Pages

Showing posts with label Tulisanku. Show all posts
Showing posts with label Tulisanku. Show all posts

Feb 20, 2015

Dear 2017!


Hei 2017!

Mungkinkah?
Pasti mungkin, dong, ya?

Tahun lalu juga aku bilang begini, "Tahun depan mau ke Jepang!" dan sekarang tiket pulang pergi udah di tangan.. :D

[Cerpen] Satu Maaf untuk Purnama

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Bukan sekali ataupun dua kali, ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Sayangnya, kejadian itu terjadi tepat di waktu pergantian hari, ketika aku memeluk kenyaman dan meninggalkan semua lelahku.

Pagi harinya, aku tidak sempat menghubungi kembali nomor itu. Kesibukan ibu kota sudah berteriak padaku, apalagi dengan kondisi aku sudah terlambat satu jam untuk ke kantor. Jangan nomor yang tidak dikenal itu, perutku yang meraung-raung pun aku hiraukan. Jelas saja, karena singa yang di kantor itu mengaumnya lebih keras daripada perutku.

May 27, 2014

[Cerpen] Too much Rachel!

Senin, jam 8 malam waktu setempat

"Kamu dimana?"

Seberapa sering aku ingin mengirimkan pesan ini. Seberapa sering kali aku menghapus layar ponselku dan batal mengirim pesan itu.

Kamu si gadis aneh yang sudah menghiraukanku selama satu tahun ini. Kamu dimana! Di negara bagian mana? 

Kau hanya mengatakan kalau kau ingin pergi keluar negri. Tidak memberitahukan ke mana dan berapa lama. Aku sakit, sakit karena tidak bisa bahagia. Semua kesibukan ini hanya bisa mengalihkan pikiranku beberapa saat, tapi ketika aku terhenti dari segala kesibukan ini maka kenanganmulah yang muncul.

Wajah bahagiamu setiap kali kau melihatku. Senyummu setiap kali aku menyentuhmu. Caramu memainkan rambut ikalmu, caramu menekukkan mulut setiap kali aku menggodamu.

Wanita yang setiap kali aku marahi, hanya akan tersenyum dan tidak pernah takut dengan segala amarahku, karena dia hanya takut kalau aku memecatnya. Si wanita miskin yang selalu merapikan meja kerjaku, si wanita yang berbeda 180 derajat dari model-model yang bekerja di perusahaanku, si wanita yang tidak tahu apa bedanya eye liner dengan maskara.

Wanita miskin yang akhirnya berhasil menggumpulkan uang untuk keliling dunia. Mengejar mimpi masa kecilnya. Kau dimana, wanitaku?

Sep 24, 2013

[Cerpen]Gegara Chicken Soup



Ita,sahabatku, menghadiahkan buku Chicken Soup for the Sister’s Soul sebagai hadiah ulang tahunku yang ketujuh belas. Agak menggelikan rasanya menerima buku ini. Mengingat aku hanya memiliki satu saudara perempuan dan anak itu masih berusia empat atau lima tahun. Aku tidak pernah tahu dan tidak berniat mencari tahu kapan anak itu lahir.
Ingin rasanya aku melempar buku itu ke tong sampah karena bagiku, buku itu tidak ada gunanya. Dia itu bukan saudaraku. Tapi bukan Ita namanya kalau tidak bisa memaksaku. “I am your sister too, dear.” Begitulah ultimatum Ita saat aku masih membiarkan buku itu menumpuk di rak bukuku tanpa kusentuh. Ya, bagiku Ita itu bukan hanya sahabat, tapi dia adalah saudara perempuanku.
Memiliki saudara perempuan itu bagai mempunyai sahabat yang  tak mungkin kita singkirkan. Kita tahu, apa pun yang kita lakukan mereka akan selalu mendampingi. – AMY LI
Aku memang setuju dengan kutipan di buku itu, hanya kalau saudara perempuanku itu adalah Ita. Tapi sayangnya tidak. Aku dan adikku itu memiliki satu kromosom X yang sama, sayangnya hanya satu; mungkin kalau kedua kromosom kami sama, aku pasti akan menyukainya.

Sep 10, 2012

Manado, I'm in Love

Sabtuku kemarin menyenangkan. Aku bahagia. Bahagia. Dan Bahagia. Rasanya melayang tapi tidak terbang, rasanya manis tapi tidak ada gula. Aku juga bingung mendefinisikan bahagia ini. Em.. aku umpamakan seperti dapat boneka teddy bear yang tingginya setengah badanku dan lebarnya dua kali tubuhku,  yang sudah kamu minta dari tiga tahun lalu.

Tapi kalau di pikir-pikir lagi, itu juga belum cukup menggambarkan kebahagiaanku. Intinya aku bahagia karena baru punya pacar baru. Hahahahaha.

Mau bilang aku norak? Silahkan...

Aku yakin begitu aku ganti status relationship di facebook, pasti bakalan jadi trending topik di twitter. Secara aku udah jomble sejak tiga tahun lalu dan yang paling parah adalah aku ditinggal nikah sama mantan aku. Parah.

Pagi ini aku disambut dengan bahagia lain. Melihat sosok pria yang belum mandi dan masih dengan mata setengah tertutup memang menghasilkan kebahagiaan tersendiri.

