May 12, 2014

Loyalitas Seorang Hamba

Belakangan ini semangat kerja saya sedang menurun. Pergantian struktur organisasi membuat saya berganti atasan yang sangat jauh berbeda dengan atasan saya sebelumnya.

Saya  mulai merasa malas-malasan, ditambah lagi rekan kerja (teman terdekat saya) di kantor juga sudah mulai banyak yang resign ataupun pindah departement. Ingin cari kerjaan baru, tapi saat ini saya masih mau fokus menyelesaikan kuliah. Apalagi sekarang saya juga sudah pegawai tetap, sayapun bingung alasan apa yang akan saya pakai kalau saya mau melamar nanti.. hehehe

Di tengah kegalauan hati ini, saya menemukan artikel yang bagus. Tentang loyalitas seorang hamba, (sumber)
Artikel ini sangat menarik bagi saya, bahkan sangat memberkati. Saya menuliskan ulang di sini, agar ketika saya merasakan perasaan yang sama lagi, saya dapat membaca kisah ini dan membangkitkan semangat saya lagi.

1 Samuel 9:1-10

Kita akan belajar dari seseorang yang namanya pun Alkitab tidak pernah menulisnya secara detil tetapi sebenarnya memiliki peran dalam menentukan Destiny seorang yang bernama Saul menjadi Raja atas Israel. Dia adalah Bujangnya Saul...

Seorang yang memiliki Hati Hamba adalah:

1. Seorang yang mau berusaha menyenangkan Tuannya (ayat 5-6).
Saat Saul sudah merasa frustasi dan menyerah untuk mencari keledai-keledainya yang hilang karena mereka sudah menempuh perjalanan yang panjang dan berhari-hari, Bujangnya Saul yang menemaninya dalam mencari keledai-keledai tuannya menyarankan Saul untuk tidak menyerah, maka itu dia rindu ingin menyenangkan hati tuannya. Dia ingin berhasil dalam tugasnya. Berhasil dalam menjalankan mandat dari tuannya.
Secara manusia dia bisa saja langsung menyetujui Saul untuk kembali pulang, tetapi tidak demikian ia mau keledai-keledai tuannya yang juga sudah menjadi tanggung-jawabnya bisa ditemukan.
Bujang itu sebelumnya juga gagal menjaga piaraan yang dipercayakan kepadanya. Tetapi tanggung jawabnya, mendorongnya untuk berusaha. Dia orang yang optimis.
Saul berkata, “Mari pulang!”
Bujangnya berkata, “Tunggu,…!!
Bujang itu mendapat mandat menemani Saul agar menemukan kembali keledai-keledai yang hilang. Itu targetnya. Menyenangkan hati tuannya. Meskipun membutuhkan waktu berharihari hanya mencari barang yang hilang. Tetapi semangat kerinduan untuk menyenangkan tuannya yang mendorongnya untuk tidak menyerah sebelum ia pulang membawa keledainya pulang kembali.

Sebagai orang percaya, kita adalah anak-anak Tuhan. kita adalah hamba-hamba Tuhan. kita wajib memberi yang terbaik bagi Tuhan. menyenangkan hati Tuhan. mungkin masih terjadi kegagalan-kegagalan disana-sini, persoalannya kita berhenti, dan putus asa. Dan tidak mau mencoba lagi. Jika kita mengasihi Tuhan, saya percaya dalam keadaan apa pun, kita akan berusaha bangkit untuk memberikan yang lebih baik lagi.

Jangan pulang ke surga sebelum kita memberi yang terbaik bagi Tuhan. Ada banyak orang buru-buru ingin cepat selesai, bukan dengan dasar menyelesaikan tugasnya dengan baik, tetapi supaya lepas dari tanggung jawab. Ada orang yang ingin sekali cepat kembali ke sorga, bukan karena rindu bertemu dengan Tuhan, melainkan karena frustasi, tidak sanggup menghadapi segala tanggung jawab yang diberikan.
Dosen saya mengkritisi lagu “Hati Hamba”. “Ku tak membawa apapun juga saatku datang ke dunia.” “tak membawa apa-apa saat ku kembali ke sorga.” Menurutnya itu bukan mencerminkan hati hamba. Haamba itu selalu menghasilkan buat tuannya.

