Jul 30, 2012

Hanya Mantan Bos! (3)

Jumat malam dan aku menutup hari ini dengan membalas BBM dari Rafe.

Rafe:
Besok aku jemput jam 6. BRD-nya jangan lupa!

Me:
Iya.

Sabtu Pagi.

Aku merasa kepalaku seperti mendengar bunyi drum. Dug.. dug.. dug.. Bahkan bunyi itu disertai dengan lagu Band Aid-nya Pixxie Lott. Dua menit kemudian lagu dan bunyi drum akhirnya berhenti, tanganku menarik selimut karna aku merasa udara pagi semakin dingin.

Aku masih belum sadarkan diri, tapi begitu aku mendengar bunyi alaram kebakaran dari luar apartemen aku langsung duduk tegak dan berlari. Aku bahkan tidak sempat mengecek ulang apakah aku berpakaian dengan benar, aku hanya meraih ponsel dan langsung berlari. Begitu aku membuka pintu, aku merasa wajahku menabrak tembok.

"Baru bangun kalau dengar alarm kebakaran, huh?"

Aku mengangkat kepalaku dan melihat makhluk terakhir yang tidak ingin kutemui pagi ini. Aku sempat nge-blank beberapa detik, sampai aku sadar kalau mata pria kasar itu dari tadi cuma ngeliat ke arah.. Sial.

Aku langsung berbalik dan berlari ke kamar. Biasanya aku selalu tidur dengan t-shirt dan celana pendek, hanya saja kemarin malam rasanya lebih gerah dari biasanya, aku sengaja tidur hanya dengan tank top dan celana tidur yang super pendek. Tank top itu kelonggaran karena sudah termakan waktu, tapi karena alasan kenyamanan aku masih sering memakainya. Bagian yang paling longgal adalah bagian depannya, aku yakin si 'galak' itu pasti sudah melihat sesuatu yang tidak semestinya dia lihat, apalagi tadi malam aku sengaja melepas bra. Double sial.

"Sekalian ganti pakaian training, kita mau olahraga." Raffael berteriak dari balik pintu kamarku, aku bisa mendengar nada bercanda di suara itu. Aku yakin dia pasti sangat bahagia karna sudah berhasil mengerjaiku. Brengsek.

Sepuluh menit berlalu, aku keluar dengan pakaian training lengkap dengan jaket warna biru. Aku melihat Rafe sedang duduk di sofa sambil menonton siaran berita pagi, kakinya dengan manisnya diletakkan di atas meja sementara tangannya dengan asik menghabiskan kripik singkong milikku.

"Wah.. Sopan banget, nih bocah." Aku langsung menggeser kaki Rafe dari atas meja dan merebut toples makanan favorite-ku itu.

"Pelit banget, sih? Baru kripik singkong aja, udah pelit. huuh"

"Enak aja, kamu itu gak sopan banget, sih? Naikin kaki ke meja, mana masi pake sepatu lagi. Ini juga, makan nggak pake permisi. Harusnya permisi dulu sama aku!"

"Yaelah, kripik doang pake permisi. Please deh..." Pria itu lalu menuju pintu apartemenku, lalu menoleh sejenak ke arahku.

"Ayoo.. Nanti mataraharinya makin panas!"

Aku mengerang dalam hati dan dengan tololnya nurut sama perintah Rafe. Bego. Ya itulah aku, susah untuk bilang tidak. Apalagi kalau prianya adalah Raffael.

Sesampainya di parkiran, aku bisa melihat Beno yang duduk di mobil Rafe. Anjing husky itu terlihat tenang, walaupun tubuhnya diikat seat belt.

"Kenapa di ikat gini, sih?" Kataku sambil melepas seat belt itu. Beno langsung menjilati wajahku begitu aku melepas ikatannya.

"Aku sengaja menghidupkan AC mobil biar dia gak kepanasan, tapi kalau dia dilepas, takutnya dia menekan tombol klakson. Kan ribut?" 

"Hei.. apa kabar, tampan?" Aku menghiraukan penjelasan Rafe, aku malah mengelus-mengelus leher Beno dan mencium wajahnya.

"Beno, pindah ke belakang!" Dengan sekali perintah, Beno pindah ke kursi di belakang kami.

"Dia nurut banget, ya?"

"Siapa dulu bosnya?"

Aku mendengus, "Tapi kasian nasibnya sama kayak bosnya."

"Masa?"

"Iya, sama-sama jomblo! Hahaha"

"Tau dari mana, aku jomblo?"

"Ini buktinya? Ngapaen coba ngajaki aku jogging? Kenapa gak ngajak pacar kamu aja?"

Pletak!

"Auucchh... Gak pake di jitak juga, Raf."

"Kesimpulan kamu itu, gak masuk akal! Bisa aja kan, pacar aku lagi di luar kota atau luar negri, lalu dengan terpaksa aku harus ajak kamu jogging?"