"Pagi sayang.." Raffael langsung menyapaku begitu aku membuka pintu apartementku. Wajahnya langsung mendekat ke wajahku yang langsung aku halangi dengan menutup mulutnya.

"Belom mandi, nggak boleh main sosor-sosor!" Aku menggoyangkan telunjukku di depan wajahnya. Wajah pria itu langsung berubah masam untuk sedetik kemudian senyum liciknya tersungging.

"Yang udah mandi, boleh kok sosor-sosor di sini." Dia menepuk-nepuk pipi sebelah kanannya. "Sekali aja, please.."

Aku tersenyum dan mendekatkan bibirku ke pipinya, tapi dengan secepat kilat Raffael memutar kepalanya dan bibirku kini mendarat tepat di atas bibirnya.

"Tetep maniskan, walau belum mandi?" Senyum Raffael ku balas dengan tawa manja. Aku bersyukur untuk pagi hari ini.

***

Jul 30, 2012

Hanya Mantan Bos! (3)

Jumat malam dan aku menutup hari ini dengan membalas BBM dari Rafe.

Rafe:
Besok aku jemput jam 6. BRD-nya jangan lupa!

Me:
Iya.

Sabtu Pagi.

Aku merasa kepalaku seperti mendengar bunyi drum. Dug.. dug.. dug.. Bahkan bunyi itu disertai dengan lagu Band Aid-nya Pixxie Lott. Dua menit kemudian lagu dan bunyi drum akhirnya berhenti, tanganku menarik selimut karna aku merasa udara pagi semakin dingin.

Aku masih belum sadarkan diri, tapi begitu aku mendengar bunyi alaram kebakaran dari luar apartemen aku langsung duduk tegak dan berlari. Aku bahkan tidak sempat mengecek ulang apakah aku berpakaian dengan benar, aku hanya meraih ponsel dan langsung berlari. Begitu aku membuka pintu, aku merasa wajahku menabrak tembok.

"Baru bangun kalau dengar alarm kebakaran, huh?"

Aku mengangkat kepalaku dan melihat makhluk terakhir yang tidak ingin kutemui pagi ini. Aku sempat nge-blank beberapa detik, sampai aku sadar kalau mata pria kasar itu dari tadi cuma ngeliat ke arah.. Sial.

Aku langsung berbalik dan berlari ke kamar. Biasanya aku selalu tidur dengan t-shirt dan celana pendek, hanya saja kemarin malam rasanya lebih gerah dari biasanya, aku sengaja tidur hanya dengan tank top dan celana tidur yang super pendek. Tank top itu kelonggaran karena sudah termakan waktu, tapi karena alasan kenyamanan aku masih sering memakainya. Bagian yang paling longgal adalah bagian depannya, aku yakin si 'galak' itu pasti sudah melihat sesuatu yang tidak semestinya dia lihat, apalagi tadi malam aku sengaja melepas bra. Double sial.

"Sekalian ganti pakaian training, kita mau olahraga." Raffael berteriak dari balik pintu kamarku, aku bisa mendengar nada bercanda di suara itu. Aku yakin dia pasti sangat bahagia karna sudah berhasil mengerjaiku. Brengsek.

Jul 23, 2012

Hanya Mantan Bos! (2)

Aku rasa ini sudah keseratus kalinya aku melirik jam tanganku atau jam yang ada di dinding ruang rapat ini. Jarum pendek sudah nyaris menyentuh angka empat dan jarum panjangnya ada di angka sepuluh. Aku yakin pria itu pasti sudah ada di ruangan lain bersama asistenku, semoga saja asistenku baik-baik saja. Aku sudah berjanji untuk meeting dengan Raffael jam tiga sore ini, tapi ternyata meeting ini berjalan lebih lama dari prediksiku. Info terbaru dari hasil BBM-an dengan asistenku itu, Raffael mulai mengeluarkan cakarnya. 

Aku tahu pasti sekarang pria itu sudah hampir mau meledak, pertama karena aku terlambat dan harus meminta asistenku untuk menggantikanku. Semoga saja anak buahku itu mau memaafkan tindakanku yang melemparnya ke kandang macan.
Bu, tamunya cakep.
 

Jul 21, 2012

Hanya Mantan Bos!