Orang yang ingin cepat selesai dengan tanggung jawabnya, tanpa didasari kerinduan memberi yang baik akan menhasilkan sesuatu yang berbeda dibanding dengan orang yang benar-benar ingin loyal dengan Tuhannya.

Saya percaya sikap yang demikian akan menghasilkan sesuatu yang biasa-biasa saja, tetapi yang mempunyai kerinduan untuk menyenangkan Tuhan pasti menghasilkan yang lebih baik.

Kita mungkin ingat bagian kisah dari Martin Luther King, jr. suatu kali ia jalan-jalan di taman, kemudian bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menyapu di taman itu. Dia menghampiri, lalu berkata kepadanya, “Anak muda, sapu taman ini hingga bersih, berikan hasil yang terbaik, jika suatu waktu engkau tidak disini lagi, orang akan mencari-cari kamu. Dan orang akan berkata, Dimana pemuda yang dulu pernah bekerja ditaman ini, tidak ada orang yang membersihkan taman ini, sebersih pemuda itu.”

Bujang Saul, juga begitu. Gol-nya itu untuk menemukan keledai2nya.
Bagaimana dengan kita? Ada orang yang bangga, "lihat nih saya punya tanggung jawab besar, banyak kepercayaan yang diberikan kepada saya." Iya sih, bagus. Tetapi jika tidak bisa bekerja dengan baik, untuk apa?

2. Seorang hamba yang bergantung kepada Tuhan. (6)
Ayat 6 ini menunjukkan akan ketergantungannya kepada Tuhan. Akan imannya kepada Tuhan. Setelah gagal dalam berbagai cara untuk menemukan keledai yang hilang, maka ia ingat bahwa ada seorang hamba Tuhan. seorang pelihat.
Bujang Saul ini mengerti masih ada Tuhan dan Nabi-Nya yang sanggup menolong mereka dengan mengatakan bahwa ...segala yg dikatakannya pasti terjadi.. (ay 6) ini menunjukkan bahwa Bujang Saul ini mengenal Tuhan dan mempercayai NabiNya.
Kisah ini menunjukkan bahwa sekalipun dia hanya bujang, hanya hamba, namun ia mempunyai iman kepada Allah Israel.
Kalau kita cermati kisah bujang ini, kita mengingat kisah Namaan. Dimana seorang gadis kecil yang akirnya menjadi berkat.
Seringkali kita melihat dalam pelayanan kita, kita berkata “wahh, ini tuh sudah ga bisa. Sudah kartu mati.” Kita lupa punya Tuhan.
Seorang pernah berkata begini, “Jika kita mengandaalkan manusia, kita akan mendapatkan apa yang dapat di hasilkan oleh manusia, jika kita mengandalkan Tuhan, kita akan mendapatkan hasil dari pekerjaan Tuhan.”

