Pages

Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Feb 11, 2018

Bukan Mr. Stranger [2]

 

"Jadi kenapa kau mengajakku ke cafe ini, sementara kita bekerja di mall dengan banyak tempat ngopi?"

"Aku rasa sudah cukup jelas, Pak. Aku tidak ingin ada yang melihat kita berdua sedang bersama. I just... " Aku mengangkat kedua tanganku pertanda menyerah karena aku benar-benar tidak ingin ada yang tahu bahwa aku pernah menggoda bosku. Damn! Menggoda? Arrghhh...

Dec 20, 2017

[Cerpen] Bukan Mr. Strangger


Kindness is like coffee. It awakens your spirit and improves your day.

"Caramel Macchiato hangat satu ya..."

Sambil menunggu antrian pesanan yang panjang, aku menyebarkan pandanganku mencari bangku kosong untukku. Semua bangku di toko kopi terkenal ini hampir penuh, ada beberapa yang kosong tapi aku tidak yakin apakah aku bisa mendapatkannya atau tidak. Baru saja ada beberapa kumpulan remaja yang melewatiku dan menyebar mencari tempat duduk, di depanku juga ada tiga orang yang sepertinya senasib denganku. Sendirian dan sedang menunnggu hujan reda.

Aku melihat jam tanganku, sudah jam sepuluh malam dan diluar sana hujan masih deras. Antrian taxi sudah aku pastikan sangat panjang, daripada aku menunggu sambil berdiri lebih baik aku minum segelas kopi untuk meredakan kekesalan hari ini. Bagaimana tidak kesal coba? Jam tujuh malam aku sudah bersiap untuk pulang, komputer sudah aku matikan dan tas kerja sudah aku gantungkan dibahuku ketika bos muncul dan...

"Lita, tolong laporan yang untuk senin diselesaikan hari ini, kirimkan ke saya kalau sudah selesai!" Bayangkan saja, sekarang hari Jumat dan pekerjaan untuk minggu depan harus diselesaikan hari ini? Mana laporan itu sama sekali belum aku sentuh! 

Aku mematikan kembali komputerku di jam setengah sepuluh malam. Aku meninggalkan bosku yang masih sibuk dengan semua email-email ataupun pekerjaannya yang lain. Itulah nasib orang yang bergaji besar, tanggung jawab juga makin banyak.

Jam sepuluh malam dan di sinilah aku berakhir, mengantri di kedai kopi terkenal. Di luar sedang hujan deras, dan antrian taxi juga sangat panjang. Daripada menunggu sambil kedinginan lebih baik menunggu ebrsama kopi kopi hangat. Lagian, besok tidak ada janji yang akan dikejar, hanya ada kasur dan yang akan menemahi hari Sabtu malasku.

"Kak Lalita, Caramel Macchiato." Aku mengambil minumanku dan melangkah lebih cepat ke kursi itu. Satu kursi kosong yang ada di depan jendela besar dengan meja panjang yang sudah hampir penuh dengan individu yang sedang menanti. Menanti redanya hujan, ataupun menikmati bahagia bersama aroma kopi. Untungnya aku lebih cepat dari wanita di depanku tadi, sehingga aku sekarang bisa melihat jendela yang dibasahi tetesan hujan dan juga lampu-lampu kemacetan Jakarta. 

Aku menggenggam minumanku dan membiarkan hangatnya mengalir dari telapak tanganku hingga ke dalam hatiku. Setidaknya hangat itu dapat menukar rasa kesal dihatiku. Aku menikmati wangi kopi dan manisnya macchiato, aku memejamkan mataku agar kenikmatan itu dapat mengalir jantungku, kepalaku, dan seluruh sel-sel ditubuhku.

Di luar masih hujan deras dengan kemacetan Jakarta yang gak ada ampunnya. Aku melirik jam lagi, baru sepuluh menit aku menunggu tapi rasanya seperti sudah dua jam. Aku membuka ponselku dan membuka social mediaku satu-persatu. Di path pada ramai posting mie rebus yang terlihat lezat, di facebook penuh dengan sharing tentang agama dan politik, instagram penuh dengan postingan orang jualan. Bosan!