Here I am!
Berdiri di dalam lift yang menuju lantai lima, menuju neraka. Yup, begitulah dulu aku menyebut tempat ini. Dua tahun yang lalu aku bekerja di kantor konsultan IT yang ada di lantai lima gedung ini. Selama bekerja di kantor ini, aku selalu merasa tertekan. Beban pekerjaan di sini terlalu berat untukku yang baru saja memasuki dunia kerja pada saat itu.
Bayangkan saja jika saat kau harus tidur nyenyak, justru  tulisan  @Override,  public class, return queryForObject, dan sejumlah query SQL-lah yang menghantui malammu. Apa menurut kalian kehidupan seperti itu sehat?
Jelas tidak, tapi jika perusahaan itu sudah memegang tanda tanganmu diatas materai dan dengan ijazahmu yang tersimpan rapi di rak penyimpanan mereka, mau tidak mau kamu harus menuruti isi surat perjanjian kerjamu bukan?
Ya setidaknya itulah yang aku lakukan selama satu tahun diperusahaan itu. Bekerja sebagai developer Java, mungkin kalian akan lebih mengenalku dengan sebutan programmer. Untuk tulisan Java, itu tidak salah ketik kok. Java itu salah satu bahasa pemrogramman dan salah satu yang paling sulit dibandingkan bahasa lain seperti .Net atau Visual Basic. Menurutku.
“Gia?”
“Pak Guruh, apa kabar pak?” Aku mengulurkan tanganku pada pria yang berusia awal lima puluh itu.
Aku sudah ada di salah satu gazebo di kantor ini. Kantor ini memiliki empat gazebo yang dimanfaatkan sebagai ruang meeting atau ruang menjamu tamu. Hampir semua atasan di kantor ini tidak memiliki ruangan pribadi, hal ini disengaja agar tidak tercipta gap antara atasan dan bawahan.
Aku selalu merasa nyaman dengan suasana desa yang ditonjolkan oleh interior kantor ini. Di sini tidak ada kubikel, yang ada hanya deretan komputer diatas meja tanpa kaki yang tertempel di dinding. Di tengah ruangan dibangun dinding pembatas sepinggang untuk memisahkan proyek A dengan proyek B. Deru komputer dan server berhasil mengalahakan bunyi air mancur yang ada di beberapa sudut ruangan.
Hanya orang-orang HRD lah menempati ruangan tertutup, karena mereka tidak memerlukan logika rumit untuk memilih pegawai yang berkualitas. Tidak seperti para developer yang harus memeras otak untuk menghasilkan aplikasi yang sesuai dengan kemauan user yang tidak pernah puas. Ya seperti aku dulu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Developer adalah masa laluku dan aku tidak pernah berkeinginan untuk kembali ke masa itu. Never.
“Sehat, Gi. Kamu sendiri? Saya dengar kamu kemarin kuliah di Singapore ya? Ngambil apa? Kerja di mana sekarang?” Pria itu menyambut uluran tangganku sambil terus bertanya.
“NTU, ngambil Information System, Pak.” Akupun  lalu menyebutkan nama bank tempat aku bekerja sekarang.
“Oh, jadi kamu yang akan jadi BA untuk project kerja sama ini?”
Ya, aku datang ke tempat kerjaku ini bukan untuk bernostalgia, tapi karena bank tempat aku kerja membutuhkan jasa konsultan IT ini.
“Begitulah, Pak. Oya, bagaimana kabar proyek kita kemarin, Pak?”
“Ah.. gara-gara kamu keluar, proyek itu jadi terbengkalai. Raffael aja sampai sakit karna mikirin kamu yang resign, jadi dia gak punya penyemangat lagi. Haha.”
“Ah, Bapak bisa aja. Pak Raffael kecapekan kali, Pak. Bukan karna saya lah, lagian masih banyak developer lain kemarin. Haha..”
Dasar atasan tukang gosip, seenaknya saja menyalahkanku atas kegagalan proyeknya. Lagian apa juga hubungannya Raffael denganku, jelas-jelas aku ini adalah bawahan yang paling dibencinya. Aku yakin sekali dia pasti sangat bahagia saat mengetahui rencana resign-ku, jadi dia tidak perlu menghadapi bawahan yang keras kepala sepertiku.
Sewaktu bekerja dulu, aku selalu menjadi bulan-bulanan Raffael. Dia selalu memarahiku karena perkerjaan yang kulakukan tidak pernah sesuai dengan keinginnanya.
“Tapi dengan tampilan ini lebih bagus, Pak.” Aku pernah berkeras dengan design halaman login web yang akan kami bangun.
“Apa kamu kira semua user itu pengguna facebook yang tahu bahwa tombol login itu ada di pojok kanan atas?”  
Pertengkaran ini masih level kecil, untuk level menengah biasanya kami meributkan masalah logika matematika yang digunakan untuk membangun aplikasi yang ditujukan untuk transaksi perbankkan. Level paling tinggi dan paling sering terjadi adalah keterlambatanku.
“Saya kan pulangnya jam sembilan malam, Pak. Wajar saja kalau saya masuk jam sebelas seperti sekarang, lagian saya juga akan pulang malam juga.”
“Saya bahkan pulang jam dua belas malam, Gianina. Dan pagi ini saya datang sebelum setengah sembilan, tidak terlambat semenitpun dari jam masuk kantor kita.”
“Kenapa hanya saya yang bapak tegur? Bagaimana dengan anggota tim yang lain?”
“Keterlambatan mereka masih bisa diterima, Gianina.” Saat itu aku hanya bisa mendengus kesal, untungnya dia menegurku di jam makan siang saat tidak ada orang di sekitar mejanya.
“Gianina?”
Pria itu memang selalu memanggil nama lengkapku, tidak seperti atasan yang lainnya yang memanggilku dengan Gia. Eh, sepertinya aku baru mendengar suara bariton pria itu, tapi sepertinya aku salah dengar.
“Raffael.” Aku mendengar mantan bosku itu menyebutkan nama pria itu dan mengikuti arah pandangnya.
