Jun 3, 2012

[Cerpen] Like Mother, Like Daughter


Kukecup kening putraku setelah aku mendengar dengkur halusnya. Dia sangat mirip dengan papanya, begitu menyentuh bantal, langsung pulas. Berbeda dengan putriku, si sulung ini hanya akan tertidur setelah membaca sesuatu. Itulah sebabnya dingding kamarnya didominasi oleh rak buku yang tingginya hingga ke langit-langit.Aku keluar dari kamar putraku dan melangkah menuju ruang tamu yang ada di lantai bawah, aku menyalakan TV sambil menunggu suamiku pulang. Hari ini dia ada meeting dengan kliennya hingga malam. Sedangka putri kami sedang menginap di rumah sahabatnya, rencananya mereka akan mengadakan pijamas party. Melihat putriku yang semakin dewasa, aku jadi semakin merasa tua. Putriku akan berulang tahun yang ketujuh belas tahun depan, tapi diusia seperti ini, aku belum pernah melihatnya jalan bersama seorang pria. Sejujurnya aku sedikit khawatir dengannya. Walaupun aku dan papanya tidak pernah melarangnya untuk berhubungan dengan pria manapun, tapi entah mengapa sampai sekarang dia belum pernah membawa seorang laki-laki ke rumah ini. Jam dingding sudah menunjukkan angka sepuluh, sedari tadi aku masih sibuk memilih acara TV yang mau ditonton, tapi belum menemukannya. Akhirnya aku mematikan TV dan ingin berbaring di kamar saja. Begitu meletakkan remote TV, aku mendengar pintu masuk terbuka dengan kasar. 
"Masuk!" Aku mendengar suara suamiku berteriak. Selama pernikahanku, aku belum pernah mendapati suamiku semarah ini. Dia menarik kasar putri kami melawati pintu rumah.
"Astaga... Kakak?" 

