May 15, 2015

be Excellent

Selamat Jumat, fellas!!!

Di hari kejepit ini, ada email yang masuk dan sangat memberi semangat... wanna read?

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)
Ada dua sisi yang ekstrim pada manusia terkait hal mengucap syukur.  Pertama, orang yang tidak pernah bersyukur dan selalu merasa kurang puas dengan apapun yang didapatkan, hidupnya terasa susah dan sering mengeluh.  Kedua adalah orang yang selalu bersyukur dan berpuas diri, tapi tidak mau lagi berupaya untuk melakukan atau mendapatkan hal yang lebih bagus. Sering berkata “Ini saja sudah bagus, mau apalagi?”. 
Tidak mudah menjaga keseimbangan antara mengucap syukur dalam segala hal,  tapi di sisi lain terus melakukan upaya perbaikan untuk mendapatkan hal terbaik yang bisa dilakukan.  Secara alamiah manusia akan condong jatuh di satu sisi,  bersyukur dan berpuas diri atau tidak bersyukur dan dikuasai ambisi. Perlu upaya dengan kesadaran, agar kita bisa bersyukur namun sekaligus terus berupaya maksimal untuk pencapaian terbaik. 
Lihat apa yang sudah kita dapatkan, miliki dan punyai saat ini.  Bersyukur untuk hal tersebut, dan nikmati dalam anugerah Tuhan.  Tapi disisi lain, lakukan evaluasi diri dengan jernih, apakah kita sudah optimalkan seluruh potensi diri (talenta), sumber daya, waktu dan kesempatan untuk melakukan yang terbaik?.  Jika belum,  terus lakukan perbaikan.  Bukan untuk diri kita semata, tapi sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan.
Tuhan menolong kita,
Salam dan doa,

Hal ini mengingatkanku tentang orang-orang yang menganggap aku terlalu ambisius. Orang-orang yang merasa diri mereka itu tidak bisa menyaingiku. Orang-orang yang tidak berani bermimpi untuk menjadi seseorang yang lebih dariku.

Aku tidak ingin membahas mengenai persaingan karena sampai kapanpun akan ada langit di atas langit. Tapi yang ingin aku sampaikan adalah menjadi yang terbaik. Excellent!
Apabila engkau memutuskan berbuat sesuatu, maka akan tercapai maksudmu, dan cahaya terang menyinari jalan-jalanmu. Ayub 22:28
Potongan ayat ini aku kutip dari khotbah kebaktian PD Kanaan di kantor, yang kebetulan themanya tentang excellent. Bapak Pendeta menjelaskan 3 kunci menjadi excellent:

1. Komitmen untuk jadi excellent


Aristoteles mengatakan "Excellence bukanlah sebuah perbuatan tapi kebiasaan. Untuk itu dibutuhkan latihan dan ketekunan"
Untuk menjadi excellent dibutuhkan komitmen untuk terus menerus di proses. 

Komitmen itu sendiri berbeda dengan ketertarikan. Kita ingin menjadi yang terbaik berbeda dengan kita komit menjadi yang terbaik. Karena dalam komitmen itu butuh kesungguhan dan kemauan yang kuat. Walaupun di dalamnya ada proses jatuh bangun.

Kata komitmen sendiri mengingatkanku pada khotbah Ibu pendeta favorite aku ketika kebaktian CG, memang saat itu thema yang dibahas adalah relationship. Tapi beliau mengungkapkan komitmen itu tidak melulu mengenai komitmen antara 2 orang anak manusia. Komitmen denga diri sendiri juga sangat penting. Dan setelah itu, aku bikin komitmen untuk gak buang sampah sembarangan lagi. Dan Puji Tuhan ampe hari ini masih berjalan, jadi seperti kemaren makan papabunz di kopaja sampahnya di masukin tas dan dibuang di tong sampah kosan. 

Dan hal ini membuatku ingin mulai komit menjadi excellent.. :)

2. Komitment untuk terus-menerus meningkat

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Filipi 3:13-14
Mamaku sering banget bilang, gak usah banyak kali yang kau pikirkan, nang. Jangan semua-semua mau kau lakukan. Aku tahu pola pikirku ini gak akan pernah dimengerti oleh orang tuaku, banyak orang beranggapan anak perempuan itu gak usah banyak-banyak yang dimaunya. Anak perempuan itu ujung-ujungnya jadi istri.

Aku pun ingin menjadi seorang istri, aku pun ingin membina keluarga dan membesarkan anak-anakku. Menjadi seorang istri dan ibu. Tapi selagi aku belum punya pasangan, apa yang harus aku lakukan? Diam saja? Tidak melakukan apa-apa? Atau memoles kukuku, memakai heels, dress bagus, make up kece, dan meninggalkan otakku di kamar? Melupakan keinginanku untuk jalan-jalan? Melupakan keinginanku untuk memiliki karir yang lebih baik? 

Mama juga bilang, jangan jalan-jalan aja kerjamu, cari suamilah... 
Lah, makk.. emang nyari suami kayak cari baju? Atau cari sepatu? Buatku aja cari sepatu itu susah.. apa lagi cari suami... --"

Menaikkan standard itu yang harus dilakukan untuk menjadi excellent. Karena standard hari ini akan berbeda dengan standard tahun depan. Iphone yang pertama kali keluar, sekarang ini  sudah tidak ada harganya. HP dengan RAM 512 yang dulu sudah di anggap canggih, sekarang sudah tidak lagi.

3. Komitmen untuk terus-menerus belajar

Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. Amsal 19:2 
Belajar adalah hal yang paling kita benci sejak kita mengenal bahwa belajar adalah kewajiban. Tapi ketika kita tahu belajar itu penting dan kita mencintai pelajaran kita, hal itu berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. 

Walaupun pada awalnya belajar itu tetap merupakan hal yang tidak enak. Tapi menginginkan sesuatu selalu butuh pengorbanan bukan?

Tetap belajar, dari rekan kerja, sahabat, teman, lingkungan, buku, bahkan dari kejadian terburuk dalam hidupmu sekalipun.


No comments:

Post a Comment