Nafasku seketika itu juga terhenti, kini aku melihat pria setinggi 180 cm itu berdiri di dalam gazebo yang tingginya tidak jauh berbeda dengannya. Aku bisa melihat kepalanya yang nyaris menyentuh atap gazebo ini.
“Raffael, lihat kejutan apa yang kita dapat di sini?”
“Gianina tidak sedang melamar lagi di kantor ini kan, Pak?” Apa kupingku sedang bermasalah, sehingga aku seperti mendengar kemarahan di nada suara pria yang sekarang membiarkan 5 o'clock shadow-nya masih ada di jam kantor begini. Apa dia benar-benar tidak ingin melihatku dikantor ini lagi?
“Haha.. Itu memang harapan saya, Raf. Tapi sayangnya dia sudah memiliki pekerjaan yang lebih nyaman.”
Aku hanya tersenyum kearah Pak Guruh, sementara itu aku mendengar suara desahan lega dari Raffael. Aku memang benar, pria itu tidak pernah menyukai bekerja bersamaku, semoga saja proyek kali ini pria ini tidak akan ikut.
“Gia, untuk proyek kerjasama kali ini, saya menyerahkan semua tanggung jawab itu pada Raffael.” Pria yang mulai beruban itu lalu melirik kearah pria yang telah duduk di depanku. “Raffael, saya harap kamu bisa memperlakukan Gia lebih baik kali ini. Dia client kita.” Pak Guruh langsung keluar dari gazebo dan meninggalkan kami yang saling menatap.
Aku tidak tahu sudah berapa lama kami hanya saling pandang, tapi yang pasti saat OB mengantarkan minuman barulah kami mulai mencari-cari sesuatu dibalik berkas-berkas yang kami bawa.
“Berarti sekarang kamu sudah bukan programmer lagi?” Pria itu berdeham untuk membersihkan ternggorokannya.
“B-bukan, Pak.” Sial. Seharusnya aku tidak perlu segugup ini, dia nggak bakalan marah-marak ke aku lagi, sekarang ini aku client-nya. Dia bisa kehilangan kesempatan baik, kalau dia tidak memperlakukan aku dengan baik.
“Bagaimana kuliah kamu kemarin, cumlaude?” Pria itu sepertinya mulai bisa mengendalikan dirinya, dia menyandarkan punggungnya ke kursinya seperti seorang bos dan aku terlihat seperti seperti pelamar kerja.
“Sayangnya tidak, Pak.”
Aku hanya tersenyum simpul padanya, aku sedang tidak ingin membicarakan urusan pribadi dengan pria ini. Aku mulai mengajukan pertanyaan seputar proyek yang akan kami kerjakan. Walaupun sedikit kecewa karna harus bekerjasama dengan pria ini, tapi sejujurnya aku sedikit merindukan masa lalu kami. Sedikit rindu dengan rindu itu berbeda kan?
“Sejujurnya, saya belum paham sepenuhnya dengan proses bisnis perusahaan kamu, tapi saya sangat berharap kamu mau meluangkan waktu lebih untuk menjelaskan secara detail pada saya.”
“Baiklah saya akan mengirimkan detailnya ke email Anda, Pak.”
“Tidak.. tidak.. Saya sedikit kesulitan untuk memahami proses bisnis secara tulisan, saya lebih cepat mengerti bila dijelaskan secara lisan. Tapi penjelasan kamu tadi masih belum bisa membuat saya paham sepenuhnya. Oh ya, tolong jangan panggil saya Pak, Raffael saja. Toh, sekarang kamu bukan bawahan saya lagi kan?”
Aku hanya mengangguk, bukan karna setuju, hanya saja aku tidak berani terlalu lama melihat senyum di wajah pria itu. Raffael jarang sekali tersenyum padaku dulu, dia lebih sering marah bila berada diradius sedekat ini denganku. Padahal aku sering mencuri pandang saat pria itu tersenyum pada atasan kami atau rekan kerjanya yang lain. Pria ini memiliki senyuman yang bisa membuat banyak hati wanita meleleh. Dengan deretan giginya yang putih dan matanya yang semakin menyipit bila dia sedang tersenyum.
“Kalau begitu, apa kau punya waktu besok siang untuk menjelaskannya pada saya?”
“Em.. Besok saya ada meeting sampai jam dua belas, Pak.. Eh maksud saya Raffael.”
“Rafe saja, jika kamu tidak keberatan.”
“Ya, Rafe.” Rafe terdengar aneh tapi sekaligus lucu di telingaku. “Tapi sehabis makan siang saya harus kembali meeting.”
“Bagaimana kalau sewaktu makan siang? Kebetulan kantor kita tidak terlalu jauh, saya bisa menjemput kamu dan kita makan siang diluar, bagaimana?”
Aku punya firasat, pria ini sedang ingin mengajakku keluar untuk alasan pribadi bukan untuk urusan kantor. Dari pengalamanku bekerja dengannya, dia selalu bisa memahami proses bisnis secara tulisan, dia tidak pernah meminta client untuk mejelaskan ulang tentang proses bisnis.
“Em, tapi saya bisa meluangkan waktu sekitar jam tiga sore. Saya rasa lebih baik kita membicarakannya di ruangan saya ataupun di sini, bagaimana?” Aku bisa melihat raut kecewa diwajah Rafe dan itu mengejutkanku.
“Baiklah besok sore saya akan datang ke kantor kamu.”
Hari ini banyak kejutan yang aku terima dari pria kasar ini, termasuk paksaannya untuk mengantarku ke loby dan bukan hanya itu, dia bahkan membukakan pintu mobil untukku.
“Hati-hati bawa mobilnya, Pak.” Dia juga berani memerintah supirku seperti seorang suami. Suami. Ya Tuhan, tidak pernah terbayangkan aku akan memiliki suami seperti dia. Suami yang galak, yang akan mengomentari semua kesalahanmu, tidak pernah memujimu, dan yang selalu membuatmu kesal.
Tapi harus aku akui, hari ini dia tidak mengesalkan. Dia bertingkah cukup manis hari ini. Ah, Raffael, mantan bosku tersayang. Apa kau pernah tahu selama dua tahun di Singapore aku selalu merindukanmu?
Sial. Aku tidak boleh memikirkan pria kasar itu. Tidak, dia hanya mantan bosku. Hanya itu.


