May 15, 2014

This Heart belongs to?




Lucu ya...
Si danbonya, maksud aku... :p

Tapi jujur lah siapa sih yg gak pernah patah hati?

Awalnya aku mengira sahabatku, si H adalah wanita paling tolol karena menangisi si mantannya yang telah menghianati dengan dengan menduakannya.

Tapi sejujurnya sampai sekarang akupun merasa dia masih tolol. Tapi sekarang semua orang bisa mengatakan aku tolol, karena sudah satu setengah tahun putus dari mantan (pake acara dihitung pula), terkadang aku masih menangis kalau merindukannya. T.T

Ada 2 respon yang muncul bila aku mengatakan hal ini pada sahabat-sahabatku. Pertama bila aku mengatakannya pada sahabat wanitaku yang hanya mengenalku, mereka akan mengatakan, "Cari kesibukan sana,.."

Kedua, bila aku mengatakannya pada sahabat-sahabatku yang mana juga adalah sahabat-sahabat mantan, pasti mereka dengan enteng bilang, "Telpon lah.."

Ahh... andai semua itu semudah apa yang mereka katakan. Belakangan ini aku sedang rajin-rajinnya browsing mengenai artikel rohani dan dengan segala keisenganku aku menemukan artikel bagus: [sumber]

ANDA hanya tahu bahwa orang ini yang akan menikah dengan anda. Anda senang bergaul bersama, memiliki minat yang sama, dan merasakan daya tarik bersama. Kemudian, tiba-tiba, keakraban itu berakhir, meledak dalam kemarahan—atau mencair dengan air mata.
Dalam hidup ini hanya sedikit perkara yang menyebabkan sakit hati sedalam putusnya percintaan. Dalam buku The Young Person’s Guide to Love (Pedoman Anak Muda tentang Cinta), Morton Hunt menyatakan, ”Hanya kira-kira satu dari antara lima orang, sewaktu putus cinta remajanya, merasa biasa saja. Bagi mereka yang sama sekali tidak ingin putus cinta, kebanyakan merasa terkoyak, remuk, sangat marah.” Kaum remaja sering kali mencari susah sendiri dengan terlibat dalam percintaan jauh sebelum mereka siap menikah.
Walaupun demikian, beberapa orang dewasa mungkin sudah siap untuk menikah dan telah berpacaran dengan hormat dan serius—ternyata mendapati diri patah hati sewaktu hubungan itu tidak berhasil. Dapatkah seseorang sembuh dari patah hati yang menyakitkan karena putus cinta?
Mengapa Sulit untuk Berpisah
Dalam bukunya The Chemistry of Love, Dr. Michael Liebowitz menyamakan awal cinta seperti serangan dari obat yang kuat. Tetapi seperti obat, cinta sedemikian dapat menimbulkan ’gejala-gejala menarik diri’ yang hebat sewaktu pengaruhnya pudar. Ahli kejiwaan David Goss mengutip ’depresi, ketegangan, penyakit fisik, hilangnya tujuan hidup, dan saat-saat sedih’ sebagai reaksi yang khas atas putus cinta. Dan tidak banyak perbedaan apakah cinta itu hanyalah perasaan tergila-gila atau ’cinta yang sejati’. Keduanya dapat menghasilkan angan-angan yang muluk-muluk—dan kekecewaan yang menyakitkan jika hubungan itu berakhir.
Perasaan ditolak, sakit hati, dan mungkin marah yang muncul segera sesudah putus dapat memperburuk pandangan masa depan anda. Seorang wanita Kristen mengatakan dirinya ’terluka’ karena dikhianati. ”Saya hanya dapat menjadi orang yang mengatakan ’Halo, apa kabar?’ [terhadap lawan jenis] sekarang,” ia berkata. ”Saya tidak akan membiarkan siapapun untuk akrab dengan saya.” Semakin dalam ikatan yang anda rasakan dalam suatu hubungan, semakin dalam pula sakit hati yang dirasakan sewaktu putus. Diberitahu oleh orang lain bahwa itu hanyalah cinta monyet atau bahwa ’anda segera akan melupakannya’ tidak banyak menghibur.
Mengapa Terjadi Perpisahan
