Mar 3, 2014

My Pijama Party

 

Apa yang muncul di kepala kalian waktu baca tulisan diatas?
Baju tidur? Pesta? Makan-makan?

Bagi gue pijama party, artinya exhale..
Saat-saat yang aku tunggu untuk melepaskan semua masalah dan beban-beban yang menggangguku.

Curhat dan sharing. Ini adalah hal yang sering aku dan sahabat-sahabatku lakukan. Walaupun kami sering curhat di group WA, tapi rasanya lebih plog kalau udah ketemu dan cerita langsung.  Jadi kalau nangispun, ada yang nawarin tissue dan pundak. hahaha

Gak pernah ada jadwal tertentu untuk kami, tapi biasanya kami selalu mencoba mencari waktu yang bisa bertemu. Walaupun hanya bertiga doang, yang di Medan cuma bisa gigit jari.. hahaha

Jadi bulan kemaren, kami udah berencana untuk ketemu akhir Februari, sehabis acara pemuda di gereja. Tapi sayangnya hujan lebat melanda Jakarta, jadilah kami batal ketemu, bahkan batal ke gerejanya.. >.<

Nah, dua hari setelah itu aku mendapat kabar kalau Ina sakit dan dirawat dirumah sakit. Iya, sih, ini ibu satu emng langganan ama Rs. Jakarta. (Serius, ternyata banyak orang yang gak kenal sama Rs. Jakarta, mereka malah bilang ke gue, 'Iya, gw tau rumah sakitnya di Jakarta.. ' hahaha..)

Nah, akhirnya aku dan Hilde sepakat untuk ketemuan, dan singkat cerita kami bertemu dan akhirnya pijama party di rumah sakit. Buhahahaha..
Yang sakit pun ikut bergadang..

Cerita itu selalu dimulai dari menceritakan part by part randomly. Yang satu bercerita menimpali yang lainnya. Begitulah kami, apapun kami ceritakan, termasuk menjelek-jelekkan sahabat kami yang lain. hahaha

So, I always start my story from my self. Aku cerita tentang kerjaan dan orang-orang yang ada di dalamnya, yang memberiku semangat atau yang teman berbagi tawa. Kemudian berakhir dengan menceritakan mantan. Mantan lagi.. Mantan lagi..

Soalnya kita bertiga emang lagi jomblo... dan dalam masa move on.. Please deh yuu udah satu tahun, tapi belom bisa move on?

Ya, lemparkan pertanyaan tersebut ke sahabat saya yang meyalahkan dirinya karena kekasihnya selingkuh... ups..

Aku tidak bermaksud untuk membuka aib sahabatku atau diriku sendiri.

Aku hanya ingin berbagi, perasaanku tentang mereka. Kami berempatnya, tepatnya bertiga saat itu, memiliki karakter yang berbeda-beda. Yang satu hoby bercerita sana dan sini yang mana kesimpulannya ataupun ceritanya adalah sesuatu yang sudah sering kami dengar. Yang satu lagi adalah mami yang punya banyak ide dan selalu wise. Padahal kan dia anak kedua.

Persahabatan kami mengingatkanku tentang pembicaraan dengan teman kosan. Menurut dia masa kuliah adalah masa yang paling indah, karena dia tidak tinggal bersama keluarganya lagi.

Bagiku, masa yang paling indah adalah masa SMA. Entah mengapa jaman SMA itu aku gak pernah merasa ada kesenjangan sosial, selama hidup diasrama aku tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang munafik. Kami terbiasa tampil apa adanya. Walaupun ada yang saling menjelek-jelekkan dibelakang, tapi kami bukanlah orang-orang yang lantas menusuk teman dari belakang. (Dalam kasus ini, kami yang aku maksud adalah aku dan sahabatku)

Mungkin ada satu atau dua orang yang seperti itu diantara teman satu asramaku. Tapi aku beruntung karena aku bersahabat dengan sahabatku yang sekarang ini. Kami juga terbiasanya membicarakan sifat buruk seseorang langsung didepannya.

Hal-hal ini masih terbawa ketika aku kuliah, yang mana ternyata ada orang-orang yang tidak bisa terima. Alhasil aku sampai detik ini memiliki hubungan yang kurang baik dengan seseorang. Aku tidak mau menyalahkan orang tersebut. Tapi sebagai orang bijak, orang lain juga pasti dapat melihat siapa akar permasalahannya.

Lupakanlah soal luka itu, yang pasti dimasa kuliah itu, aku menemui orang-orang dengan karakter yang tidak bisa aku tebak dan yang membuatku merindukan masa SMA.

Sekarang kembali ke sahabat-sahabatku. Sekarang ini kami berempat sudah menjadi guru sekolah minggu. Bagi saya hal ini cukup unik dan mengingat kami berempat juga dulunya berasal dari satu kelompok perkantas yang sama. Rasanya kami seperti kembali ke masa lalu. Masa ketika kami menjadi putri-putri kesayangan Allah.

Setelah aku renungkan sambil menulis blog ini, aku sadar ketika masa kuliah aku jauh dari Tuhan, dalam artian aku tidak sedekat ketika aku masa SMA. Hal ini juga mungkin dipengaruhi lingkungan. Tidak ada komunitas rohani yang mendukungku dan aku pun kurang aktif mencarinya. T.T

Jadi, sekarang ini aku selalu menikmati acara 'exhale' kami. Mau itu bentuk pijama party di kosan siapa, atau bahkan tidur dirumah sakit. Tidak peduli dimanapun tempatnya yang terpenting adalah kebersamaan kami dan kami selalu saling mendoakan.

Setidaknya disaat kami bersama, kami selalu menyempatkan diri untuk untuk saling berbagi dan bertanya kabar.

Aku sudah bilang kan? Aku beruntung punya sahabat-sahabat seperti mereka.


No comments:

Post a Comment