Jun 20, 2012

[FlashFiction] Genggam Tanganku


Aku masih ingat hari itu, hari kami dipertemukan. Aku dan Vika, kami tergabung dalam sebuah komunitas sosial yang tersebar di Indonesia. Suatu waktu, kira-kira tiga tahun yang lalu, komunitas kami mengadakan acara keakraban dengan mengundang seluruh anggotanya. Tapi sangat disayangkan jumlahnya tidak sebanyak yang diinginkan. Awalnya panitia mengharapkan setidaknya 100 orang yang ikut, tapi ternyata hanya ada 50 orang, termasuk panitia. Walapun begitu suasana akrab di acara itu tidak berkurang.

Acara diawali dengan acara saling kenal, masing-masing anggota berdiri dan memperkenalkan diri mereka. Saat itu aku terlambat, karna perut ini tidak bisa diajak bersahabat, akhirnya aku bergabung dengan rombongan setelah setengah dari anggota sudah memperkenalkan dirinya.

"Perkenalkan nama saya Adri Ignatius, usia tujuh belas.."

"Tujuh satu!" teman sebelahku berteriak dan diikuti riuh sorakan dari yang lainnya. Jelas saja, usiaku bukan tujuh belas ataupun tujuh saat itu, tapi dua puluh tiga. Setelah tawa reda aku pun melanjutkan perkenalanku.

Jun 19, 2012

[FlashFiction] Ramai versi si Bego


Kali ini Malioboro, setelah kemarin Borobudur, besok dia bakalan ngirim foto apa lagi?

Apa dia nggak tau kalau yang ingin aku lihat itu dia? Aku nggak peduli sama semua keindahan tempat-tempat itu, apalagi foto ini. Foto apa ini? Isinya hanya deretan toko sama orang-orang yang lagi berjalan berdua, sama seorang bapak di vespa. Apa asiknya foto begini?

Harusnya dia itu berfoto di depan tulisan malioboro itu, dia dengan kamera kebanggaannya itu. Kalau nggak bisa foto diri sendiri, ya udah minta tolong ama siapa gitu. Aku itu ingin lihat wajahnya, aku mau tahu seperti apa dia sekarang. Apakah dia semakin hitam karna selalu berkeliaran di terik matahari, atau justru otot-otot lengannya semakin terbentuk karna membawa benda-benda berat setiap hari. 

Ahhh…  Begoooo… Kapan sih kamu bisa ngerti isi hatiku ini? Aku mau ikut kemanapun kamu pergi, mau itu naik gunung kek, nyebur ke laut, bahkan masuk ke dalam bumi lapis ke tujuhpun aku mau ikut sama kamu.


“Dia ngirim foto lagi?” Aku hanya mengangguk menjawab Laras. Aku senang melihat Laras hari ini, kemarin malam dia udah ngabisin satu box tissuku hanya untuk nangisin pria nggak penting itu.Sekarang dia udah ketawa-tiwi bareng si Fian. Kalau udah ditanya udah jadian atau belum jawabannya cuma ‘Ada dehhh…’.


Jun 18, 2012

[FlashFiction] Pangandaran, I'm fall into you

 


Delapan jam perjalanan Bandung-Pangandaran dengan kondisi jalan yang bikin pusing, tapi tetap mata ini nggak bisa diajak tidur. Hal ini dikarenakan otakku yang masih mikirin pacarku, ups. Maksudnya mantan pacarku yang baru 24 jam lalu mutusin aku demi wanita yang usianya 15 tahun lebih tua dari aku! Sial!
Dan yang lebih sial lagi, aku terperangkap di Avanza hitam, duduk di bangku paling belakang yang memiliki tingkat guncangan yang lebih hebat dari yang posisi lainnya, dan mataku sepanjang perjalanan ini nggak bisa nggak melihat mata sang supir!

Okai, aku sejujurnya bingung, mata siapa yang lebih indah? Mata pria yang masih aku cintai (tidak mau ngakui tapi masih cinta) itu atau mata pria yang duduknya hanya semeter dari aku. Sejujurnya aku penasaran dengan warna matanya, tapi sudahlah, namanya saja aku tidak tahu.

Oh ya kisah aku bisa terperangkap di mobil yang sebagian penumpangnya tidak ada di daftar temanku adalah karna sahabatku Vika yang geram melihatku nangis semalam suntuk. Lagian setelah aku pikir-pikir kenapa tidak? Liburan dadakan, lumayankan dapat cowok baru, ups. maksudnya kenalan baru.

Begitu turun dari mobil, aku langsung berlari ke pinggir pantai. Pemandangan sunrise ini nggak boleh di tinggalkan, mamen! Aku merentangkan kedua tanganku, wangi asin dari air laut langsung membuatku rindu, rindu akan mantanku. Halah, ngapain juga mikirin dia. Mari kita ganti topik dengan warna langitnya, warnanya belum bersih, masih agak-agak gelap, seperti hatiku yang masih dihiasi kenangan si mantan. Sabar, nanti juga bakalan biru bersih kan?

Jun 3, 2012

[Cerpen] Like Mother, Like Daughter


Kukecup kening putraku setelah aku mendengar dengkur halusnya. Dia sangat mirip dengan papanya, begitu menyentuh bantal, langsung pulas. Berbeda dengan putriku, si sulung ini hanya akan tertidur setelah membaca sesuatu. Itulah sebabnya dingding kamarnya didominasi oleh rak buku yang tingginya hingga ke langit-langit.Aku keluar dari kamar putraku dan melangkah menuju ruang tamu yang ada di lantai bawah, aku menyalakan TV sambil menunggu suamiku pulang. Hari ini dia ada meeting dengan kliennya hingga malam. Sedangka putri kami sedang menginap di rumah sahabatnya, rencananya mereka akan mengadakan pijamas party. Melihat putriku yang semakin dewasa, aku jadi semakin merasa tua. Putriku akan berulang tahun yang ketujuh belas tahun depan, tapi diusia seperti ini, aku belum pernah melihatnya jalan bersama seorang pria. Sejujurnya aku sedikit khawatir dengannya. Walaupun aku dan papanya tidak pernah melarangnya untuk berhubungan dengan pria manapun, tapi entah mengapa sampai sekarang dia belum pernah membawa seorang laki-laki ke rumah ini. Jam dingding sudah menunjukkan angka sepuluh, sedari tadi aku masih sibuk memilih acara TV yang mau ditonton, tapi belum menemukannya. Akhirnya aku mematikan TV dan ingin berbaring di kamar saja. Begitu meletakkan remote TV, aku mendengar pintu masuk terbuka dengan kasar. 
"Masuk!" Aku mendengar suara suamiku berteriak. Selama pernikahanku, aku belum pernah mendapati suamiku semarah ini. Dia menarik kasar putri kami melawati pintu rumah.
"Astaga... Kakak?" 

May 15, 2012

[Cerpen] Kisses don't lie



Kisses don't No they don't Never don't lie You can run if you want but you cant hide Telling you its the truth don't you ask why~ Rihanna - Kisses don't lie ~

Rasanya seperti coklat, begitu lidahku menyentuhnya aku akan memejamkan mataku untuk menikmatinya, setiap rasa manis yang meleleh di lidahku. Aku biarkan rasa manis itu berlama-lama ada di mulutku. Hingga saat dia menarik bibirnya, aku ingin bibir itu kembali lagi. Memberikanku rasa manis itu. Memberikanku kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan.

Mata nya menatapku, mencoba mencari sesuatu. Tidak. Aku tidak akan pernah memberikan jawaban itu. Biarlah hanya aku dan hati ini yang tahu faktanya.
"Say it.." 
"No!" aku mencoba berteriak, padahal suaraku mungkin terdengar seperti desahan. 
 "Liar!" 
Dia memberikan coklat lagi, tapi kali ini rasanya bercampur keju. Rasanya lebih nikmat, apalagi kini tangannya tidak hanya diam. Dia mulai menyentuhku. Di tempat favoritku, dimana aku selalu merasa dimanja dengan jari-jari panjang itu.
Kini tubuhku, bersandar sepenuhnya di dingding dingin apartemennya. Tapi dinginnya dinding itu tidak bisa meredakan panas yang kini mulai menjalar di tubuhku. Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Besok adalah hari pernikahanku. Aku tidak boleh ada di sini lebih lama lagi.
"Stop!" Aku berteriak, dan kali ini sungguh-sungguh berteriak. Aku mendorongnya sejauh mungkin dari tubuhku, walaupun jauhnya hanya sepanjang tanganku. Aku mencoba mengatuh nafasku yang sudah seperti orang yang habis lari.
"I must go! Urusan kita dah selesai Dion.. " Aku melangkah menjauhinya menuju pintu apartemen itu. Aku memaksa otakku untuk fokus ke pintu, sementara hatiku masih ingin menuju kasur lembut pria itu. 
Baru melangkah beberapa langkah, tanganku ditariknya dan dilemparkannya tubuhku ke atas kasur. Dalam hati aku merasa nyaman, tapi sekali lagi kesadaran bahwa besok aku akan jadi istri orang lain harus tetap aku pertahankan.

May 3, 2012

#12 For Mr.X

Dear Mr X...

How are you today??
Aku mau menceritakan sesuatu padamu..

Aku paling seneng kalau dipeluk lelaki, dan aku paling suka dengan posisi seperti gambar ini.



Dan dari semua pria yang pernah hampir di hidupku, cuma satu orang yang bisa bikin aku nyaman kalau di peluk seperti itu. Kau tahu dia siapa?

Dia ada lah pria yang tiba-tiba duduk di sebelahku dan langsung memelukku dengan cara itu di pesawat sewaktu aku mau ke Paris. Jujur waktu itu aku ngak tahu apakah aku sedang bermimpi atau berhayal soalnya aku sangat kenal dengan bau itu, bau parfum dan bau maskulinnya unik. Juga kokohnya lengan itu, dan hangatnya dada itu.

May 2, 2012

#11 Dear my Lawyer

Dear tuan pengacara terhormat!

Kau itu adalah pengacara pribadiku, bukan penasehat pernikahanku, kau harus mengingat hal itu sobat!

Kau tau betapa terkejutnya aku siang ini?
Begitu aku sampai di ruang tunggu bandara, aku melihat wanita itu, masih dengan hobby nya dulu, terkadang aku heran sama dia. Tingginya udah 165, tapi kok hobby pake heals sih? untung lah tinggiku 180, kalau tidak pasti bisa malu jalan sama wanita itu.

Ahh.. sudah lima tahun lebih, aku dan dia tidak pernah lagi jalan bareng. Rasanya sangat nyaman setiap kali ada dia di sampingku. Di sebelah kiriku, di pundakku lah dia sering menyandarkan kepala dan memejamkan matanya. Di dada kiriku inilah dia selalu kudekap.

Apakah dia masih memakai parfum yang sama? Wangi lavender memang paling cocok untuknya, 

Apr 20, 2012

#10 'takemehere'


Hi dear...

Remember this picture??

Ini foto yang pernah aku emailin ke kamu sehari sebelum hari pernikahan kita. Dan kau pun berjanji akan mengajak aku ke tempat itu. Waktu itu kau bertanya tentang tempat bulan madu, dan berhubung karena pernikahan kita yang sederharan dan hanya di persiapkan dalam waktu singkat, maka banyak hal-hal yang sepertinya kita lupakan, termasuk tempat bulan madu. Dan ketika kau bertanya, dimana kita akan menghabiskan masa-masa itu, maka Paris lah jawabanku. 


Senyuman dan karet behel mu yang warna pink itu tidak akan pernah aku lupakan sayang. Mungkin, saat-saat bahagia di hidupku adalah saat melihatmu tersenyum. Biarlah aku menyimpan senyum mu itu di hatiku, boleh kan? Mungkin hanya kenangan itu yang kumiliki darimu, maka biarlah aku menyimpannya dan membawanya hingga ke akhir hidupku. 

Sayang, aku tahu janjimu ngak akan pernah kau tepati, tapi tak apa, aku terlalu menyukai Paris, makanya sekarang aku lagi menyusun rencana perjalananku mengunjungi negri itu. Kota cinta, aku harap aku menemukan bahagiaku disana. Doakan aku sayang, agar aku juga menemukan kebahagiaan seperti yang kau rasakan sekarang. Kau jangan kuatir, aku tidak bermaksud melupakanmu, aku hanya ingin bahagia sayang..

Bahagiaku memang bersamamu, tapi aku juga tidak ingin menyianyikan sisa umurku. Setelah perceraian kita selesai, aku tidak mungkin hidup menjanda seumur hidupku kan? Kecuali setelah hakim ketuk palu atas perceraian kita, di saat yang bersama langit memanggilku bersamanya, maka memang aku menghabiskan sisa hidupku sebagai jandamu... hahaha

#9 The other part of my life: Our bestfriends





ms_stilletto: hon... are you busy??
me: yes, suami gue dah gak sabar nunggu gw di kasur... :))
me: what's up dear??
ms_stilletto: I need your help.. :)
me: come to Jakarta babe.. I will help you..
ms_stilletto: yaa... gw juga mau ke sana babe, tapi kaki gw belum sembuh total..
ms_stilletto: gw lagi butuh jasa lo... bisa kan?

me: me?? jasa gw gimana maksod lo nek?
me: wait.. wait.. lo mau gw jadi pengacara lo??

Feb 22, 2012

#8: Saat surat berubah jadi suara



"Hallo.."

"..." Suara itu.


"Hallo Tony.." 

"Ya.."

"Hei.. Apa kabar kamu?"

"Baik." buruk, aku butuh kamu!

"Long time no see. How was your life?" apakah kamu bahagia?

"Fine, wonderful!" hidupku berantakan tanpa kamu.

Feb 15, 2012

#7: Sorry..



Dear my hubby..

Akhirnya kau sudah mengambil keputusan ya?

Terimakasih, akhirnya kau melepaskanku, doakan aku di sini ya, agar aku bisa menemukan bahagia lain. Walaupun bagiku, kau satu-satu orang yang bisa membuatku merasakan bahagia dan sakit secara bersamaan. Kau tahu aku mengartikan cinta sebagai apa? 


Cinta tak selamanya tawa dan juga tangis, dia adalah warna yang memberikan arti untuk hidup ini.

Sayang, kini aku sudah bisa berjalan di atas kedua kakiku lagi, sudah bisa menggunakan stiletto dan sepatu lain dengan tinggi heels yang beragam. Terimakasih buat Mr.X yang sudah mau membantuku.