Yang sangat dibutuhkan saat itu, bukan emosi yang tidak logis, tetapi pemikiran yang tenang. ”Kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau,” kata Salomo. (Amsal 2:11) Renungan akan membuat jelas bahwa kebebasan berpacaran dengan siapapun yang anda sukai membawa tanggung jawab besar: kemungkinan menderita ditolak. Bagaimanapun juga, apa satu-satunya alasan yang logis untuk terus dekat dengan lawan jenis? Bukankah untuk melihat apakah orang itu cocok sebagai calon teman hidup? Berkencan sekedar untuk bersenang-senang sama saja dengan secara kejam mempermainkan perasaan seseorang.—Amsal 26:18, 19.
Tetapi apakah berkencan, atau bentuk pacaran yang lain, menjamin bahwa cinta sejati akan bertumbuh atau bahwa perkawinan sudah pasti? Tidak, karena setelah beberapa saat mungkin kelihatan anda memiliki tujuan yang berbeda, cara hidup yang tidak cocok, atau tabiat yang bertentangan. Dalam keadaan demikian, tindakan yang bijaksana mungkin adalah memutuskannya! ”Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia,” kata Alkitab.—Amsal 22:3.
Maka jika ada orang yang mulai mengajak anda berkencan dengan maksud yang jujur tetapi kemudian menyimpulkan bahwa perkawinan tidaklah bijaksana, anda tidak perlu merasa diperlakukan dengan tidak adil. Persoalannya adalah, tidak ada cara yang tidak menyakitkan untuk mengakhiri hubungan cinta. Pasti anda lebih senang jika orang tersebut memperlihatkan pertimbangan Kristen dan menjumpai anda, menjelaskan sebenarnya mengapa hubungan itu harus berakhir. Tetapi, sering kali, orang yang meninggalkan tidak bersedia bertatap muka. Ia mungkin mengambil jalan keluar yang tidak baik, mengirim surat yang pendek atau, lebih buruk lagi, hanya dengan mengabaikan anda, seolah-olah dengan demikian persoalannya akan selesai.
Bahkan sewaktu pemutusan hubungan ditangani dengan sangat bijaksana dan baik, anda masih cenderung sakit hati dan merasa ditolak. Tetapi, tidak ada alasan bagi anda untuk merasa kehilangan harga diri. Kenyataan bahwa anda tidak ”tepat” di mata orang ini tidak berarti bahwa anda tidak tepat di mata orang lain. Bagaimanapun juga, orang ini bukan satu-satunya pria atau wanita di dunia!
Cara lain untuk melawan perasaan ditolak adalah berupaya menangani putus cinta dengan kepala dingin. Apakah gadis yang anda sangka anda cintai benar-benar cocok dengan gambaran ”isteri yang cakap” yang digambarkan dalam Alkitab? (Amsal 31:10-31) Apakah pemuda yang anda cintai adalah orang yang akan benar-benar ”mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri”, atau apakah ia masih mementingkan diri? (Efesus 5:28) Memang, ia mungkin memiliki wajah yang tampan dan pesona yang menawan. Ya, tetapi ”kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia”.—Amsal 31:30.
Putusnya hubungan mungkin malahan membuat kita melihat hal-hal yang kurang baik tentang orang ini—ketidakmatangan secara emosi, keragu-raguan, kekakuan, tidak ada timbang rasa, kurangnya keprihatinan terhadap perasaan anda. Ini pasti bukan sifat-sifat yang diinginkan dalam diri seorang pasangan hidup. Pada waktu yang sama, anda mungkin menyadari bahwa ada beberapa hal juga yang anda perlu perbaiki sebelum anda menjadi pasangan hidup yang baik.
’Tetapi Saya Tidak Ingin Pisah!’