"Huhhh"

"Lalu kamu, sendiri? Ngapain pake setuju nemani aku jogging?"

"Maaf, Pak, tapi pernyataan Anda barusan harus diralat. Saya hanya mau menemani si jomblo di belakang ini untung jogging. Ya, kan, Ben?"

Aku mengelus kepala Beno di belakang, sekarang dia sudah bertambah besar sejak dua tahun lalu. Bulu-bulunya sangat tebal dan lembut, mata birunya terus menatapku seolah berkata. 'Cantik banget sih pacarnya tuanku ini..'

Ups.. maaf saya hanya bercanda untuk kalimat terakhir itu, tapi gak ada salahnya ngarep, kan? Walaupun galak, pria itu tetap ganteng dan berwibawa kalau lagi di depan bawahannya yang lain.

"Berarti kamu memang jomblo, dong? Buktinya kamu mau aja nemani anjing jomblo."

"Emang iya, trus kenapa?"

Mobil Rafe sudah terpakir dengan baik di parkiran kantornya, aku masih sibuk main dengan Beno yang duduk manis di belakang kursi kami. Aku tidak menyadari kalau pria itu ternyata sedang melihat wajahku sejak dia memarkir mobilnya.

"What? Mata gue belekan, ya?"

"Kamu serius?"

"Bukan, aku Gianina."

"Ck.. Maksud aku, kamu beneran single?"

"Ooh.. Emm.. " Aku memutar-mutar kedua jari telunjukku bersamaan, "Kasi tau gak, ya?" kataku bergaya seperti komedian di televisi.

Seperti yang sudah kuduga, dia marah. Dia tarik tanganku, lalu dengan kasar dia juga menarik wajahku ke wajahnya, menekan bibirku dengan bibirnya. Aku bisa merasakan kasarnya bulu-bulu halus di dagunya yang mengesek wajahku. Tapi aku tidak merasa kesakitan, justru aku merasa lemah.

Perlahan ciuman itu semakin melembut, aku membuka mulutku dan membiarnya masuk. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku mulai membalas ciuman itu.

Guk. guk..!

Untung saja ada Beno di dalam mobil, kalau tidak aku tidak tahu hal apa lagi yang akan terjadi. Aku menjauhkan wajahku dari Rafe dan aku cukup terkejut saat mendapati tanganku sudah melingkar dilehernya.

Saat aku hendak menarik tanganku, dia menahannya, lalu dia meletakkan dahinya di dahiku dan menatap kedua mataku.

"Mau nemanin aku jogging lagi minggu depan?"

Aku langsung mengernyitkan dahi, aku bingung dengan pria ini, setelah menciumku bukannya minta maaf, malah ngajak jogging lagi minggu depan. Jangan-jangan dia mau cium aku lagi?

"Kalau aku minta setiap hari, kamu pasti nolak. Jadi aku minta kamu temanin aku setiap minggu aja, boleh?"

"Aku gak bisa bangun pagi." Aku mencoba menarik tangganku lagi, tapi dia masi menahannya. Dia justru memukul keningku dengan keningnya, "Auuhhh..."

"Bisa gak, kamu jangan langsung nolak ajakkanku? Masa aku harus selalu maksa kamu atau harus jadikan Beno alasan biar kamu mau jalan sama aku?"

"Maksudnya?"

"Arrgghh.. Gianina, kamu gak pernah sadar, ya? Apa aku harus cium kamu lagi baru kamu bisa ngerti?"

Guk.. Guk..Guk..! Aku rasa kemarahan Rafe sudah menulari Ben.

"Go outside, boy."

Dari kursi pengemudi Rafe membukan pintu yang ada dibelakang tempat dudukku, setelah Beno keluar dia kembali menutup pintu itu dengan keras. Aku bisa mencium aroma Rafe dari tempatku duduk, dia tidak memakai parfume, kaos yang dikenakannya beraroma sama seperti pelembut pakaian yang biasa aku cium di laundry.

"So?" Rafe kembali ke posisinya semula, menatapku dengan bingung dan penuh tanda tanya.

"Minggu depan aku pulang ke rumah mama."

"Manado?"

"Berapa lama?"

"Seminggu. Aku berangkat besok Senin."

"Kamu cuti seminggu? Dalam rangka apa?"

"Emm.. Aku juga tidak tahu, tapi mereka minta aku pulang. Itu saja."

"Aku boleh ikut?"

"Ngapain?"

"Aku mau kenal sama keluarga kamu, boleh?"

"Ya nggak lah... Em.. maksud aku, kamu boleh aja kenal sama keluarga aku, tapi kan nggak mesti sampe ke Manado untuk bertemu mereka."

"Memangnya kenapa?"

"Kamu kan bukan siapa-siapa aku? Nanti apa kata orang tua aku, coba?"