Aku menatap putriku yang sedang menangis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut panjangnya digerai, bibirnya yang tipis kini terlihat semakin tebal dan berwana merah, pipinya yang selalu putih mulus, kini terlihat lebih merona akibat blush on, juga matanya yang terlihat semakin menarik akibat eye liner dan maskara. Cantik. Tapi pakaiannya-lah yang membuatnya terlihat seperti.. Ahh.. aku tidak tega mengatakannya. Pakaian itu terlalu mini, bahkan suamiku pasti akan marah bila aku menggunakannya, apalagi dia mendapati putrinya yang mengenakan pakaian itu.
"Lihat ulah putrimu, ini! Dia seperti perempuan murahan!" "Kirana Putri Laraswati, duduk!" Aku mengarahkan telunjukku ke sofa yang tadi aku duduki. Aku memutar tubuhku kearah suamiku. Aku menginginkan sebuah penjelasan darinya. "Aku melihatnya berjalan sendirian menuju kafe yang ada di ujung jalan. Kau tau betapa terkejutnya aku? Anak gadis kita jalan sendirian dengan pakaian begitu, dan disepajang jalan itu ada banyak preman, bagaimana kalau sampai dia.."
"Laras nggak akan kenapa-kenapa." Aku dan suamiku menolh ke sumber suara itu. "Lagian dia ada disana, dia pasti jagain Laras."
"Dia siapa?" Suamiku dengan langkah panjang mendekati putri kami. Bukannya menjawab pertanyaan papanya, tangisnya lah yang semakin meledak. 
"Kakak.." aku mencoba menenangkannya sambil memeluknya. Aku bisa merasakan dingin di kulit putriku, sepertinya dia sudah lama ada diluar sana. "Siapa yang kamu bicarakan?"
"Seharusnya, Papa nggak lewat tempat itu.." Aku berharap papanya tidak mendengar suara putriku yang berbisik di pelukanku.
"Apa? Kamu bilang Papa, nggak harus lewat tempat itu? Kenapa? Atau jangan-jangan kau memang sudah sering ketempat itu, huh?" Tubuhku menegang mendengar tuduhan suamiku itu. Sejujurnya, aku juga ingin melakukan hal yang sama seperti suamiku. Memarahi anak gadis yang dipelukanku ini, tapi aku juga tidak sanggup melihatnya bersedih."Sayang, duduklah.. Kita bisa bicarakan baik-baik." Suamiku mengerang dan dia menyisir rambutnya dengan kedua tangannya. Aku yakin dia pasti akan menghancurkan sesuatu jika aku tidak menenangkannya."Kakak.." Aku mengangkat wajah putriku yang masih menangis dan aku menghapus air matanya. "Coba ceritakan sama mama, kamu ngapain disitu? Bukannya kamu mau nginap di rumah Cecil?" 
"Maafin aku, Ma.. Aku memang bohong.."
Brakk!
"Berani sekali kamu bohong!" Suamiku menggebrak meja didepannya dan kini dia berdiri tegak di hadapanku. Aku bisa melihat urat nadi di lehernya berlomba untuk keluar dari leher itu. 
"Maafin Laras, tapi Laras cuma mau ketemu sama dia sebelum dia pergi ke Kanada."  Dia menegakkan tubuhnya dan memandangku dan papanya bergantian.
"Dia akan berangkat besok, dan Laras ingin bilang ke dia kalau Laras sayang sama dia. Cuma itu.." Air mata putriku pun mulai mengalir lagi.
Bukannya bersedih, aku malah tertawa keras. Suamiku yang melihat sikapku itu, langsung memutar matanya dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Sedangkan putriku justru memandangku dengan rasa penasaran.
"Apakah dia mencitaimu?" Tawaku langsung saja terhenti. Aku pun menunggu jawaban putriku. Tapi dia hanya menjawab pertanyaan papanya dengan menggelengkan kepalanya.
"Dan kamu ke sana buat bikin dia cemburu dan dia bilang cinta ke kamu, ya?" Aku menggenggam tangan putriku. Aku melihat kukunya yang biasanya selalu polos, kini sudah diberikan pewarna merah. 
"Iya, Ma.. Laras mau dia jujur sama Laras dan Laras nggak mau perasaan Laras di gantung terus."
Suamiku mengerang di sofa seberang. "Jadi ini yang kau rasakan dulu?" Aku tahu pertanyaan itu ditujukan untukku. Tapi aku menghiraukannya
"Dia berangkat jam berapa besok?" 
"Jam sepuluh pagi, Ma"
"Sudah.. sekarang kamu bersihkan wajahmu dan ganti baju, lalu istirahat. Besok kita akan jumpai dia sebelum dia berangkat. Siapa namanya? Tinggal di mana dia?"
"Tidak! Kalian tidak boleh menemui pria itu."
"Sayang, aku mohon diamlah sebentar."
"Namanya Adam, Laras tidak tahu dia tinggal dimana. Tapi dia guru les private Cecil."
"Ya udah,, sekarang naik ke atas ya.. Mama mau bicara sama Papa kamu."
Begitu Laras menghilang di balik pintu kamarnya. Suamiku langsung menarik tubuhku dari sofa."Kau tau apa yang kau lakukan, Sayang?" "Sangat tahu, bukankah dua puluh tahun yang lalu aku melakukan hal seperti ini juga? Dan buktinya kau bisa lihat sendiri kan?" Aku mengedipkan sebelah mataku.