Aku kembali minum kopiku yang sudah hampir dingin dan isinya tinggal setengah tapi hujan masih terlihat deras. Aku menopang daguku dengan tangan kanan sambil bersenandung mengikuti lagu yang sedang diputar di kedai kopi ini. 

"Permisi, saya boleh duduk di sini, ya... " Seorang pria membawa kursi dari meja lain dan memaksakan dirinya duduk di antara aku dan pria lain yang tadi di sampingku. Jelas saja aku langsung mengerutkan keningku. Jelas-jelas tempat aku duduk sudah terlalu sempit untuk ditambah dengan satu orang asing lagi, tapi dia tetap saja kekeuh untuk duduk di situ.

Feb 20, 2015

[Cerpen] Satu Maaf untuk Purnama

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Bukan sekali ataupun dua kali, ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Sayangnya, kejadian itu terjadi tepat di waktu pergantian hari, ketika aku memeluk kenyaman dan meninggalkan semua lelahku.

Pagi harinya, aku tidak sempat menghubungi kembali nomor itu. Kesibukan ibu kota sudah berteriak padaku, apalagi dengan kondisi aku sudah terlambat satu jam untuk ke kantor. Jangan nomor yang tidak dikenal itu, perutku yang meraung-raung pun aku hiraukan. Jelas saja, karena singa yang di kantor itu mengaumnya lebih keras daripada perutku.

May 27, 2014

[Cerpen] Too much Rachel!

Senin, jam 8 malam waktu setempat

"Kamu dimana?"

Seberapa sering aku ingin mengirimkan pesan ini. Seberapa sering kali aku menghapus layar ponselku dan batal mengirim pesan itu.

Kamu si gadis aneh yang sudah menghiraukanku selama satu tahun ini. Kamu dimana! Di negara bagian mana? 

Kau hanya mengatakan kalau kau ingin pergi keluar negri. Tidak memberitahukan ke mana dan berapa lama. Aku sakit, sakit karena tidak bisa bahagia. Semua kesibukan ini hanya bisa mengalihkan pikiranku beberapa saat, tapi ketika aku terhenti dari segala kesibukan ini maka kenanganmulah yang muncul.

Wajah bahagiamu setiap kali kau melihatku. Senyummu setiap kali aku menyentuhmu. Caramu memainkan rambut ikalmu, caramu menekukkan mulut setiap kali aku menggodamu.

Wanita yang setiap kali aku marahi, hanya akan tersenyum dan tidak pernah takut dengan segala amarahku, karena dia hanya takut kalau aku memecatnya. Si wanita miskin yang selalu merapikan meja kerjaku, si wanita yang berbeda 180 derajat dari model-model yang bekerja di perusahaanku, si wanita yang tidak tahu apa bedanya eye liner dengan maskara.

Wanita miskin yang akhirnya berhasil menggumpulkan uang untuk keliling dunia. Mengejar mimpi masa kecilnya. Kau dimana, wanitaku?

Sep 24, 2013

[Cerpen]Gegara Chicken Soup



Ita,sahabatku, menghadiahkan buku Chicken Soup for the Sister’s Soul sebagai hadiah ulang tahunku yang ketujuh belas. Agak menggelikan rasanya menerima buku ini. Mengingat aku hanya memiliki satu saudara perempuan dan anak itu masih berusia empat atau lima tahun. Aku tidak pernah tahu dan tidak berniat mencari tahu kapan anak itu lahir.
Ingin rasanya aku melempar buku itu ke tong sampah karena bagiku, buku itu tidak ada gunanya. Dia itu bukan saudaraku. Tapi bukan Ita namanya kalau tidak bisa memaksaku. “I am your sister too, dear.” Begitulah ultimatum Ita saat aku masih membiarkan buku itu menumpuk di rak bukuku tanpa kusentuh. Ya, bagiku Ita itu bukan hanya sahabat, tapi dia adalah saudara perempuanku.
Memiliki saudara perempuan itu bagai mempunyai sahabat yang  tak mungkin kita singkirkan. Kita tahu, apa pun yang kita lakukan mereka akan selalu mendampingi. – AMY LI
Aku memang setuju dengan kutipan di buku itu, hanya kalau saudara perempuanku itu adalah Ita. Tapi sayangnya tidak. Aku dan adikku itu memiliki satu kromosom X yang sama, sayangnya hanya satu; mungkin kalau kedua kromosom kami sama, aku pasti akan menyukainya.

Jun 3, 2012

[Cerpen] Like Mother, Like Daughter


Kukecup kening putraku setelah aku mendengar dengkur halusnya. Dia sangat mirip dengan papanya, begitu menyentuh bantal, langsung pulas. Berbeda dengan putriku, si sulung ini hanya akan tertidur setelah membaca sesuatu. Itulah sebabnya dingding kamarnya didominasi oleh rak buku yang tingginya hingga ke langit-langit.Aku keluar dari kamar putraku dan melangkah menuju ruang tamu yang ada di lantai bawah, aku menyalakan TV sambil menunggu suamiku pulang. Hari ini dia ada meeting dengan kliennya hingga malam. Sedangka putri kami sedang menginap di rumah sahabatnya, rencananya mereka akan mengadakan pijamas party. Melihat putriku yang semakin dewasa, aku jadi semakin merasa tua. Putriku akan berulang tahun yang ketujuh belas tahun depan, tapi diusia seperti ini, aku belum pernah melihatnya jalan bersama seorang pria. Sejujurnya aku sedikit khawatir dengannya. Walaupun aku dan papanya tidak pernah melarangnya untuk berhubungan dengan pria manapun, tapi entah mengapa sampai sekarang dia belum pernah membawa seorang laki-laki ke rumah ini. Jam dingding sudah menunjukkan angka sepuluh, sedari tadi aku masih sibuk memilih acara TV yang mau ditonton, tapi belum menemukannya. Akhirnya aku mematikan TV dan ingin berbaring di kamar saja. Begitu meletakkan remote TV, aku mendengar pintu masuk terbuka dengan kasar. 
"Masuk!" Aku mendengar suara suamiku berteriak. Selama pernikahanku, aku belum pernah mendapati suamiku semarah ini. Dia menarik kasar putri kami melawati pintu rumah.
"Astaga... Kakak?" 

May 15, 2012

[Cerpen] Kisses don't lie



Kisses don't No they don't Never don't lie You can run if you want but you cant hide Telling you its the truth don't you ask why~ Rihanna - Kisses don't lie ~

Rasanya seperti coklat, begitu lidahku menyentuhnya aku akan memejamkan mataku untuk menikmatinya, setiap rasa manis yang meleleh di lidahku. Aku biarkan rasa manis itu berlama-lama ada di mulutku. Hingga saat dia menarik bibirnya, aku ingin bibir itu kembali lagi. Memberikanku rasa manis itu. Memberikanku kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan.

Mata nya menatapku, mencoba mencari sesuatu. Tidak. Aku tidak akan pernah memberikan jawaban itu. Biarlah hanya aku dan hati ini yang tahu faktanya.
"Say it.." 
"No!" aku mencoba berteriak, padahal suaraku mungkin terdengar seperti desahan. 
 "Liar!" 
Dia memberikan coklat lagi, tapi kali ini rasanya bercampur keju. Rasanya lebih nikmat, apalagi kini tangannya tidak hanya diam. Dia mulai menyentuhku. Di tempat favoritku, dimana aku selalu merasa dimanja dengan jari-jari panjang itu.
Kini tubuhku, bersandar sepenuhnya di dingding dingin apartemennya. Tapi dinginnya dinding itu tidak bisa meredakan panas yang kini mulai menjalar di tubuhku. Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Besok adalah hari pernikahanku. Aku tidak boleh ada di sini lebih lama lagi.
"Stop!" Aku berteriak, dan kali ini sungguh-sungguh berteriak. Aku mendorongnya sejauh mungkin dari tubuhku, walaupun jauhnya hanya sepanjang tanganku. Aku mencoba mengatuh nafasku yang sudah seperti orang yang habis lari.
"I must go! Urusan kita dah selesai Dion.. " Aku melangkah menjauhinya menuju pintu apartemen itu. Aku memaksa otakku untuk fokus ke pintu, sementara hatiku masih ingin menuju kasur lembut pria itu. 
Baru melangkah beberapa langkah, tanganku ditariknya dan dilemparkannya tubuhku ke atas kasur. Dalam hati aku merasa nyaman, tapi sekali lagi kesadaran bahwa besok aku akan jadi istri orang lain harus tetap aku pertahankan.