Mar 28, 2016

Dear Future!


Dear Future....
Aku tau kalian pasti akan menyambungkan kalimat tersebut dengan husband/wife...
Well wife/husband they are our future right?

I have a little story, why little?
Because so much beautiful story out there, maybe you can cry or laugh until you dry your tears.

Tapi aku sejenak ingin mengajak kita untuk diam sejenak dan hening..
Buat kamu yang saat ini sedang membayangkan dan mengira-ngira siapakah masa depan kamu.
Juga buat kamu yang sedang melihat-lihat paket foto prewedding, design cincin pernikahan, jas pernikahan, gaun, sepatu, or maybe a short honeymoon.

Hei, tenang... aku tidak akan menyuruh kamu untuk berhenti melakukan itu semua..
Take you time as much as you want, create your own wedding plan in your head. Don't worry, dear...
It's okay if it's not work the way you planned. It's okay if it's (s)he not as perfect as your dreams. It's okay kalau dia juga tidak sesuai keinginan keluarga kamu. It's okay kalau souvenir pernikahan kalian bahkan tidak ada. It's okay kalau untuk sebuah gaun pernikahan dan pesta yang sekali seumur hidup itu kamu sampai berhutang. It's okay, jika kamu merasa kecewa dengan dekorasi pernikahanmu yang tidak seperti foto-foto di google. It's okay....

Selama ketika kamu menjalankan semua itu, kamu dan dia sama-sama "sepakat", semua keputusan-keputusan yang kamu ambil untuk mempersiapkan pernikahan itu hasil "sepakat" pasangan. Keputusan itu, yang mungkin dipandang sebelah mata oleh orang banyak, akan menjadi berkat dalam hidup kalian.

Dear friends,
Adakah dari kalian yang merasa betapa menariknya Tuan yang Mahakuasa itu menuliskan kisah cinta kalian? Coba kalian flash back, bagaimana kamu dan dia bertemu, bagaimana hati kalian mulai sama-sama sepakat menuju gerbang yang namanya "pernikahan"?

Aku akan mengisahkan kisahku, kisah sederhana yang super cepat. 
Aku dan dia, yang sudah menjadi saudara sejak kami lahir. Bertemu pertama kali ketika aku masih seragam putih-biru, sementara dia putih abu-abu. Dia yang aku kenal sebagai "orang kampung" yang lagi minta tolong dicariin kerja sama Bapak. Well, sejujurnya waktu ngeliat dia pertama kali, aku tidak sangka kalau dia bisa lulus dan ketrima kerja di Jepang. Tapi ternyata dia ketrima. Just it, aku kenal dia sebagai Zainal dari Tarean. Sejak pertama kali kerumah yang aku tahu tentang dia adalah dia keluarga yang tinggal di tarean dan dia memanggilku BIBI! Padahal dia lebih tua dariku.

Okai, aku SMA, kuliah, kerja. Menurut dia, dia pernah main ke kosanku ketika aku kuliah, but sorry to say I always failed to recall that memory a.k.a LUPA! Aku kuliah punya pacar dan segala drama percintaannya, aku kerja, putus, galau menanti pasangan hidup, jatuh cinta, patah hati, patah hati lagi, bangkit.

Bangkit terakhir harus dimaknai dengan sangat serius! Karena aku benar-benar mendoakan dengan sungguh pada Tuan Penciptaku. Aku mau menikah! 

Doaku di 2015: lulus s2 dan menikah. Hingga di akhir bulan 2015, aku sadar menikah itu adalah hil yang mustahal dilakukan di 2015, so I changed my pray. Desember 2015 pengen ngerayain natal sama calon pasangan hidup. Dan aku gak tau ada hujan badai apa yang mebuatku menawarkan tiket natal sama si cucu Bapak dari Tarean. And then our stories begin.

Don't ever dreams a relationship without tears! That's a bullshit relationship. Airmata akan menjadi teman perjalanan hubungan kalian, tawa tentu harus selalu ada, tapi hindarilah percekcokan, saling teriak dan terutama kekasaran. 

This is the years. The years that I have prayed so many times. Tapi walaupun begitu, banyak hal-hal yang mesti kami hadapi. Hidup kedepan bukan semakin mudah, semakin sulit pastinya.

Dear friends,
Bertemu dengan future husband/wife bukanlah kebahagiaan terutama. Pernikahan yang sesuai dengan mimpi-mimpi kalianpun hanyalah euforia sehari-dua hari, tapi setelah itu....

Dear Future,
Apapun yang akan kita hadapi kedepannya, kiranya Tuhanlah yang selalu menjadi andalah keluarga kita.

Dear Friends,
Berdoalah dan bertumbuhlah. Berdoalah dan kerjakanlah yang menjadi bagianmu....


No comments:

Post a Comment