  memalui masa-masa bahagia yang lebih lama dibandingkan masa kepahitan ini, La. Ingat sedari kecil dia selalu mencintaimu, mungkin saat ini cinta itu sedang di uji. Bersabarlah dan jangan pernah tinggalkan Papamu. Semuanya indah pada waktuNya, La.”
Mau tidak mau ada sebagian dari hatiku yang mengakui kebenaran ucapa Ita. Walaupun disakiti, tapi dia tetap ayahku dan dalam hati aku meyakinkan diriku sendiri kalau cinta Papa padaku masih ada dan aku pasti bisa mendapatkannya kembali.
***
Liburan kenaikan kelas tentunya membawa suasana keceriaan di asrama. Semua teman-temanku sangat bersemangat menyiapkan kepulangan mereka. Ita juga terlihat bahagia,tidak henti-hentinya dia bercerita tentang kenakalan kakak-kakaknya dan kerinduannya pada kedua orang tuanya. Aku pun ikut tersenyum mendengar ceritanya, walaupun dalam hati aku ketakutan. Aku tidak mau pulang. Aku belum siap.
“Kalaupun nanti Papa kamu tetap cuekin kamu, tetap tersenyum dan bersikaplah sebagaimana seorang anak harus bersikap. Jangan menyerah dan jangan menangis. Percayalah Papa kamu masih menyanyangimu.” Ita dan kebijaksaannya seperti pelita bagiku, memberiku harapan yang sepertinya sudah hilang.
***
Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau menangis. Papa dan keluarga barunya tidak ada dirumah,menurut pembantu mereka sedang liburan ke Bali.
Aku bersyukur karena aku lebih beruntung dari anak itu. Saat aku berusia empat tahun kedua orang tuaku sudah membawaku ke Eropa, sedangkan anak itu hanya ke Bali. Dalam hati aku tertawa sekaligus menangis. Menangis karena merindukan Papa.
***
Mama dulu sering mengatakan, ‘Cinta itu bisa mengubah dunia dan cinta lebih kuat dari apapun’. Saat itu aku baru berusia lima tahun dan aku tidak mengerti apa artinya. Tapi seiring dengan bertambahnya usiaku, aku mulai mengerti.
Cinta yang dimaksudkan Mama bukanlah cinta yang hari ini ada dan esok hilang, tapi cinta yang selalu ada di hati dan tidak pernah hilang, walaupun orang yang kita cintai menyakiti kita.
‘Kasihilah kedua orang tuamu supaya lanjut umurmu di bumi yang diberikan Tuhan padamu’. Setiap hari minggu aku sering mengulangi kalimat itu dan perlahan aku membiarkan kalimat itu meresap dalam hatiku agar aku kembali mencintai Papa.
***
Liburan kenaikan kelas datang lagi, setelah dua tahun tanpa komunikasi dengan Papa, aku semakin merindukannya. Kini aku sama bersemangatnya dengan Ita, kami rindu rumah. Walaupun nanti mungkin saja aku tidak akan bertemu dengan Papa, tapi aku ingin pulang. Setidaknya masih ada kenanganku bersama Papa di rumah itu.
Seperti tahun lalu, tahun ini aku juga dijemput oleh supir. Begitu memasuki komplek perumahan kami, aku melihat ada bendera kuning.  Awalnya aku tidak peduli, tapi saat melihat bendera yang sama di depan rumahku, aku ketakutan.
Bukan Papa. Aku mengulangi kalimat itu di hatiku. Aku belum memaafkan Papa dan aku tidak akan memafkannya kalau dia pergi begitu saja.  Tidak akan.
Aku ingin bertanya pada supir, tapi aku tidak punya tenaga untuk bertanya. Begitu mobil berhenti, aku langsung keluar dan berlari ke dalam rumah. Aku tidak peduli dengan tatapan heran ataupun kasihan dari semua tamu yang ada di situ.
Aku mengutuki ruang tamu yang luas ini, berkali-kali aku tersandung karena banyaknya tamu yang datang. Aku berlari menuju kerumunan orang-orang berpakaian hitam yang mengelilingi jenasah di tengah ruangan itu. Belum lagi aku sampai ke jenasah, aku merasa ada sepasang tangan yang menarikku.
“Karla, Mama Anna sudah meninggal. Dia mengalami kecelakaan ketika jemput Cinta.”
Aku tidak memperhatikan kata-kata Papa, aku bersyukur karena masih bisa melihat Papa berdiri diatas tanah. Aku langsung memeluk Papa dan menangis. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hangatnya pelukan ini.
“Karla sayang Papa.” Aku memaafkanmu, Pa. Papa tidak menjawabku tapi dia memelukku semakin erat dan mencium puncak kepalaku.
Selama acara pemakaman berlangsung, aku hanya melihat gadis kecil yang sekarang berusia empat tahun itu. Apakah dia tahu bahwa kini kehidupannya telah berubah. Apakah dia mengenal aku? Apakah dia tahu apa yang sudah dilakukannya padaku?
Ada satu kisah yang paling aku suka di buku Chicken Soup dari Tia, tentang seorang adik yang rela membotak kepalanya demi menghibur dan menyemangati kakaknya yang terkena kangker. Dari satu kisah berlanjut ke kisah lain, akhirnya aku sadar kalau anak kecil itu sama dengan aku. Kami kehilangan ibu kami dan kini tumpuan hidup kami hanya Papa.
Aku tidak ingin dia merasakan kesedihan dan kepahitan yang sama denganku. Walaupun kini dia tidak tahu aku ini kakak tirinya, tapi aku ingin menjadi seseorang yang berarti untuknya. Aku juga ingin menjadi seseorang yang berarti untuk Papa.
Aku juga memaafkan Mama Anna, walalupun kami tidak pernah berinteraksi, tapi aku membencinya karena telah mengambil Papa.
Saat Mama Anna di masukkan ke liang kubur, aku melihat Papa dan ternyata Papa juga sedang melihat kearahku. Dia terseyum padaku dan aku pun tersenyum balik. Semoga saja ini adalah awal yang baik untuk keluargaku. Keluarga baruku, karena sekarang ada Cinta diantara aku dan Papa.

 

NB: Cerpen ini menjadi cerpen terbaik untuk  #ALoveGiveaway yang diselenggarakan oleh Retha


No comments:

Post a Comment