Namun, bagaimana seandainya pemutusan dilakukan sepihak, dan anda yakin perkawinan akan berhasil baik? Tentu anda berhak memberitahukan pihak lain bagaimana perasaan anda. Tetapi, ingat, ”orang yang . . . berbicara manis lebih dapat meyakinkan”. (Amsal 16:21) Berteriak-teriak dan mengamuk secara emosional tidak banyak membawa hasil. Tetapi, pembahasan yang tenang mungkin mengungkapkan bahwa telah terjadi kesalahpahaman. Walaupun demikian, jika ia bersikeras untuk berpisah, anda tidak perlu merendahkan diri, dengan menangis minta dikasihani oleh orang yang jelas tidak mempunyai perasaan khusus untuk anda. Salomo mengatakan bahwa ada ”waktu untuk menemukan dan waktu untuk kehilangan”.—Pengkhotbah 3:6, BIS.
Memang, mungkin ada alasan kuat untuk mencurigai bahwa anda semata-mata diperalat oleh seseorang yang memang tidak sungguh-sungguh berminat untuk menikah. ”Saya menyadari ia hanya memberi saya perhatian untuk membuat pria lain cemburu,” ingat Daniel tentang gadis yang berkencan dengannya beberapa tahun lalu. ”Hal itu sangat menyakitkan. Lama sekali baru saya dapat berpacaran lagi.” Seseorang yang dengan kejam mempermainkan perasaan orang lain tidak dapat dianggap seorang Kristen teladan, dan anda dapat yakin bahwa kecurangan sedemikian tidak luput dari perhatian Allah. Cepat atau lambat, orang demikian akan dipaksa menyesali perbuatannya—tanpa anda perlu membalas dendam. ”Orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.”—Amsal 11:17; bandingkan 6:12-15.
Cara Mengatasinya
Tentu, sekedar mengetahui bahwa putus adalah jalan yang terbaik tidak akan menghilangkan semua perasaan terluka. Mungkin kadang-kadang anda akan tersiksa oleh kesepian atau kenangan yang romantis. Jika demikian, cepat sadarkan pikiran anda! Sibuklah, mungkin dengan kegiatan fisik tertentu. Hindari kesunyian. (Amsal 18:1) Pikirkan terus hal-hal yang menyenangkan dan membina.—Filipi 4:8.
Anda tidak harus menjadi pahlawan dan menekan perasaan anda. Mengutarakan diri kepada Bapa surgawi pasti membawa banyak kelegaan. Sibuk dalam pelayanan Kristen akan membantu. Mungkin akan membantu juga untuk menceritakan hal itu kepada seorang teman dekat. (Amsal 18:24) Dan jangan lupa bahwa orangtua anda sering kali dapat banyak menghibur, bahkan jika anda merasa cukup dewasa untuk mandiri.—Amsal 23:22.
Putus cinta merupakan pengalaman pahit. Tetapi seseorang dapat mengambil manfaat bahkan dari patah hati. ”Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan,” kata Amsal 20:30. Anda mungkin sekarang melihat perlunya memperbaiki segi-segi tertentu dari kepribadian anda. Pandangan anda akan apa yang anda inginkan dalam diri pasangan hidup mungkin menjadi lebih jelas dibanding sebelumnya. Setelah dicintai dan ditinggalkan, anda mungkin memutuskan untuk menjalani pacaran dengan lebih hati-hati jika orang yang menarik berikutnya muncul—dan kemungkinan itu terjadi lebih besar dari yang anda bayangkan.
Sejujurnya isi artikel ini hampir sama seperti yang di nasehatkan oleh sahabatku Ms. P, si ibuk yang semakin dewasa secara rohani ini sangat mahir dalam memberikan kesaksian.
Aku bener-bener amaze sama sohib aku yang satu ini, rasanya kuasa Tuhan emang nyata dalam hidupnya. Dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan..

Belakang ini setiap hari kamu mulai berbagi kabar di group WA, mengenai pergumulan, bahkan sekedar keluhan nyeri haid.. hahaha..
Ternyata Tuhan memang punya cara yang unik untuk menyatakan kuasanya.. melalu mereka aku semakin di kuatkan, juga dari rekan-rekan guru sekolah mingguku. Walaupun aku belum banyak sharing dengan mereka, tapi cara mereka menjelaskan firman ketika pembahasan, membuat aku semakin membuka mata dan sadar bahwa dalam kesehariankupun, masih banyak yang harus aku perbaiki..


No comments:

Post a Comment