Dec 3, 2015

Aku Merindu

Aku merindu.
Satu kalimat dua kata dengan inti RINDU. Siapa yang tidak mengenal rindu itu? Hanya saja yang aku rindukan itu yang tidak aku kenal.
Aku rindu kamu. Satu sosok yang mungkin belum aku kenal. Satu sosok yang mungkin belum pernah aku temui.
Aku berdoa setiap hari, agar rindu ini segera sampai padanya.  Aku memohon setiap hari agar Tuhan berbaik hati padaku, agar pintu yang bernama JODOH itu segera dibukakan. Aku menggedor dipintunya bukan karena aku usiaku yang semakin bertambah, bukan karena orang tua yang selalu meminta. Aku meminta pada Tuhan, karena aku RINDU.
Apalagi yang harus aku lakukan?
Tanyaku tiap hari. Apa yang harus aku lakukan agar aku siap?
Aku tahu kehidupan pernikahan itu bukanlah kehidupan yang gampang ataupun indah. Bukan berarti setelah menikah, hidupku akan lebih baik. Pasti lebih sulit! Lebih banyak orang yang harus dimengerti, lebih banyak orang yang harus diurus. Padahal kau tahu siapa aku, bukan?
Aku si wanita jalang yang bahkan mengurus diri sendiri masih becus. Si wanita egois yang tidak mau mengerti orang lain. Si sombong yang selalu membanggakan dirinya. Bagianmakah yang melayakkanku untuk bermimpi tentang pernikahan.
Walaupun begitu aku tidak mau menikahi seseorang hanya karena tidak ada pilihan lain. Aku tidak mau menikah karena paksaan orang tua. Aku tidak mau menikah karena usia ataupun lingkungan yang memaksaku. Aku mau menikah karena memang aku yang INGIN. 
Saat sekarang aku ingin menikah. Jangan tanyakan kenapa, karena setiap orang punya alasan tersendiri dan setiap orang punya perjalanannya sendiri hingga keinginan itu bisa muncul dihatinya. Aku, tiga tahun lalu, tidak ingin menikah. Aku merasa aku tidak perlu laki-laki dan pernikahan itu hanya sesuatu hal yang melelahkan dan banyak tekanan. Aku yang sekarang ingin menikah. Sekali lagi bukan karena aku merasa butuh laki-laki atau alasan apapun yang mungkin terlintas dibenakmu.
Aku butuh seorang suami sebagai seorang kepala, yang tidak akan pernah menggantikan Yesus dalam hidupku, tapi dia bisa “menjalanankan” pernanan Tuhan sebagai kepala rumah tangga kami. Karena Yesus yang adalah kepala Gereja, begitu juga suami adalah kepala rumah tangga. Bagi dia yang belum mengerti makna tersebut, kira Tuhan memberikannya pengertian tersebut.
Mungkin terdengar klise dan terlalu rohani. Tapi kau akan mengerti kelak, kenapa aku mengharapkan itu.
Aku merindu. Hal ini akan aku ulangi terus. Karena sungguh hatiku merindu.
Ya, Tuhan, kabulkanlah doa-doaku. 



No comments:

Post a Comment