3. Hamba yang mau berkorban untuk tuannya( ayat 7-8).
Setelah kita mengetahui dari awal, ketika mereka berhari2 mencari keledai yang hilang, pada akhirnya mereka mendapatkan jalan buntu. Atau tidak dapat menemukannya. Jalan satu-satunya adalah mereka mencari Pelihat. Mencari nabi Tuhan. Mencari pertolongan Tuhan. Tetapi, persoalannya adalah, seperti kebiasaan zaman itu, jika seseorang datang kepada Hamba Tuhan, mesti memberikan persembahan. Persoalannya adalah si Saul tidak bawa uang, tidak punya apa2 untuk diberikan kepada nabi. Tidak ada sesuatu yang berharga yang dapat ia berikan. Yang luar biasa adalah hamba ini mau berkorban.
Bujangnya tidak berkata, “Tuanku Saul, saya masih ada seperempat syikal perak, ini pakai punyaku dulu, tapi nanti sampai di rumah tolong di ganti ya,.” Tidak ada kata seperti itu.
Tidak lazim, jika seorang bawahan berkorban bagi tuannya. Tidak biasa jika seorang hamba memberi kepada tuan. Yang biasa terjadi adalah, kamu beri saya 1 saya balas 1. Kalau lebih, bayar donk, hitung lembur. Tetapi, ini yang terjadi, bujang ini memberi kepada Saul. Saya rasa ini sikap yang luar biasa. Sikap yang rela berkorban. Dengan kata lain, si bujang Saul ini memberikan lebih dari yang wajib ia berikan.
Seringkali karyawan hitung2an dengan Bos. Waktunya pulang, tetapi tidak pulang2 sudah mengerutu. Waktunya libur, tetapi harus masuk, ngomel-ngomel. Waktunya istirahat, karena banyak costumer harus rela tidak istirahat. Gaji di beri pas, seperti surat kontraknya tapi merasa kurang. Inilah yang luar biasa dari bujang Saul, memberi lebih dari yang seharusnya ia beri.
Hati hamba. Hati yang mengabdi. Hati yang tulus untuk melayani. Seharusnya ia diberi, justru bujang ini yang memberi.
Demikian juga seharusnya kita, jika kita memiliki sikap Hati Hamba, yang mau Menyenangkan Tuhan kita harus siap BERKORBAN...mungkin itu KORBAN waktu, perasaan, tenaga, uang bahkan APAPUN termasuk HIDUP KITA jika TUHAN minta..kita harus mau berikan karena kita tahu dengan melakukan hal-hal itu kita sedang menyenangkan Hati Tuhan.. Berhenti untuk minta orang lain BERKORBAN bagi kita mulai dari diri kita dulu mau BERKORBAN bagi sesama kita.

4. Seorang yang mengerti Otoritas Pemimpin (ayat 27).
Keberadaan bujang Saul di dekat Saul saya percaya bukan kebetulan. Jika kita kembali ke ayat sebelumnya, bujang Saul itu adalah orang pilihan ternyata. Tidak sembarang di tugaskan. Ada peranan Tuhan di dalamnya. Dia di tempatkan di sisi Saul, supaya Saul menemukan panggilan hidupnya.

Tentu, jika kita pelajari tadi, peran bujang ini, peran budak ini, peran hamba ini, peran orang bawahan ini menjadi penentu distiny bagi Saul. Berperan besar akan keberhasilan Saul. Kalau saja pada waktu Saul berkata, mari kita pulang, dan bujang itu berkata ayo kita pulang saja, maka pada waktu itu, Saul tidak bertemu Samuel. Samuel pun pada akhirnya tidak akan mengurapi Saul.

Namun, Tuhan tidak salah orang untuk menempatkannya di sisi Saul. Dialah yang membawa Saul sampe kepada panggilannya.
Tetapi yang menarik adalah, ketika Samuel menyuruh Saul memerintah bujang itu pergi meninggalkan mereka berdua, pergi mendahului mereka, bujang itu tidak berkata. “hai Saul, aku sudah berkorban demi kamu, berkorban banyak untuk kamu aku sudah memberikan semua yang aku punya untuk kamu, aku yang mempunyai ide untuk bertemu dengan nabi Samuel, koq aku justru di suruh pergi.” Alkitab tidak mencatat tentang itu. Setelah ayat-ayat selanjutnya nama bujang ini tidak disebut lagi, kecuali Samuel dan Saul saja. Itu membuktikan si bujang ini menuruti apa kata Saul, sebagai tuannya, sebagai atasannya.

Bujang ini tetap tunduk kepada otoritas, sekalipun sebenarnya bujang ini layak untuk diberikan penghargaan. Namun, bujang ini mengetahui bagiannya.

