Pages

Feb 1, 2012

#3: Untuk pria berkawat gigi pink

Sayang, kamu masi ingat hari minggu itu? Sewaktu kamu minta temani aku ke dokter gigi buat ganti kawat? Hari itu warna yang ada hanya tinggal hijau dan pink, lalu aku minta kamu pakai kawat yang warna pink.
Ogah ahh ntar gw dikira pinkky boy lagi. Emang lo mau cowok lo dikatain  pinkky boy?
Kata-katamu hari itu membuatku tertawa, apa lagi wajahmu yang langsung merona. Tapi walaupun begitu kamu tetap mau pakai kawat warna pink itu. Walaupun sepanjang perjalanan kau terus menggerutu sepanjang jalan, tapi aku tidak peduli, yang aku pikirkan adalah reaksi anak-anak production saat melihat bos mereka yang galak pakai kawat gigi warna pink.

Dan benar kan dugaanku? Kau sendiri juga melihat ekspresi anak buahmu begitu kau menyapa mereka kan?. Dan dengan entengnya kau cuma ngejawab, Cewek gue yang maksa gue pake warna pink!, dan dengan ringannya tanganmu menarik tubuhku ke samping tubuhmu. Dan sontak satu ruangan berteriak riuh, seriuh gemuruh yang tiba-tiba ada di hatiku.

Sungguh aku ngak nyangka kau bakalan ngelakuin itu, awalnya aku kira kata-katamu di tempat dokter kemarin hanya becanda. Bagaimana mungkin kamu mengaku sebagai cowokku? Padahal kita baru kenal satu minggu, aku rasa hari itu kepalamu cuma lagi overload sehingga salah bicara, tapi tindakan mu di depan anak buahmu sungguh di luar akan sehatku.

Aku mencoba memikirkan kembali kata-katamu itu di tempat favorite ku, di tempat aku menghabiskan sebatang rokok sambil menikmati langit sore hari. Gedung itu berlantai 30 dan saat berada di tempat tertinggi gedung itu aku merasa seakan menjadi satu-satunya penguasa di tempat itu. Menikmati setiap tiupan asap rokok yang keluar dari bibirku.

Aku mencoba mencari di setiap kebersamaan yang kita habiskan kebanyakan di kantor, aku tidak pernah mendapatimu sedang mencuri pandang, ataupun tanda-tanda bahwa kau tertarik padaku, baru tadi aku merasakannya. Sepertinya kau memang kehilangan akalmu, suamiku! 



Hari itu seperti biasa aku menikmati langit mendung kota panas itu, setelah rokokku habis, aku pun memutuskan untuk kembali ke ruanganku dan pulang juga melupakan kata-katamu hari ini. Aku berjalan ke pintu keluar sambil terus menatap lantai sampai aku melihat ujung sepatu pantofel hitam. Aku ngak nyangka ternyata kamu yang berdiri di depan pintu keluar itu, dan kamu tersenyum di depan wajahku yang pasti penuh dengan tanda tanya.


Aku selalu memperhatikanmu kok, kau selalu datang telat, kadang jam sembilan kadang jam sepuluh, kadang jam sebelas, tapi yang pasti ponimu selalu kamu roll, dengan sendal, hanya wajahmu yang sudah pakai make up, tapi pakaianmu masih belum rapi. Tapi hanya lima belas menit dalam ruangan kamu keluar bak model. Mulutmu sering komat-kamit sendiri kalau udah di depan komputer, kepalamu akan kah gerakkan ke kanan dan ke kiri setiap kau mulai lelah, diam-diam ngupil kalau kau lagi sendiri di ruangan, kamu selalu mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang kali, dan kau selalu ke tempat indah ini setiap hari sebelum kamu pulang.
Aku rasa setelah dengar kata-katamu itu, rona merah di pipimu udah menyebar ke pipiku juga. Dan sejak hari itu aku yakinkan diriku bahwa kau memang pantas di jadikan cowokku.

O ya sayang..
Pagi ini ada orang baru di kantorku, aku rasa kepala divisi production yang baru, aku belum bertemu dengan orang itu tapi yang pasti dia mengingatkan ku sama kamu. Kata salah satu pegwaiku yang sudah bertemu dengannya, katanya pria itu makai kawat gigi warna pink.

FYI dear, aku udah ngak kerja di kantor yang berlantai 30 itu lagi, aku dah pindah ke kota lain dimana kita tidak pernah mengukir kenangan disitu. Hal ini aku lakukan karena ingin memulai hari-hari tanpa mengingat kenangan kita. Aku sudah dua tahun di sini. Aku harap kamu bahagia dia sana suamiku.


With love,

Istri yang tak pantas untukmu







1 comment: