Nov 2, 2014

When God say: NO

What will you do, if the answer is 'NO'?

Jadi beberapa minggu lalu, ada kejadian di sekolah minggu yang bikin aku sulit tidur. Semua berawal dari kisah anak sekolah minggu yang aku kasihi dan yang menurut aku paling lucu.

Namanya Stefan, anak ini menarik karena dia mirip banget sama anak ibu kosan. Cakep. hahahaha

Jadi si penyuka brokoli ini, pada hari itu mengeluh karena teman-temannya mengeluh. #eh
Jadi kisahnya ketika laoshe-nya bertanya kepada anak-anak, apa yang membuat mereka mengeluh?
Kemudia anak-anak mulai berceloteh panjang kali lebar kali tinggi... 

  1. Gak dibolehin main
  2. Adek gangguin main
  3. Kakak gak kasih pinjem mainan.
  4. .....
Sementara mereka terus berbicara, Stefan yang kebetulan duduk paling belakang, berteriak.. (walaupun teriaknya kalah dengan suara anak-anak lainnya yang masih mengeluh, tapi aku dan salah satu GSM lainnya mendengar)
"Mereka tidak bisa bersyukur punya saudara. Aku pengen punya adek, tapi gak punya."

#deg... Antara mau nangis atau peluk anak ini. 
Ternyata aku dan dia bukan hanya sama-sama penyuka brokoli, tapi kami sama-sama rindu punya saudara kandung.

GSM yang mendengar keluhan Stefan dengan sabar bertanya,
GSM: "Stefan udah doa?"
S: "Udah laoshe... Tapi belum dikasi"
GSM: "Stefan sabar dan terus berdoa"

Jujur, aku gak berani buat memberi nasehat itu. Karena aku berfikir, bagaimana menjelaskan pada anak ini kalau tekadang jawaban doa itu adalah "TIDAK"
Bagaimana kalau Tuhan memang menggariskan jalan kehidupan sebagai anak tunggal untuknya?

Aku teringat akan doa-doa yang aku panjatkan ketika aku duduk dan berdoa bersama ibuku untuk memohon diberikan adik laki-laki. Sejak aku berusia 3 atau 4 tahun, hingga aku kelas tiga SD, aku selalu mendoakan hal itu. Bahkan setiap hari ketika aku SD, yang kebetulan aku sekolah di sekolah Katolik yang memiliki gereja katedral yang besar, aku berdoa dan berlutut di ruangan doa.

Sayangnya, jawabnya adalah tidak. Saat itu aku belar sesuatu di bangku SD. Aku lupa apa nama pelajaran itu, yang pasti aku tahu bahwa jika seseorang mengidap penyakit diabetes, maka sudah tentu anaknya pun akan mengidap penyakit yang sama. 

Ketika aku berusia delapan tahun, ayahku dinyatakan mengidap penyakit itu. Untukku yang masih berusia dibawah 10 tahun, hal itu tidak membuatku menangis. Tapi yang aku tahu sejak itu, aku tidak mau punya adik yang akan mengalami kesulitan karena dia mengidap penyakit seperti Papa. Dan akupun berhenti berdoa memohon adik pada Tuhan. Aku pun tidak pernah berdoa meminta kesembuhan Papa pada Tuhan. Entahlah.. mungkin saat itu aku tahu kalau penyakit itu memang tidak bisa sembuh. 

Itu adalah pertama kalinya doaku dijawab TIDAK oleh Tuhan. Kalau aku daftarkan doa-doa ku yang jawabannya TIDAK, maka kau akan bosan membacanya.

Tapi pelajaran yang aku dapatkan dari kisah anak sekolah minggu adalah ketika jawaban Tuhan adalah tidak, dia juga menyiapkan hatiku untuk menerima jawaban itu.

Sama seperti saat ini, aku sedang mendoakan sesuatu hal selama satu bulan lalu yaitu Oktober. Dan Tuhan menjawab TIDAK. Sakit sih... Banget malah. Tapi Puji Tuhan, air mataku tidak menetes sedikitpun. Aku bersyukur, karena jawaban dari Tuhan itu segera datang. :)

Tadi malam pun, setelah aku tahu jawabannya TIDAK, aku teringat satu lagu favorite aku ketika aku menjadi anggota padus, bahkan sampai sekarang!
S'rahkan khawatirmu padaNYA
S'rahkan s'gala bebanmu di kakiNYA
Bila engkau merasa bimbang dan kecewa.
S'rahkanlah khawatirmu padaNYA
Ku s'rahkan khawatirku padaMU
Satu hal yang aku syukuri, ternyata banyak teman-temanku yang memberikanku dukungan. Bahkan ketika jawaban doa itu TIDAK, aku punya sahabat-sahabat yang memberikanku kekuatan dan juga doa. Ini berkat mereka juga, aku bisa tetap berdiri dan tersenyum... 


Terimakasih Tuhan Yesus yang paling manis..
Kau menunjukkan padaku cinta yang lain, yang bertaburan di mana-mana..
Terimakasih karena mencintaku sedemikian rupa, walaupun aku sering kali jatuh dalam dosa, bahkan aku bisa saja dikatakan tidak layak menerima cintaMu.

Love you martubi-tubi oh Yesusku

2 comments:

  1. Nice story
    Jangan pernah berhenti berpengharapan sama Tuhan Yesus ya pal !
    :)

    ReplyDelete