Saya selalu percaya, tentang otoritas. Mulai dari pemerintahan, perusahaan dan gereja pun ada rencana Tuhan disitu. Jika kita tahu panggilan kita, maka kita akan mengetahui bagian kita. Tunduk kepada otoritas. Hormat kepada struktur pemimpin kita. Saya percaya, berkat itu diturunkan melalui pemimpin kita.
Sebelum saya masuk sekolah teologi, dulu ada ketua pemuda, yang secara umur masih lebih saya. Kadang muncul pikiran, waah kamu itu masih anak-anak, main perintah-perintah saya aja,. Adaa loh saudara. Tetapi ya dgn sedikit terpaksa mesti ikut, karena dia secara organisasi ada di atas saya.

Seringkali, kesombongan ini menjadi penyakit kita. Kita merasa yang palaing senior, yang paling kuat, yang paling pinter, sehingga merasa tidak harus diperintah-perintah. Tidak perlu untuk disuruh-suruh. Bagaimana pun, senioritas itu harus dihormati, tetapi tetaap harus ingat senioritas harus tetap di bawaha otoritas.
Jika organisasi mau berjalan dengan baik, harus tunduk kepada otoritas. Masing-masing ada bagiaanya yang perlu untuk dilakukan. Inilah sikap dari kerendahan hati. Yesus yang adalah Tuhan, Raja segala raja, mau melayani kita, yang seharusnya melayani Dia.

Ilustrasi

Pegunungan Himalaya yang terbentang di daerah perbatasan Butan, Tibet, India, Nepal, Pakistan, Burma, dan Afganistan merupakan pegunungan tertinggi di dunia. Puncak tertingginya adalah puncak Everest (8849 meter di atas permukaan laut). Banyak orang berusaha untuk menaklukkan puncak tersebut.

Tanggal 29 Mei 1953, Edmund Hillary, asal Inggris menjadi manusia pertama yang berhasil menaklukkan puncak Everest. Kesuksesannya menjadi sangat fenomenal pada zamannya. Apalagi pada waktu itu, Inggris baru saja pulih dari dampak perang dunia kedua.

Di balik kesuksesan Sir Edmund Hillary, ada suatu kisah yang menarik. Salah seorang wartawan memutuskan untuk mewawancarai salah seorang anggota tim pendakian Hillary. Ia adalah seorang penduduk asli Nepal yang bernama Tenzing Norgay. Norgay bekerja sebagai seorang sherpa, penunjuk jalan bagi pendaki gunung. Wartawan itu bertanya, “Bila ia seorang penunjuk jalan, bukankah seharusnya ia yang berada di depan Hillary, berarti ia adalah orang pertama yang sampai di puncak Everest?” Tenzing Norgay menjawab bahwa memang benar ia berjalan di depan Hillary, tetapi ketika kurang satu langkah untuk sampai di puncak, ia menyingkir dan mempersilahkan Edmund Hillary untuk maju dan menjadi orang pertama yang sampai di puncak itu.

Wartawan itu penasaran, ia bertanya kembali, “Mengapa Anda lakukan itu?” Dengan tenang Norgay menjawab, “Karena itu bukan impian saya. Itu adalah keinginan Edmund Hillary. Keinginan saya adalah membantunya untuk mewujudkan keinginannya.”

Menjadi hamba bagi sesama bukan sebuah teori atau dongeng belaka, tetapi merupakan suatu wujud nyata dari sebuah keinginan hati. Adakah Anda memiliki hati seorang hamba?

APA YANG DIPEROLEH BUJANG SAUL??

MENDAPATKAN KEHORMATAN. Ayat 22 bahwa si Bujang ini mendapatkan kehormatan bersama Saul untuk duduk di bagian utama di hadapan para pembesar dan menikmati jamuan mewah yang dihidangkan Samuel. Bahkan ia bukan undangan (Ay. 13).



2 comments: