Aug 12, 2015

Singapore day 1

Hi old life,
This is the story of you when you and your crazy mind decided to had solo traveling and Singapore is the destination.

I try to write this, a piece of memory that waiting to be written. I will write this in Bahasa, since you know how bad we at vocabulary.. :))

7 Juli 2015, perjalanan ini di mulai. Perjalanan untuk hati yang ingin mendeklarasikan kebebasannya. Kebebasan dari rasa bersalah dan bebas dari rasa terluka. Ini adalah perjalanan menuju 26. Usia yang baru dan sudah tidak muda lagi.

Perjalan ini dimulai dengan mengisi lembaran pertama dari passport yang sudah satu tahun lebih kosong dan rindu ingin dibawa pergi. 

Perjalan pertama pergi meninggalkan negri tercinta, menuju negri asing yang dikatakan aman. Negri yang luasnya tidak sampai seluas Jakarta, tapi biaya hidupnya lebih mahal daripada Jakarta. 

Singapore yang menawan kata mereka, bagi saya saat itu, ketika saya menunggu di ruang tunggu itu, adalah suatu tempat yang menakutkan. Tanpa teman dan dengan keterbatasan bahasa dan keterbatasanan finansial juga. 

Sampai detik ini rasa takut yang saya rasa ketika saya hendak boarding masih terasa. Ujung kaki gemetaran, dada yang terus berdetak lebih cepat. Apalagi saat itu kebanyakan yang pergi adalah orang-orang kulit putih dan mata sipit, dengan bahasa daerah meraka yang membuat saya semakin grogi. But, thanks to God, akhirnya saya menginjakkan kaki ke kota itu.. Singapore.


Sudah mempersiapkan diri dengan informasi mengenai jalur ke Chinatown. Saya pun mengikuti petunjuk jalan menuju MRT, tapi.... 

MRT down! Semua penumpang yang hendak menggunakan MRT diarahakan menggunakan bus. Waktu menunjukkan pukul 10 malam Singapore. Saya memang sering keluar malam selama di Jakarta, tapi itupun bisa dipastikan saya akan menggunakan taxi dengan jalan Jakarta yang sudah familiar dengan saya. Tapi hari itu, di negara orang dan malam hari saya menaiki bus yang tujuannya bukan Chinatown. Bus dari Changi langsung ke Chinatown tidak ada.

Bus yang saya naiki adalah bus tujuan akhir hougang. Dan saat naik bus ini, dolar Singapore saya yang paling kecil adalah 50 SGD sementara biaya perjalanan paling banyak hanya 2 SGD. Jantung sayapun berpacu makin cepat, saya tidak tahu jalanan dan saya tidak punya uang kecil. Sempat berpikir untuk turun saja tanpa perlu bayar, tapi itu sama saja seperti berbohong.... Nanti apa kata anak sekolah mingguku?? :(

Dalam perjalanan yang panjang dengan tas ransel yang semakin berat rasanya, saya mencoba memberanikan diri bertanya pada salah satu penumpang mengenai transportasi ke Chinatown dan diapun menyarankan saya menggunakan MRT. Padahal setahu saya MRT sedang down, dan dia dengan baik hati mencari tahu dengan aplikasi gothere.sg. Sebenarnya saya juga punya applikasi ini, tapi kan saya belum beli kartu Singapore..

Sesampainya di Hougang, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya tidak punya uang kecil.. :(
Saya pun jujur sama supir busnya dan Puji Tuhan, dia bilang: GRATIS!! hahaaahahaha. Hal ini dikarenakan MRT down sehingga beberapa jalur bus di gratiskan. Dan seketika itu juga saya takjub! Wowwwww... how Singapore organized their transportation systems? So all of bus drivers can have the same information? Karena kalau ini terjadi di Indonesia?? Ah, sudahlah...

Hougang itu ternyata bukan hanya terminal bus, tetapi juga stasiun MRT. Saya menunggu di antrian bus yang menurut petunjuknya akan mengarahkan saya ke Chinatown. Saya menunggu hampir sepuluh menit dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dalam hati saya terus berdoa, dan ada sesuatu yang mendorong diri saya untuk bertanya kepada gadis didepanku. Alhasil dari dia saya tahu kalau MRT jalur ungu tidak mati dan masih beroperasi. And again, praise the LORD!

Jalur Ungu itu adalah MRT menuju Chinatown dan berkat gadis itu, saya bisa ke penginapan. Tapi belum sampai disini. Ketika sudah di Chinatown dan menuju arah jalan dimana penginapan saya berlokasi, saya kebingungan lagi. Ini letak penginapannya dimana? Mana saya kan gak bisa akses google map. Dan sekali lagi Tuhan tidak lepas kendali, saya bertemu dengan wanita (yang kebetulan adalah pegawai 5footIn Project2) , yang menunjukkan jalannya.

Dan malam itu, chinatown sudah tutup, kuil yang didepan penginapan saya sudah sepi tapi wangi-wangian dari kuil itu sangat menusuk hidung sehingga saya jalan semakin cepat menuju penginapan. 

Ah, penginapan ini lain cerita lagi. Dengan culture yang berbeda, kamar mandi yang sempit dan kamar yang campur. Jujur saya hampir menangis malam itu dan ingin segera kembali ke Indonesia. Langsung saja Tuhan tegus saya. Ini adalah keputusan saya dan saya bukan anak kecil yang bila mengalami kesulitan langsung menangis dan menyerah. Saya harus bisa!!! Saya harus bisa melaluinya.
Be brave, yu!! I said this again and again.
Sedikit menyelipkan cerita ketika ditanya kenapa saya melakukan solo travelling. Ini adalah keinginan saya yang sudah setahun lebih ingin diwujudkan, tapi waktunya belum ada. Entah kenapa saya ingin, minimal sekali dalam seumur hidup ini, saya ingin melakukan solo travel. And I did it.



Wait for the next story, dear..:*

No comments:

Post a Comment