"Makanya biarkan aku jadi siapa-siapa kamu, dong. Masa kamu udah aku cium, tapi kamu nggak mau jadi siapa-siapa aku?"

"Memangnya kalau kamu udah cium aku, trus kamu jadi someone-nya aku? Nggak kan? Lagian ciuman tadi kan tidak ada artinya. "

"Apa? Kamu bilang yang tadi itu gak ada artinya?" Aku menggelengkan kepala.

"Oke, How about this?"

Dia kembali menciumku, lebih menuntunt dari yang sebelumnya dan lebih panas. Dia memaksaku membuka mulut, dia bahkan menahan punggungku dengan kedua tangannya, sehingga menghilangkan jarak diantara kami.

"Apa ini tidak ada artinnya, huh?" Dia tiba-tiba berhenti menciumku dan menatap mataku dengan tatapan panas.

"Bukankah para pria sudah terbiasa mencium karna nafsu, bukan karna cinta?"

"Jadi itu alasannya? Karna kamu mengira aku tidak mencintaimu dan kamu mengira aku melakukan itu hanya karna nafsu?"

"Aku tidak sedang mengira, aku menyimpulkan."

"Apa kamu lupa, bahwa kamu selalu salah menyimpulkan?"

"Seingatku kemampuanku dalam menyimpulkan sesuatu dan mengambil keputusan atas kesimpulan itu, sudah berhasil membuatku berada di posisi jabatan sekarang."

"Jangan sombong, Gianina. Untuk kasus hatiku, tidak ada satu orangpun yang  tahu, kecuali aku."

"Masa?"

"Apa kamu tahu, setelah kamu pergi aku jatuh sakit?"

"Emm.. aku baru dengar kabar itu dari Pak Guruh kemarin. Dia bilang kamu sakit karna aku."

"Iya, mungkin dia merasa itu hanya lelucon. Tapi aku memang benar-benar sakit karna kamu. Setiap kali meeting, setiap kali membagi tugas, aku selalu kepikiran kamu. Aku harus bekerja lebih keras dan pulang lebih malam agar begitu sampai rumah aku bisa langsung tidur tanpa harus memikirkan kamu. Hingga aku akhirnya sakit."

"Kamu beneran sakit karena aku?"

"Iya?"

"Kenapa kamu gak pernah hubungi aku? Apa kamu tahu kalau aku.."

"Aku tidak mau membuatku khawatir."

".. aku selalu merindukanmu di sana. Aku berharap ada keajaiban, kalau kamu suatu hari akan menghubungiku, atau minimal mengirimkan email untukku. Tapi ternyata aku tidak pernah mendapatkan kabar darimu. Hingga aku berhenti berharap padamu, aku mengira kamu hanya menganggapku sama seperti bawahanmu yang lain, dan aku mulai meganggapmu hanya mantan bosku."

"Lalu sekarang kamu menganggapku apa?"

"Setelah ciuman ini, kamu masih berani bertanya seperti itu padaku?"

"Aku hanya ingin tahu, Gianina.. Apa sekarang kamu masih mengharapkan aku?"

"Iya.."

"Mengharapkan aku sebagai apa?"

Aku hanya terdiam, aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan harapanku, bahwa aku berharap pria ini bisa menjadi milikku. Bukan hanya menciumku, tapi aku ingin dia mencintaiku.

"Gianina? Masihkah kamu mengharapkan aku mencintaimu?"

"Aku tidak mengharapkan cinta dari pria yang tidak mencintaiku, Rafe."

"Tapi kalau aku mencintaimu, mau kah kamu menerima cintaku?"

Aku mengangkat kepalaku dan menatap matanya. Aku mengira akan menemukan kebohongan di sana, tapi yang aku lihat adalah ketakutan dan harapan. Apakah dia takut kalau aku tidak membalas cintanya? Atau apakah dia berharap aku mencintainya sama besarnya dengan cintanya?

"Dua tahun aku menunggu kata cinta darimu, Rafe. Tapi sampai detik ini aku belum mendengarnya darimu."

"Gianina, bisakah kau mendengar cinta itu tidak hanya dari ucapan? Dari debaran jantungku." Dia menarik tanganku dan meletakkannya di dadanya. Aku bisa merasakan debarannya, sama seperti yang aku rasakan sekarang. "Dari ciuman ini." Dia mencium keningku, lembut dan dengan perasaan yang tulus. Aku bisa merasakannya. Aku merasakan cinta yang dimilikinya untukku. Hanya untukku.

Aku memeluk Raffael. "Aku mencitaimu Raffael.." Bisikku di telinganya.
Raffael mempererat pelukannya dan mengusap rambutku. "Thanks God, finally she is mine. I love you, Gianina." Raffael kembali mengecup ubun-ubunku, sementara itu diluar Beno sedang asik dengan teman barunya.

No comments:

Post a Comment