Feb 11, 2018

Bukan Mr. Stranger [2]

 

"Jadi kenapa kau mengajakku ke cafe ini, sementara kita bekerja di mall dengan banyak tempat ngopi?"

"Aku rasa sudah cukup jelas, Pak. Aku tidak ingin ada yang melihat kita berdua sedang bersama. I just... " Aku mengangkat kedua tanganku pertanda menyerah karena aku benar-benar tidak ingin ada yang tahu bahwa aku pernah menggoda bosku. Damn! Menggoda? Arrghhh...
Aku memang sengaja memilih tempat yang jauh dari kantor, karena yang aku tahu selain club dan cafe, tempat minum kopi adalah tempat lain yang sering dituju oleh teman-teman kantorku. Lebih aman mencari tempat yang agak jauh, cafe yang cabangnya ada dimana-mana, sehingga kemungkinan bertemu dengan orang kantor mencapai 0%!

"Kenapa Bapak senyum-senyum seperti itu? Ada yang salah dengan wajah Saya?" aku melipat kedua tanganku dan menaruhnya di atas meja.

"Yes. Something wrong in your face." Dia pun meniru gayaku melipat tangan kemudian jari telunjuknya bergerak membentuk lingkaran di depan wajahku. Akupun langsung mengambil ponsel dan membuka kamera untuk memastikan ucapannya. Ketika aku tidak merasa ada yang salah dengan wajahku, aku mendapati Abi sudah tertawa! Ya Tuhan.. ingin rasanya aku melempar minuman panasku ini ke wajahnya!

"You look beautiful like that." Abi tersenyum dan kemudian wajahku rasanya seperti memanas. Oh, tidak! Bosku yang satu ini benar-benar luar biasa manis mulutnya.

"Aduh Bos... Please.. please.. please... aku bener-bener minta maaf kalo kemarin itu aku udah kelewatan... Janji deh itu yang terakhir. Aku janji gak akan menggo..." 

"Wait! Siapa yang suruh kamu berhenti menggoda aku? Jelas tidak..." Abi meraih tangan kiriku yang tadinya sudah membentuk tanda V yang akan aku acungkan untuk menunjukkan bahwa aku sunggu-sungguh berjanji.

Aku mencoba menarik tanganku, tapi Abi menariknya lebih kuat dan aku menyerah. Menyerah bukan karena Abi lebih kuat tapi lebih karena aku merasa ada getaran aneh yang mengalir dari sentuhan kami. Ya dewa, aku benci mengatakan ini, tapi aku beneran makin meleleh.

"Kau boleh menggodaku, Sayang. Hanya aku! Pria lain.. A... a..." Abi menggelengkan kepalanya "Tidak boleh ada pria lain diantara kita."

"Oh, Dear Abimayu, maafkan saya Pak. Saya tidak bisa dan tidak mau memiliki hubungan 'goda-menggoda' dengan atasan saya, Pak. Plus, saya punya prinsip tidak mau memiliki pasangan satu kantor dengan saya."

"Hem.." Abi melepaskan tanganku dan menggunakan kedua tangannya untuk menopang dagunya. Sementara aku mecoba menenangkan diri karena kehilangan tangan yang membuatku meleleh tadi.

"Prinsip ya? Okay, aku kasi kamu dua pilihan. Pertama, kamu dan aku berhubungan diluar jam kantor. Kedua, aku akan terang-terangan menunjukkan pada seluruh pegawaiku bahwa kamu dan aku ada hubungan."

"Wait? What!? Do I have other option?"

"No, maam. Jadi yang pertama atau kedua?"

"Tunggu dulu, Pak. Pertama, kita baru kenal. Kedua, kamu bisa dapatin wanita manapun selain aku."

"Okay. Pertama, kita baru kenal dan aku langsung tertarik sama kamu. Kedua, saat ini kamu wanita yang ingin aku dapatkan." Demi Medussa, pria didepanku ini benar-benar keras kepala. Aku harus cari cara lain untuk menolak tawaran yang sebenarnya sangat menggoda ini. Argg, tapi kalau aku bilang iya, artinya aku mengikat perjanjian dengan iblis.

"Arrgghh... Ku mohon Pak, jangan persulit hidupku ini. Apakah aku boleh memilih pilihan ketiga? Jadi karyawan Anda yang biasa aja?"

"Berarti kamu pilih yang Kedua. Okai, mulai besok kamu aku pindah tempat duduknya di dalam ruangan aku dan aku umumin ke semua orang kalau kamu milikku!"

"Damn you, Sir!" Aku menyisir rambutku ke belakang dengan kedua tanganku, hal yang biasa aku lakukan bila pikiranku sedang stuck. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain lagi. Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk menghindari pria ini adalah dengan keluar dari perusahaanya, tapi itupun tidak menjamin 100 persen aku tidak akan bertemu dia lagi.

"Ok. Aku ambil pilihan pertama."Seketika juga bibir manisnya itu tersenyum dan hanya sebentar mataku berkedip bibirnya sudah menempel di bibirku. Aku mengedipkan mataku tiga kali dan bibir itupun berbisik di depan bibirku "This is our first day."

***

Holla, well ga tau kenapa tapi aku ingin lanjutin "Bukan Mr. Stranger", pengen bikin cerita-cerita manis tentang mereka berdua. Sampai hari ini belum tau mau kasi konflik apa, karena too much story jumping in my head right know. Ada beberapa cerita yang udah rampung (hanya di otak), akan aku tuliskan di blog khusus cerita fiksi aku... wkwkwk









No comments:

Post a Comment