Oct 3, 2013

Yuyu Ngampus. Lagi!




 



...but those who cannot learn, unlearn, and relearn










 



Eduction is the most poweful weapon





Memasuki minggu ke empat perkuliahan ini, saya baru teringat kalau saya pernah punya keinginan untuk sharing persiapan apa yang saya lakukan untuk diterima di kampus saya sekarang, Universitas Bina Nusantara.

Ya, lagi! Saya lagi-lagi memilih cara kuliah yang sama. Setelah saya lulus kelas ekstensi di kampus yang sama dengan cara kuliah online. Kali ini saya juga melanjutkan kuliah saya dengan cara online juga.

Mungkin banyak yang bertanya bagaimana cara kerja kuliah online? Nanti ya saya jelaskan detailnya. Kali ini saya mau cerita persiapan dulu. :)

Awalnya saya mengira masuk Binus bukan hal yang sulit, mengingat saya tidak mengalami kesulitan sebelumnya. Tapi setelah teman saya mengatakan, bahwa tidak ada jaminan lulus, maka saya benar-benar berusaha agar tidak gagal. Karena saya sudah mengeluarkan uang untuk biaya pendaftaran. Empat ratus ribu itu bukan jumlah yang kecil, kan??

Saya harus bersyukur karena IPK saya diatas 3, jadi saya tidak perlu mengikuti test TPA. Tapi sayangnya saya tidak memiliki sertifikat TOEFL jadi saya HARUS ikut test yang diadakan Binus dan HARUS LULUS. Standart yang dipasang adalah 475, sedangkan terakhir kali saya ikut test ITP nilai saya hanya 473 :(

Langsung lah panik. Tapi ini mungkin sudah rencana Tuhan, belakangan ini tingkat intensitas membaca buku bahasa Ingris saya meningkat, juga akibat pengaruh teman, saya semakin sering menonton serial barat dan sesekali saya tidak memakai translate. Hanya mengandalkan pendengaran.

Tapi tetap ya, butuh persiapan. Agak tidak bermodal memang, tapi tak apalah. Buku TOEFL ponakan saya ada 2 di kosan dan tetap meminjam buku panduan dari teman. Oke, skip. Intinya saya mau bilang, kalau test TOEFL BINUS terdiri dari 3 tahap. Listening, Reading, Grammar.  Untuk Grammar ada model mengisi titik-titik dan ada model menemukan mana kata yang salah. Hanya itu kok.

Dan setelah saya bertemu dengan teman-teman saya, saya itu merasa semakin kecil. Alasannya, 1) Mereka kebanyakan adalah orang-orang yang sudah 'berumur' baik fisik ataupun kepintaran dan pengalaman. 2) Pekerjaan mereka lebih bergengsi dari saya. 3)walaupun hampir semuanya tidak pernah kuliah online seperti saya, tapi mereka lebih rajin dari saya.


Dan cilakanya, walaupun period kali ini hanya ada 2 matakuliah, tapi dosennya tipenya beda. Yang satu tipe santai dan loyal nilai dan satu lagi tidak santai dan tidak loyal. But what ever, they are, I'm their student with my passion. Saya mau dapat ilmu sebanyak-banyaknya, entah itu dari dosen ataupun teman saya.
Bahkan tugas kelompok kali ini, saya merelakan diri menjadi perampung dari jawaban-jawaban teman satu tim saya. Kita ada empat orang, jadi keempat otak ini harus disatukan dalam satu file. Saya rela melakukannya, karena saya ingin tahu cara mereka berfikir dan cara mereka solving problem. Bukan karena menganggap mereka saingan, tapi untuk mengambil yang baik dari mereka, juga mengambil ilmu mereka. 


Mengambil ilmu dari orang lain, tidak membuat mereka lebih bodoh dari kita. Tapi membuat kita lebih menghargai mereka dan lebih rendah diri.

 







1 comment:

  1. Udah pal gini aja ?
    Trus hasil Toefl nya gimana ?
    gak sabar pengen baca postingan gimana kuliah online itu

    ReplyDelete