Sep 27, 2015

Mom dan Kebaya

Setelah hampir satu bulan vakum nulis di blog lagi. Atau tepatnya vakum nge-galau di blog. Hari ini aku menemukan alasan yang sangat amat berhasil bkin aku galau mampus!

Tepatnya mukin bukan galau ya,... Tapi bikin aku nangis sejadi-jadinya. Sedihnya gak ketulungan. *maaf majas hiperbola on banget ya bo*

So today I received my graduation kebaya from my mom.. Jadi kebaya ini dibuat dengan model dan ukuran terserah nyokap. I'm out of this kebaya. Semuanya aku percayakan ke nyokap. Well, selagi dalam masa pembuatan ini pun, aku sempet ngorek-ngorek nyokap.. "Harga jaitnya berapa, mak?"

But you know right, sometimes she can be a quite mom.

And tadaaaaaa... When me and my friend opened the package, she just gasp and said "kayak lo mau nikah aja sih, Yul"

Ahhh.. moooommmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm!!!!!

I don't know what to do now...

Actually this kebaya is too much, isn't it?. But I don't want to hurt you by not using this. Mom... I know.. I know how much you love me. I know your dreams.

Pernah waktu aku pulang ke Medan, ketika matahari belum terbir dan mataku serta tubuhku terlalu lelah untuk bangun. Aku mendengan Mamak berdoa sambil meneteskan air mata. Aku, aku, dan aku... Hanya itu isi doanya. Aku ingin bangun dan memeluknya, tapi sayangnya aku gak berani. Karena aku takut mengecewakan dia.



Papa adalah sosok lain lagi... Sosok yang jarang sekali mengungkapkan keinginannya tentang aku di depanku. Dia adalah sosok yang selalu memberiku kebebasan dalam setiap keputusan yang aku ambil. Baik sekolah, pekerjaan, mau beli ini atau itu, mau jalan-jalan kemana. Bahkan dia adalah orang yang mendukungku untuk solo traveling. Walaupun aku tahu, jauh dilubuk hatinya dia takut putri semata wayangnya ini nyasar di negri orang. Tapi dia selalu mendukungku. Dia jarang menasehatiku. Tapi aku masih ingat dulu di masa kritisnya dia menasehatiku tentang pekerjaanku. Dan itu masih aku ingat sampai sekarang.

"Kerjakan apapun yang sudah menjadi tugasmu. Walaupun kau disuruh-suruh kayak babu, kalau kau masih bisa kerjakan, kerjakanlah." Pesan ini yang aku tangkap sebagai pesan "Do your best, dear." Kalaupun dibelakang ada yang ngomongin ini dan itu, kerjakanlah apa yang sudah menjadi tugasmu.

Dan si "outsider" yang selalu support aku ini, memberikan doa yang pertama kalinya dia mengucapkan ini di depanku. Pertama kalinya dalam hidupku aku mendengarnya mendoakan kisah perjodohanku. "Kiranya setelah kuliahnya beres, Tuhan pertemukan dia dengan jodohnya."

Aku tahu. Banyak yang menilai aku sebagai wanita yang kebelet nikah. Entahlah... Aku pun tidak tahu. Aku hanya ingin Tuhan mendengarkan dan mejawab doa-doa kedua orang tuaku.

Ada juga yang bilang, jangan menikah hanya karena itu adalah keinginan orang tua, karena tuntutan usia dan lingkungan. Menikahlah ketika kau tahu bahwa itu adalah panggilanmu. Ketika Tuhan sudah menjadi yang nomor satu dalam hidupmu. Ketika kamu tahu bahwa memiliki suami tidak bisa menjawan kesepian hatimu. Kerinduan, suka cita di hati hanya bisa di isi oleh Tuhan Yesus.

Aku tahu pernyataan mereka tidak salah. Akupun sedang bertanya pada Tuhan. Kapan waktu Mu, ya, Tuhan? Karakter apa dalam diriku yang masih harus aku ubah sehingga Kau masih menahanku dari status istri orang. Atau dosa apa yang masih harus aku akui di hadapanmu, ya, Bapa? Mungkinkah masih ada kepahitan yang harus aku bereskan, Yesus?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang belakangan ini selalu menggangguku. Tapi terkadang aku berfikir, mungkinkah Tuhan masih menginginkan aku sendirian agar semakin hari semakin belajar mencintai Dia lebih dari apapun?

Well, aku berdoa ya, Bapa. Kalaupun waktuku masih lama, berilah hamba kesabaran dalam masa penantian ini. Berilah juga kesabaran dan suka cita dihati kedua orang tua hamba. Akupun tidak tahu ya, Tuhan sampai berapa lama lagi. Tapi kiranya, ya, Tuhan, janganlah aku menjadi wanita yang kehilangan hikmat dan kerajinan untuk menyenangkan hatiMu.

No comments:

Post a Comment