Sayang apakah kau mengenal Mr.X?
Dia adalah orang yang sudah membuatku lumpuh kemarin, tapi dia bertanggung jawab kok. Dia membiayai seluruh pengobatan dan kehidupan aku selama aku sakit. Bahkan yang paling mengejutkanku adalah dia membelanjai aku. Bukan hanya keperluan rumah tangga, tapi juga fashion. 

Dia membelikan aku, semua hal yang aku suka. Tidak sayang, aku tidak pernah memintanya, he just sent it to me.

Yang paling mengejutkan aku adalah dia juga mengirimkan pakaian dalam untukku. Kau tahu kan aku agak sensitif dengan hal ini, aku sering iritasi jika menggunakan bahan yang tidak cocok dengan ku. Namun yang dia kirim adalah pakaian dalam yang biasa aku pakai.

Apakah dia itu titisanmu? Dia tahu makanan kesukaanku, dia tahu sepatu dan warna favoriteku, dia bahkan tahu ukuranku. Dia tahu hal-hal yang kau ketahui sayang. Apakau kau Mr.X itu?

Kalau memang benar itu kamu, aku mohon jangan bersembunyi lagi. Aku merindukanmu, setidaknya aku ingin melihatmu lagi.

Ahh iya, aku rasa kau sudah memiliki kekasih lain ya? Atau calon istri, makanya kau hanya mengirimkan surat cerai melalui pengacaramu?

Aku mohon, bicaralah padaku, ijinkan aku tahu apakah kau masih marah dan kecewa padaku?
Aku terima semua hukuman ini, termasuk perceraian ini, tapi aku ingin ini berakhir dengan baik. Aku tidak ingin kedepannya kalau kita bertemu, kita seperti orang yang tidak pernah saling mengenal.

Suamiku, aku tahu aku memang bersalah padamu juga pada langit dan aku tahu aku pasti akan mendapatkan hukumanku. Tapi kalau kau memang bahagia dengan keputusan ini, aku terima.

Love you,


tin-tin


Feb 14, 2012

#6: Inginku


Sayang...

Maafkan aku, mungkin hanya ini yang bisa aku berikan sebagai penebus rasa bersalahku. Aku akan membebaskanmu dari ikatan kita. Aku tau kau pasti merasa tidak bebas dengan ikatan pernikahan ini kan?

Aku akan menceraikanmu, tapi setelah kau sudah bisa berjalan pastinya. Aku juga tidak mungkin membiarkanmu berstatus janda dan lumpuh kan?

Maafkan aku sayang, aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu, aku tahu kamu pasti sangat sedihkan?
Sejujurnya aku sangat ingin merawatmu, tapi aku yakin, kalau kau melihat aku, kau pasti akan sangat marah kan?

Karena aku sudah membuatmu menggunakan kursi roda itu dan kau harus berpisah dengan sepatu kesayanganmu kan?

Sayang, aku hanya bisa memberikan perawat pribadi untukmu, aku tidak bisa merawatmu secara langsung. Tapi aku janji aku akan melakukan apapun demi kesembuhanmu.

Sayang, kalau bisa aku ingin bertukar tempat dengan mu, aku tidak tega melihat kau yang biasanya selalu lincah dan riang, kini hanya bisa duduk di kursi roda itu.

Aku ingin memelukmu, dan membiarkan mu menangis di bahuku, bukannya menangis sendiri di atas kursi rodamu. Aku ingin menghiburmu, seperti dulu lagi. Aku ingin menjagamu dan menunjukkan padamu betapa aku masih sangat mencintaimu.

Sayang, harusnya aku tidak meninggalkanmu, harusnya aku bisa terima semua kekuranganmu, harusnya aku masih ada di sisimu untuk menemanimu.

Kau memang punya salah padaku, tapi apa yang aku lakukan padamu tidak hanya melukai hatimu tapi juga melukai diriku.

Aku sakit, sangat sakit. Banyak hal yang ku lakukan untuk melupakanmu, tapi akhirnya aku lah yang sakit. Dan kau sendiri, apa yang telah kau lakukan selama ini?

Apakah kau masih sering keluar dengan laki-laki lain?
Aku rasa tidak, selama kita pacaran, aku melihatmu sebagai wanita yang setia, aku bisa lihat cinta di matamu, aku bisa lihat bagaimana caramu memujaku lewat matamu. 

Harusnya aku bertanya, bukannya lari kan? Bertanya mengenai kehidupan cintamu dulu, sehingga kau sudah tidak perawan lagi, bukannya memarahimu.

Ahh penyesalan ini memang tidak ada gunanya kan? Apalah arti penyesalan, jika aku tidak merubahnya? Aku akan merubahnya sayang, bersabarlah. Ketika kau sudah sembuh, aku akan menceraikanmu, agar kau bisa mencari kebahagiaanmu.

Aku sudah banyak mengecewakanmu, aku sudah tidak layak untukmu.

Walaupun sesungguhnya, aku ingin menghabiskan hidupku denganmu. Tapi aku tidak punya cukup keberanian untuk muncul di depanmu. Aku mencintaimu, jangan bersedih lagi.

Salam cium untukmu,

suamimu