"Tapi kau tidak mengenal pria itu."
"Tapi putriku mencitainya."
"Tapi pria itu belum tentu mencitai Laras."
"Tapi Laras yakin pria itu mencin-" Suamiku mengunci mulutku. Dia selalu ahli dalam membungkam mulutku.
"Aku tidak suka kau membicarakan cinta dan pria lain."
"Tapi putri kita memang mencintai PRIA lain itu!" Aku langsung mendorong bibirnya menjauh begitu aku melihat bibir seksi itu mendekat. Suamiku ini memang sudah berusia akhir empat puluh. Tapi kalau soal stamina, rasanya masih sama seperti pria yang aku nikahi delapan belas tahun yang lalu.
"Sayang, putri kita bahkan belum berusia tujuh belas tahun. Dia itu belum mengerti artinya cinta. Mengapa kau malah mendukung tindakan tololnya itu, huh?"
"Tutup mulutmu! Jika kau mengatakan putri kita tolol. Itu sama saja kau mengatakan aku tolol. Jangan lupa kau juga menikahi wanita tolol ini." Aku mendorong tubuhnya menjauh.
"Sayang, dua puluh tahun lalu itu, kau tidak datang kepadaku dengan pakaian ekstra mini seperti Laras. Pakaiannya cukup tertutup."
"Tapi terbuka di beberapa bagian yang kau sukai kan?"
"Ya, tapi kau tidak mengunjungiku di klub murahan seperti yang dikunjungi Laras."
"Tapi tempat itu dipenuhi oleh lelaki mabuk-mabukkan dan bahkan temanmu itu mengira aku pelacur."
"Dan aku menyelamatkanmu diwaktu yang tepat, bukan?"
"Sangat tepat kurasa. Kalau tidak, mungkin ayahku akan memaksaku menikah dengan temanmu itu."
"Itu tidak akan pernah terjadi, Cinta. Aku sudah bilang kan? Aku akan melamarmu, begitu aku kembali dari Amerika."
"Tapi kau mengatakan itu setelah aku menemui, kan? Bagaimana kalau aku tidak pernah menemuimu dimalam itu? Apa kau yakin, aku akan menunggumu jika kau tidak pernah bilang cinta padaku? Apa kau yakin aku juga mencintaimu sebesar kau mencitaiku?"
Suamiku tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia menarikku kepelukannya dan mengecup keningku. "Saat itu aku hanya yakin kalau kau pasti akan jadi milikku. Cuma itu. Simple kan?" "Tapi aku yang tidak yakin." Aku merebahkan kepalaku didadanya. "Aku tidak yakin bahwa kau merasakan hal yang sama denganku. Aku takut." Aku memejamkan mataku. Aku mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu. Dulu aku hanya bisa mengagumi pria ini dari jauh, ayahku sangat ketat dalam melindungiku. Setiap pria yang boleh mengajakku keluar, hanyalah pria dari keluarga terpandang yang sudah dikenal ayahku. Sedangkan suamiku ini, bukanlah berasal dari keluarga terpandang. Tapi dia memiliki keinginan yang kuat untuk mengubah kehidupan keluarganya. Dia belajar keras hingga dia bisa lulus S1 di UI dengan beasiswa dan dia juga mendapatkan beasiswa S2 ke Amerika. 
Aku bisa mengenalnya karna dia adalah sahabat kakak lelakiku. Mereka kuliah ditempat yang sama, tapi kakakku tidak sepintar dia. Makanya kakakku sering mengajaknya belajar bersama di rumah. Dan karna itulah aku selalu punya kesempatan untuk mengenalnya dengan caraku sendiri dari kejauhan. Dan semakin aku mengenalnya, semakin aku mencintainya. Tapi dia tidak sekalipun mengatakan cinta atau sayang padaku.
"Aku takut kamu akan melirik wanita-wanita bule di Amerika sana. Bukankah mereka lebih cantik dan lebih seksi dibandingkan aku?"
"Hei... apakah aku pernah bilang ini? Sebelum aku berangkat ke Amerika, aku sudah meminta foto masa kecilmu pada kakakmu." 
"Untuk apa kau menyimpan foto masa kecilku dan dimana foto itu sekarang?" Aku mendongakkan kepalaku menatapnya. Suamiku hanya tersenyum dan menciumku.
"Aku menaruh foto itu di kamarku. Setiap kali aku melihat fotomu, aku selalu mengatakan ini. Aku ingin memiliki putri mirip dia, dan supaya aku memiliki putri seperti dia, aku harus menikahimu. Supaya aku bisa menikahimu, aku harus punya pekerjaan yang pantas, agar ayahmu mengizinkan aku meminangmu." 
Aku tersenyum dan memeluk suamiku ini semakin erat.
"Tapi aku juga senang, waktu kau datang menemuiku malam itu."
"Tapi kau memarahiku, malam itu."
"Karna tidak seharusnya kau memperlihatkan dadamu ke orang lain. Aku yang berhak atas itu!"
"Hanya setengahnya"
"Aku bahkan tidak suka ada pria lain yang memandang ujung jarimu!""Kau berlebihan." "Karna aku mencintaimu." Suamiku menciumku lagi dan aku membalasnya. Dia memelukku lebih erat, aku bisa merasakan bagian tubuhnya yang mulai  mengeras. Tanganku menyentuh dadanya, dan aku mulai membuka kancing bajunya. Lalu tiba-tiba dia menghentikan ciumannya.


"Laras!! Apa yang kau lakukan disitu?" Aku langsung membalikkan badanku, aku melihat putriku sedang berdiri di depan kamarnya dan tersenyum ke arahku, aku langsung sadar bahwa sebelah dadaku tidak tertutupi dengan benar. Kirana yang sudah berganti pakaian yang lebih sopan, turun dengan anggun dan berdiri dihadapan kami. Sekarang posisi berubah, kamilah yang menjadi tersangka dan dia yang jadi penuduh. "Berarti, dulu mama juga godain, Papa ya?" Laras mengacungkan telunjuknya ke wajahku yang mulai memerah. Memerah akibat papanya juga karna dirinya.
"Tapi mamamu tidak dandan senorak kamu, tahu!" 
"Iya, Papa.. Laras udah dengar semuanya kok." Laras langsung memeluk papanya. "Makasi ya pa.. Papa udah sayang sama Laras, sebelum Laras lahir."
"Aku mencintai mamamu, dan kau memang sangat mirip dengan mamamu."
"Kalau gitu, Laras boleh kan mencintai pria itu?" Suamiku langsung melepaskan pelukan Laras dan menatapku dan Laras bergantian.
"Hanya jika dia mencintaimu juga. Papa yakin, mamamu akan memastikan hal itu besok."
"Sekarang! Dia akan menyakinkan Papa dan Mama malam ini. Boleh kan?"
"Malam ini?" Sepertinya aku mendapatkan banyak kejutan malam ini. "Iya, Ma. Sekarang dia ada diluar. Dia boleh masukkan?" "Baiklah, suruh dia masuk dan buatkan Papa minuman dingin. Papa butuh es yang banyak." 
"Tapi kancing baju Papa, dirapihin dulu.." 
Aku melihat pakaian suamiku, kemejanya sudah keluar dari celananya dan kancing kemejanya sudah terbuka tiga kancing teratas. Aku hanya tersenyum melihat suamiku salah tingkah.
Laras membukakan pintu dan seorang pria berusia pertengahan dua puluh masuk dengan menggunakan kaus hijau dan celana jins. 
"Dia cakep" aku berbisik ke telinga suamiku.
"Tapi aku lebih ganteng."
"Yaa.. aku pernah dengar ayahku mengatakan hal itu pada ibuku." 
"Silahkan duduk, nak...."
"Adam, tante."
"Ah.. ya.. silahkan duduk, Adam"
"Mau apa kau malam-malam begini kerumah orang?"  Suamiku langsung bertanya begitu Adam duduk di sofa didepan kami.
"Papa.. tamunya dikasi minum dulu baru ditanyain. Laras, kamu bikinin minuman dingin dulu sana"  Laras segera ke dapur dan mengambilkan minuman.
"Maaf, Om, Tante. Adam mau minta maaf atas kejadian malam ini?"
"Kejadian apa? Saya rasa malam ini tidak ada kejadian apa-apa? Ya, kan sayang" Suamiku mencium pipiku sebagai tanda untuk berkoalisi dengannya. Dan aku pun mengangguk, bagaimanapun juga aku menginginkan yang terbaik untuk putriku.
"Emm.. tadi saya melihat Om menjemput Laras di depan cafe. Saya lihat Om marah-marah pada Laras disitu. Saya mau minta maaf untuk itu, Laras datang ke cafe itu untuk menjumpai saya. Seharusnya saya menjemputnya di rumah ini, bukannya membiarkan dia datang sendirian ke situ." Aku harus memuji Adam atas kebohongannya ini. 
"O ya? Jadi kamu yang menyuruh putri saya ke cafe itu? Kamu tahu kan bagaimana kondisi jalanan di sekitar tempat itu? Berani sekali kamu menyuruh putri saya datang ke situ sendirian?"
"Saya minta maaf, Om. Saya janji kejadian itu tidak akan terulang lagi."
"Memangnya kamu siapa berani menjamin hal seperti itu? Bahkan saya sendiri tidak bisa menjaminnya."
"Laras sudah berjanji pada saya untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu lagi, Om."
"Bagaimana caranya kau meminta putriku berjanji seperti itu padamu? Ada hubungan apa kau dengan dia" Suamiku mengarahkan dagunya ke arah Laras yang sedang menyidangkan minuman di atas meja.
"Saya peduli pada Laras, Om. Itulah mengapa saya datang ke sini malam ini."
Suamiku mengambil cangkirnya dan menghabiskannya dalam sekali teguk.
"Saya ingin meminta izin dari Om dan Tante untuk berhubungan dengan Laras. Saya serius dengan Laras, Om, Tante"
"Wahh.. kalau Tante sih, terserah Laras dan Papanya aja." Aku mendengar suamiku menghela nafasnya.
"Saya dengar kamu besok akan ke Kanada. Untuk apa kamu kesitu?"
"Saya dapat beasiswa S2 disana, Om."
"Jurusan apa?"
"IT. Kebetulan teman saya yang sudah lebih dulu disana juga mengajak kerja sama untuk membangun software house kecil-kecilan disitu. Jadi sambil kuliah, saya juga kerja paruh waktu disana, Om"
"Kamu tinggal sama orang tua disini?"
"Tidak, Om. Ibu saya tinggal di Balikpapan." "Orang tua kerja apa?" "Ibu hanya wirausaha." "Ayah kamu?" "Emm... Beliau sudah meninggal sejak saya lulus SMA." Adam terlihat sedih saat membicarakan ayahnya.
"Keluarga yang lain?"
"Hanya adik saya yang sekarang sedang kuliah di Jogja."
Suamiku mengangukkan kepalanya. "Apa kamu mencitai putriku?"
Adam tersenyum sebelum menjawab."Saya belum pantas untuk mengatakan itu, Om. Tapi saya akan berusaha untuk membuktikannya."
"Caranya?" "Saat ini saya memang belum sesukses Om. Tapi saya sedang berusaha untuk menyediakan kehidupan yang layak untuk Laras, sebelum saya melamarnya secara resmi pada Om dan Tante"
"Apa kau mau foto Laras sewaktu kecil dulu?" Aku tersenyum jahil ke arah suamiku.
"Maksud Tante?" Dia menatapku dan Laras yang sedang cekikikan di tempat kami duduk, sedangkan suamiku wajahnya mulai memerah. Suamiku pura-pura batuk untuk menutupi rasa malunya.
"Saya tidak pernah melarang Laras untuk berhubungan dengan pria manapun. Tapi, saya hanya merasa terlalu dini, jika ada seorang pria yang meminta izin untuk berhubungan dengan putriku, sementara dia akan meninggalkan Indonesia untuk waktu yang lama."
"Ya.. Om memang benar. Laras masih terlalu muda. Itu sebabnya saya tidak ingin membebani Laras dengan sebuah hubungan. Saya ingin dia bebas, agar dia lebih berkembang dan belajar lebih banyak. Tapi ternyata saya juga tidak sanggup bila membayangkan Laras akan menjalin hubungan dengan pria lain."
Adam membasahi bibirnya, sebelum melanjutkan. "Saya merasa saya akan lebih tenang, bila saya sudah meminta Om dan Tante merestui hubungan saya dengan Laras."
"Sayang, bawa Laras ke kamarnya dan tinggalkan kami berdua disini. Dan jangan berani-berani meguping dari atas!" 
Aku melihat ekspresi tidak senang diwajah Laras, Adam juga terlihat semakin pucat. Aku yakin, kalau aku tidak segera menarik putriku itu, pasti dia akan langsung memberontak ayahnya lagi.

