May 2, 2012

#11 Dear my Lawyer

Dear tuan pengacara terhormat!

Kau itu adalah pengacara pribadiku, bukan penasehat pernikahanku, kau harus mengingat hal itu sobat!

Kau tau betapa terkejutnya aku siang ini?
Begitu aku sampai di ruang tunggu bandara, aku melihat wanita itu, masih dengan hobby nya dulu, terkadang aku heran sama dia. Tingginya udah 165, tapi kok hobby pake heals sih? untung lah tinggiku 180, kalau tidak pasti bisa malu jalan sama wanita itu.

Ahh.. sudah lima tahun lebih, aku dan dia tidak pernah lagi jalan bareng. Rasanya sangat nyaman setiap kali ada dia di sampingku. Di sebelah kiriku, di pundakku lah dia sering menyandarkan kepala dan memejamkan matanya. Di dada kiriku inilah dia selalu kudekap.

Apakah dia masih memakai parfum yang sama? Wangi lavender memang paling cocok untuknya, 

Ah sudahlah bukan saatnya aku menceritakan masa-masa indah itu kan? Kau berhutang penjelasan padaku, mengapa aku dapat tempat duduk bersebelahan dengan nya? 

Apa kau pernah merasakan sepertinya jantungmu tak bisa berdetak lagi? Aku sungguh takut, kalau-kalau dia melihatku saat aku meminta bertukar bangku dengan pria yang ada di bangku seberang.

Untunglah, dia hanya menatap ke jendela, ntah apa yang dia pikirkan aku tidak tahu. Tapi kalau aku boleh jujur, sobat. Dia terlihat berbeda hari ini. Dia membawa sebuah buku di pangkuannya, aku tidak tahu itu apa. Tapi sewaktu naik ke pesawat, aku melihatnya membuang buku itu di tong sampah. 

Ya kau pasti bisa menebak apa yang aku lakukan. Buku itu itu ku ambil, dan aku mulai membacanya ketika pesawat telah meninggalkan bumi untuk bercinta dengan langit. Aku membukanya sobat. Satu lembar ke lembar yang lain. Setiap lembarnya menceritakan dia dan.. 

Bisa kah kau tebak, kisah siapa saja di situ? Itu kisahku dengan dia. Aku masih bisa mengingat setiap kejadian itu. Itu buku hariannya dulu. Lembar pertamanya adalah cerita hari pertamanya bertemu dengan ku. Walaupun tidak ada cerita tentangku di lembar pertama, tapi aku ingat tanggal itu. Dan semakin aku membukanya, maka kisah tentangku lah yang paling banyak.

Tapi jujur sobat, bukan itu yang membuatku terpuruk. Halaman terakhir buku itu lah yang membuatku terluka.
15 Maret 2012
Ntah kau ingat atau tidak. Tapi enam tahun yang lalu adalah hari aku menjawab iya untuk menjadi kekasihmu. Dan hari ini, adalah hari kita mengakhiri semuanya. Berbahagialah. Aku mencintaimu sejak saat itu sampai sekarang dan aku tidak tahu sampai kapan.
Tersenyumlah untukku.
Dan saat aku melihat ke arah kursinya, dia masih memandang awan-awan di balik jendela pesawat itu. Aku tahu dia memang menyukai awan, tapi aku juga tahu, saat dia berada terlalu dekat dengan awan, maka sisi melankolisnya akan kambuh. Itu memang benar, aku melihat tangannya mengusap wajahnya. Lalu dia membaringkan kepalanya ke kursi dan memejamkan matanya.

Sobat, aku tidak tahu apakah pada saat itu hakim udah ketok palu atas perceraian kami atau tidak, tapi aku tidak ingin dia menangis lagi, dan aku pun sejujurnya tidak sanggup hidup tanpa dia.

So.. kau menang sobat, aku mengambil kembali posisi bangkuku, dengan lembut, aku menyelipkan tanganku di balik kepalanya. Kepala istriku, jika kau masih tidak setuju dengan ide perceraianku. Aku memeluknya. Aku merindukan wanginya. Tidak peduli, aku bukan pria pertama baginya, tapi aku ingin menjadi terakhir dalam hidupnya.



Sobat, dengarkan aku. Jika kau memang belum mengurus perceraian itu, maka segera batalkan. Tapi jika hakim sudah mengetuk palunya, maka segera urus caranya agar aku dan dia bisa rujuk kembali. Aku cuma mau wanita ini. Aku tidak butuh yang lain.

Regards,

Sahabatmu.



No comments:

Post a Comment