Feb 20, 2015

[Cerpen] Satu Maaf untuk Purnama

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Bukan sekali ataupun dua kali, ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Sayangnya, kejadian itu terjadi tepat di waktu pergantian hari, ketika aku memeluk kenyaman dan meninggalkan semua lelahku.

Pagi harinya, aku tidak sempat menghubungi kembali nomor itu. Kesibukan ibu kota sudah berteriak padaku, apalagi dengan kondisi aku sudah terlambat satu jam untuk ke kantor. Jangan nomor yang tidak dikenal itu, perutku yang meraung-raung pun aku hiraukan. Jelas saja, karena singa yang di kantor itu mengaumnya lebih keras daripada perutku.
Tepat di jam makan siang, dua belas jam berlalu, aku baru sempat memperhatikan semua pesan-pesan yang masuk di ponselku. Jelas aku lebih mendahulukan pesan di WhatsApp, BBM, path, facebook, twitter, dll, daripada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. Lagian, kalau orang tersebut memang perlu, tentu dia akan menghubungi lagi. Toh, sampai sekarang nomor yang sama belum menghubungiku lagi.
 
Setelah makan siang, akupun kembali tenggelam di antara antrian meeting berantai. Sebagai presenter di-meeting terebut, tentunya aku tidak punya waktu untuk selalu melihat handphone-ku. Pukul tujuh malam, handphone-ku sudah mati total karena tidak di-charger dan aku masih harus menemani sang bos dinner meeting dengan rekannya dari Jepang.
 
Pukul sepuluh malam, aku menyuplai iPhone kesanganku dengan kebutuhan pokoknya. Listrik. Aku tinggalkan benda itu untuk menenangkan otot-otot tubuhku dari semua lelah mencari segenggam berlian. Aku memanjakan tubuhku didalam hangatnya air dan ditemani wewangian lavender yang sangat aku suka. Aku bahkan memasang lagu-lagu klasik kesukaanku.
 
Begitu selesai mandi, aku lebih tergoda untuk mengambil buku Timothy Keller yang sudah sebulan lebih tidak pernah selesai aku baca. Aku baru membaca kalimat pertama di buku itu, dering ponsel menggangguku. Nomor baru. Aku tidak tahu itu siapa dan aku tidak punya gambaran siapa orang disebrang sana.
 
“Hallo.” Sapaku dengan nada suara sedatar mungkin.
 
“Selamat malam, saya Dokter Carlo dari...” Dia menjelaskan di rumah sakit mana dia bekerja, spesialis sesuatu yang diterjemahkan oleh otakku sebagai dokter jiwa, dia memastikan bahwa dia tidak salah menghubungi orang dan...  “salah seorang pasien saya ingin bertemu dengan Anda, saya harap Anda dapat meluangkan waktu Anda.”
 
Aku terdiam. Semenit, mungkin. “Hallo..” dia menyapa lagi dari sebrang sana.
“Oh.. Maaf kalau boleh tahu, siapa ya, pasien Anda?” karena demi apa coba, ya? Ada pasien sakit kejiwaan yang mencari aku?
 
“Sebenarnya, sebelum kamu bertemu dengan beliau, saya ingin berdiskusi lebih dulu dengan kamu. Saya perlu menjelaskan detail kondisi pasien saya. Kalau kamu nantinya tetap tidak mau bertemu, itu hak kamu. Tapi saya harap, kamu bisa meluangkan waktu kamu.” Penjelasan dokter itu malah membuat otakku semakin sulit untuk berfikir.
 
“Bagaimana? Apakah besok bisa? Karena kondisi beliau setiap hari semakin buruk, saya sudah menghubungi nomor ini dari kemarin. Tapi...”
 
“Baiklah.” Aku setuju bertemu dengannya karena aku kasihan, pasti ada urgency tertentu sehingga dia menghubungiku tengah malam dan sekarang ini. “Besok siang, bagaimana?”
 
Kami memutuskan untuk bertemu pukul dua siang, tepat setelah jam visit dokter. Pupus sudah keingananku untuk berkencan dengan buku dan kopi. Aku berharap dia adalah dokter ganteng dan mau menemaniku makan.
 
Jam satu lewat lima puluh menit, aku sedang memilih tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Masih ada sepuluh menit lagi, akupun menyempatkan menata kembali riasan tipisku. Toh, masih ada kemungkinan dia adalah dokter tua dan botak, secara dia dokter jiwa!
 
Kabar terakhir via WA, dia ada di cafe di loby rumah sakit dan dia menggunakan kemeja biru. Aku melemparkan pandangku ke sekeliling cafe itu, tempat itu tidak terlalu luas tapi yang duduk disitu cukup banyak. Ada beberapa orang yang kulihat berpakaian berwarna biru, tapi melihat mereka memiliki teman makan disebelahnya, aku langsung mencoretnya dalam daftar. Hanya ada satu pria dengan kemeja biru, duduk sendirian, dan disebelahnya ada jas putih. Dia sepertinya sedang sibuk membaca berkas di tangannya. Aku menilai dia masih muda karena rambutnya masih hitam semua dan tangannya tidak keriputan.
 
“Dokter Carlo...” Sapaku, mencoba mencari kepastian. Dan ketika dia mengangkat kepalanya, terlintas beberapa kenangan yang pernah kami lalui.
 
“Rey? Reyna?” Dia pun sama terkejutnya dengan aku. “Kamu di Jakarta?”
 
“Bang Carlos? Loh...” Carlo Sinaga, kami biasa memanggilnya Carlos. Dia sepupuku, sepupu jauh. Setelah saling sapa sejenak, akupun memesan makanan dan kami bercerita tentang kondisi kami.
 
“Jadi siapa yang mau ketemu aku, Bang?” Seketika raut wajahnya berubah, senyum ceria tadipun lenyap menjadi wajah tegang dan khawatir. Sepertinya ada beberapa puzzel yang akhirnya bisa digabungkannya, tapi sayang isi puzzel itu bukanlah sesuatu yang diharapkannya.
 
“Rey, aku harap kau gak marah, ya, samaku. Aku pun gak tau kenapa kita dipertemukan dikejadian ini.” Carlo meraih kedua tanganku seolah menahanku agar tidak pergi.
 
“Namanya Pak Purnama.”
 
Rasanya seperti guntur di siang hari. Aku sangat berharap tidak pernah lagi mendengar nama itu, apalagi bertemu dengannya. Aku segera menarik tanganku, tapi Carlo menahannya.
 
“Rey, aku tahu perasaanmu. Tapi, aku harap kau mau dengarkan aku dulu.” Aku menggelengkan kepala, aku menunduk mencoba menahan air mataku. Carlo sepertinya tidak mau mempermalukan diriku dan dirinya, dia pun mengajakku keruangannya. Selama di jalan aku hanya menunduk dan melihat lantai keramik dan kaki-kaki manusia yang kami lewati.
 
Sesampainya di ruangannya, Carlo mendudukkanku di sofa dan dia merangkul pundakku, air mataku yang sejak tadi kutahan akhirnya tidak terbendung lagi.
 
Sepuluh tahun yang lalu, aku kehilangan seseorang yang paling aku sayangi. Seorang saudara, sahabat, adik, dan kakak. Kami bersama sejak kami masih dikandungan ibu, kami berenang di air ketuban yang sama, kami minum dari susu yang sama, dan kami selalu dicintai sama besarnya. Sepuluh tahun yang lalu, pria itu datang kerumah kami, dia adalah rekan kerja Papa. Paman Pur, itulah panggilannya, dia selalu membawakan makanan manis dan mainan untuk kami. Saat itu usia kami baru lima belas tahun. Muda, energik, cantik, dan sudah memasuki masa puber.
 
Pria itu suatu hari datang kerumah ketika orang tuaku sedang keluar kota dan aku di sekolah, sementara Reyka sedang sakit di rumah. Fisik Reyka memang lebih lemah dariku, terkena hujan sedikit saja dia pasti kena flu berat. Seperti hari itu.
 
Ketika pulang sekolah, aku tidak mendapai Reyka di rumah. Kami memang tidak punya pembantu, karena kami sudah cukup besar untuk melakukan semua tugas rumah tangga. Aku mencari saudariku itu ke seluruh rumah, aku bertanya ke tetangga, tapi aku tidak menemukan dia. Aku menghubungi mama dan menceritakan apa yang terjadi.
 
Beberapa hari berlalu, polisi sudah mencarinya dan semua keluarga juga dimintai tolong untuk mencari Reyka, tapi dia belum juga ditemukan. Dua minggu setelah Reyka hilang, yang aku tahu hanyalah dia sudah menjadi mayat. Bahkan orang tuaku melarangku melihat jenazahnya.
 
“Biarlah kenanganmu tentang Reyka adalah senyum bahagianya, Nak.”
 
Setelah Reyka dimakamkan, aku dan keluargaku pindah ke Singapore. Mama berubah menjadi sangat protective padaku, papa tidak ingin berbisnis lagi, mulai hari itu dia hanya menjadi pegawai biasa. 
 
Aku baru tahu alasannya ketika aku SMA. Reyka. Dialah alasan semua perubahan itu.

Hari itu, ketika Reyka menghilang, Om Pur ternyata menculiknya, menyiksanya, lalu membunuhnya. Alasannya, karena dia iri dengan papa. Dia tidak terima dengan bisnis papa yang semakin maju sementara bisnisnya hancur.
 
“Rey, sstt... sabar ya..” Mungkin aku sudah menghabiskan tiga puluh menitku menangis di pelukan Carlo, dia meminta ijin untuk menceritakan tentang kondisi Purnama. Aku ingin bilang tidak, tapi mungkin karena aku punya Carlo untuk menenangkanku, aku pun setuju.
 
Carlo bilang, Purnama sudah kehilangan kesadarannya. Setiap malam dia berteriak memanggil nama Reyhan, nama papa, dan berkali-kali mencoba bunuh diri. Selain itu, penyakit kanker otaknya pun semakin memperparah keadaannya. Keluarganya tidak peduli dengan kondisinya, tapi salah seorang keponakannya menceritakan mengenai kisah kami dan memberikan nomor handphone-ku dan orangtuaku. Aku yakin mereka pasti tidak berani menghubungi kami. Carlo sama sekali tidak menyangka bahwa pasiennya memiliki hubungan dengan keluarganya.
 
“Rey, mau kah kamu memaafkan dia?” Carlo menatap mataku, menghapus sisa airmataku, dan mencoba mencari sedikit rasa maaf dariku.
 
“Demi senyumnya, Reyka? Juga demi kamu?” Tidak bisa dipungkiri, kejadian itu memberikan trauma dalam hidupku. Aku takut bersentuhan dengan pria, aku takut berduaan dengan pria. Hubunganku dengan mantan pacarku tidak pernah lebih dari tiga bulan, alasannya karena aku tidak akan mau diajak jalan hanya berdua.
 
“Tapi temani aku ya.”
 
Kakiku gemetar ketika aku berjalan ke ruangan tertutup itu. Dari balik jendela pintu, aku melihat pria kurus, botak, dan terikat. Carlo membuka ruangan itu, masih merangkulku, Carlo memintaku untuk kuat.
Pria itu seharusnya seumuran Papa, tapi yang sekarang berbaring itu terlihat seperti dua kali lebih tua dari Papa. Kulitnya mulai menghitam efek pengobatan. Bagaimanapun, dulu dia pernah sangat baik padaku dan Reyka. Tapi karena kehilafannya, disinilah dia berakhir, tanpa teman dan keluarganya. Menurut Carlo, dia hanya bertahan dua bulan lagi dan sekarang di penghujung hayatnya dia hanya bisa menyesal. Tapi aku mau memaafkannya, karena aku tidak mau hidupu berakhir karena penyesalan seperti dia.
 
“Om Purnama, aku memaafkanmu. ” Ini bukan demi ketenangannya, tapi demi aku.

Aku hanya sanggup lima menit berada di ruangan itu. Carlo pun membawaku keluar, dia membawaku ke taman dekat dibelakang rumah sakit. Dia masih merangkulku dan aku bersandar dipundaknya. Entah berapa lama, tapi ketika bulan purnama mulai muncul di langit, dia menawarkan dirinya untuk mengantarkanku pulang.

No comments:

Post a Comment