Hampir satu jam aku dan Laras menunggu di kamarnya ketika suamiku masuk ke kamar itu.
"Adam sudah pulang. Sebaiknya kau tidur sekarang, jika besok kau ingin mengantarnya berangkat ke Kanada" Suamiku meletakkan kedua tanggannya di pinggang seolah dia sedang memberikan pengumuman pada bawahannya. "Seriusan, Pa? Papa udah restuin hubungan Laras sama Adam?" "Jangan terlalu senang dulu. Belum tentu dia itu lelaki setia, seperti Papamu ini."  Laras langsung memeluk ayahnya.
"I will pray for that, Pa. Setiap malam Laras selalu berdoa agar dipertemukan dengan pria sebaik dan setampan Papa. Biar Laras punya keluarga seperti keluarga kita." Suamiku tersenyum dan mengecup kening Laras. Aku pun bergabung dan memeluk mereka berdua. Mereka mengingatkanku pada almarhum ayah. Dulu ayah juga selalu menjelek-jelekkan suamiku, tapi dari ibu, aku dengar ayah selalu memuji menantunya ini. "Sudah, sekarang kamu harus tidur dan besok Mama dan Papa akan antar kamu ke bandara." Aku dan suamiku mengecup kening Laras bergantian dan kami keluar dari kamar itu. Begitu sampai di kamar kami. Suamiku langsung menarikku ke pelukannya. "Kau punya banyak hutang padaku." "Oya? Bukannya sebaliknya?" Aku mulai melepas kancing kemejanya. "Apa yang kau bicarakan dengan Adam?" "Rahasia lelaki." Suamiku itu mulai menciumku, tangannya yang sedari tadi hanya mengelus punggungku, kini semakin liar menyentuh bagian tubuhku yang lain. Tanganku pun tidak kalah liarnya dari punyanya. Aku sudah berhasil melepaskan seluruh kemeja dan kaos dalamnya. Aku mendorong tubuhnya ke atas tempat tidur dan merangkan ke atas tubuhnya. Tangannya baru saja akan melepas pakaian yang ku kenakan, tiba-tiba kami mendengar suara dari balik pintu.
"Mama... Adek takut tidur sendirian"



 

4 comments:

  1. Holla Yuyu... :D sukaaaa bgt sm cerpennya.. haha Bapaknya kocak bgt.. emakny jugaa :D ada lanjutannya ga? *hope

    ReplyDelete
  2. Makasi Ras...

    Untuk lanjutan.. emm.. masih belum dipikirkan..
    hehehe
    :)

    ReplyDelete
  3. aduh, suka banget banget banget deh. :(

    ReplyDelete
  4. @tukangPEL : thanks, tapi kok emot nya sad sih? :)

    ReplyDelete